Memprediksi dampak putusan The Fed

Aktivitas pialang di New York Stock Exchange saat menanti keputusan dari Federal Reserve, Kamis mendatang.
Aktivitas pialang di New York Stock Exchange saat menanti keputusan dari Federal Reserve, Kamis mendatang. | JUSTIN LANE /EPA

Pekan ini menjadi waktu yang paling dinantikan bagi dunia ekonomi. Pasalnya, The Fed akan mengumumkan keputusan terkait suku bunganya pada Kamis (18/9/2015), usai rapat dua hari yang sudah dimulai sejak hari ini.

Para pelaku pasar dan analis tentunya sedang menyiapkan strategi menyambut keputusan tersebut.

Apa yang akan terjadi jika The Fed benar akan menaikkan suku bunganya, setelah nyaris satu dekade bertahan dengan nilai yang sama?

Bloomberg.com menulis, hal yang mungkin akan berakhir "bencana" jika The Fed jadi menaikkan suku bunganya adalah ketidaksiapan pasar.

Salah satu pengamat pasar yang juga adalah Mantan Bendahara AS, Larry Summers memberi peringatan terkait kemungkinan kenaikan nilai perdagangan yang hanya akan meningkat 28 persen pada minggu ini, didasarkan pada asumsi bahwa suku bunga The Fed yang efektif akan berada di rata-rata 0,375 persen setelah lepas landas.

Bahkan, sejumlah pengamat yang optimis atas kenaikan ini juga mengakui akan adanya titik lemah yang harus diwaspadai oleh para investor.

"Ini seperti gelas yang memiliki retakan," kata Aaron Kohli, analis di BMO Capital Markets. "Memprediksi kemana saja retakan tersebut akan menyebar adalah hal yang sangat sulit dilakukan."

Yang jelas, CNBC.com menulis, apapun yang akan diumumkan The Fed pada Kamis besok akan tetap mengejutkan, namun tidak melakukan aksi apapun untuk mengatasi dampak dari keputusannya akan membuat pasar menjadi hilang kepercayaan setelah sekian lama berada dalam keadaan yang tidak pasti.

Sejarah membuktikan respons dari pasar global akan jauh lebih baik ketika The Fed membuat keputusan saat kenaikan suku bunga tersebut tidak sedang dinantikan oleh pasar.

"Jika keputusan The Fed adalah untuk memperketat kebijakan moneter, maka mereka memiliki kesempatan untuk meredakan ketidakpastian dalam perekonomian di masa depan. Hal ini mungkin baik bagi ekonomi AS, tetapi tidak untuk dunia," kata Steven Wieting, analis di Citi Private Bank.

Ini seperti gelas yang memiliki retakan. Memprediksi kemana saja retakan tersebut akan menyebar adalah hal yang sangat sulit dilakukan.

Dikutip dari marketwatch.com, berikut enam aset dan tren pasar yang diprediksi bergejolak jika The Fed jadi menaikkan suku bunganya:

1. Volatilitas

The Fed sebenarnya masih memiliki waktu untuk menunggu hingga Oktober atau Desember atau bahkan lebih lama dari itu untuk menaikkan suku bunganya, akan tetapi pasar akan menginterpretasikan itu sebagai bentuk ketidakpercayaan diri. Atau lebih buruknya, bank sentral tersebut bisa kehilangan kredibilitasnya.

"Dengan menaikkan suku bunganya di pekan ini, The Fed bisa memberi pasar kejelasan dan kepercayaan diri, tapi mungkin reaksi positif itu hanya bertahan sementara," kata Bruce McChain, Direkur Investasi Strategis di Key Private Bank.

"Investor mungkin harus segera mulai berpikir mengenai langkah selanjutnya," sambung Bruce.

2. Saham treasury

Berapapun kenaikan suku bunga bisa memicu penjualan saham treasury secara besar-besaran, kata James Kochan, Direktur Strategis Pendapatan Tetap di Wells Fargo Funds Management.

Naiknya suku bunga ini bisa menjadi kejutan bagi para pemegang saham treasury dengan tenor pembayaran singkat, misalnya tenor satu hingga tiga tahun.

3. Mata uang negara berkembang

Kebijakan konvensional dalam pasar mata uang adalah kenaikan suku bunga oleh The Fed bisa menyebabkan pasar mata uang di negara berkembang akan melemah sehingga dolar AS akan mendominasi dan tentunya memancing kembalinya para investor ke Amerika Serikat, kata Matt Weller, senior analis di Forex.com.

4. Perdagangan euro/yen

Salah satu ide The Fed menaikkan suku bunga adalah menjadikan The Fed sebagai bank sentral pertama di antara negara maju sehingga dapat membantu mengapresiasi posisi dolar AS terhadap euro, yen dan pound hingga akhir dari kuartal pertama.

Analis pasar uang di Bank of America, Merrill Lynch memprediksi dolar AS akan meningkat, sejajar dengan rivalnya, euro, pada akhir tahun ini.

5. Emas

Jika The Fed jadi menaikkan suku bunganya pada Kamis esok, ini mungkin bisa menaikkan indeks saham. Di bawah skenario tersebut, emas mungkin akan tetap bertahan dalam suku bunga yang lebih rendah dan mengecilkan kesempatan untuk menyimpannya ebih lama.

Fawad Razaqzada, analis di Forex.com mengatakan hal ini bisa membuat investor lebih memilih bermain di perdagangan saham ketimbang menyimpan emas.

6. Minyak mentah

Harga minyak mentah AS sebenarnya akan tetap terjatuh, apapun keputusan The Fed. Para pelaku pasar komoditas telah terpaku pada ide jika The Fed menaikkan suku bunganya, maka dolar AS akan menguat dan sebagai akibatnya, aka nada tekanan harga pada komoditas berbasis dolar seperti minyak mentah.

Namun Richard Hasting, analis dari Global Hunter Securities, meyakini bahwa harga minyak mentah AS akan jatuh lebih dalam jika the Fed tidak menaikkan suku bunganya.

"Tidak ada kenaikkan mengartikan The Fed bereaksi kepada pelemahan, dan hal tersebut akan mengiyakan penurunan permintaan untuk minyak mentah," kata Hasting.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR