REHABILITASI SATWA

Memulangkan orangutan ke habitat aslinya

Septi, orangutan berusia enam tahun, sedang dicek kesehatannya di Bali Zoo, Gianyar, Bali, 30 Desember 2017 (Foto merupakan bagian dari serial foto yang dibuat fotografer).
Septi, orangutan berusia enam tahun, sedang dicek kesehatannya di Bali Zoo, Gianyar, Bali, 30 Desember 2017 (Foto merupakan bagian dari serial foto yang dibuat fotografer). | Made Nagi /EPA-EFE

Mohamed Salah tampak stres ketika ditemukan terisolir di hutan kecil dan sempit dekat kawasan Rawa Gambut Tripa, Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), Aceh Barat Daya, Aceh, awal September 2018.

Pandu Wibisono, dokter yang memeriksa, mengatakan tubuh Salah tidak dalam kondisi terbaiknya lantaran cukup lama tinggal di wilayah yang sumber makanan alaminya terbatas.

Berat badannya ketika ditemukan mencapai 65 kilogram (kg), masih masuk dalam kategori ideal untuk ukuran jantan dewasa yang memasuki usia pada rentang 30-35 tahun.

Salah kini ada di tangan yang tepat. Pusat Reintroduksi SOCP di kawasan Cagar Alam Jantho, Aceh Besar, bakal merawatnya sampai tubuhnya tak lagi trauma dan siap dipulangkan ke habitat awalnya.

Salah yang satu ini tak jago menggocek bola--meski namanya memang terinspirasi dari pemain sepak bola terkenal asal Liverpool. Kendati begitu, Salah di Aceh ini punya kelihaian untuk meloncat dari satu dahan ke dahan lainnya dengan kekuatan lengan jangkungnya.

Salah adalah orangutan berspesies Pongo abelii asli Sumatra yang keberadaannya saat ini hanya tersisa hingga 14.470 ekor saja, menjadikan endemik ini masuk dalam kategori "sangat terancam punah".

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh memperkirakan pada 2016 populasi orangutan di kawasan Rawa Tripa, Aceh Barat Daya, hanya tersisa sekitar 150 sampai 200 spesies. Jumlah itu merosot tajam dari tahun 1990an yang tercatat mencapai 3.000 spesies.

"Kalau sekarang kami yakin populasi orangutan di sana hanya tinggal maksimal 150. Kalau Rawa Tripa tidak diselamatkan, orangutan di sana tinggal menunggu waktu untuk habis," kata Kepala BKSDA Sapto Aji Prabowo, dalam laporan Kumparan.

Salah satu penyebab mengapa Salah dan kawan-kawannya tak betah tinggal di Rawa Tripa adalah pembukaan lahan untuk perkebunan sawit yang makin masif. Meski sama-sama tumbuhan, namun perkebunan sawit bukanlah habitat terbaik untuk spesies semacam ini hidup.

Manajer Operasional Sumtran Orangutan Conservation Programme (SOCP) Asril mengatakan, beberapa orangutan dilaporkan memakan bibit kelapa sawit muda dan masuk lahan pertanian warga demi bertahan hidup.

"Sebenarnya bibit sawit bukan diet sehat untuk orangutan, akan tetapi jika tidak ada sumber makanan lain, orangutan ini terpaksa turun dan mencobanya," tutur Asril.

Problem lainnya terjadi ketika pembukaan lahan baru dilakukan oknum dengan cara membakar untuk dalih efisiensi waktu dan tenaga.

Catatan SOCP menunjukkan, sepanjang 1950 sampai 2013, nyaris separuh dari hutan di Indonesia beralih fungsi menjadi perkebunan. Peralihan itu telah menghilangkan total 162 juta hektare hutan dan lahan menjadi hanya 82 juta hektare hutan dan lahan.

Di Sumatra, jumlah luasan hutan bahkan sudah menyusut hingga 55 persen sejak 1985 hingga 2014.

Sampai saat ini, Kalimantan--termasuk Serawak, Sabah (Malaysia), dan Brunei Darussalam--adalah habitat dengan populasi orangutan terbanyak.

Laporan Population and Habitat Viability Analysis (PHVA) per 2016 menunjukkan, spesies orangutan Pongo pygmeaus wurmbii adalah yang terbanyak dengan jumlah 38.200 ekor pada lahan seluas 99.359 kilometer persegi tersebar di 18 habitat di Kalimantan.

Sementara dua spesies lainnya, Pongo pygmaeus morio dan Pongo pygmaeus masing-masingnya tersisa 14.630 ekor dan 4.520 ekor di wilayah Kalimantan.

Habitat orangutan menurut sub-spesiesnya (2016).
Habitat orangutan menurut sub-spesiesnya (2016). | Lokadata /Beritagar.id

Kendati Kalimantan menjadi rumah bagi mayoritas orangutan, permasalahan yang dialaminya tak berbeda jauh dengan Sumatra.

Dalam beberapa bulan terakhir, warga di Kabupaten Kotawaringin Timur, Sampit, Kalimantan Tengah, melaporkan kemunculan kera besar asli Asia ini di sekitar permukiman mereka.

"Kebakaran hutan dan lahan pasti ada dampaknya. Orangutan menghindari kebakaran dan mencari tempat yang menurut mereka aman, yaitu di kebun warga," kata Komandan Pos Jaga Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah Muriansyah, dikutip dari Okezone.com.

Muriansyah memastikan, bukan kebiasaan orangutan untuk turun ke perkebunan warga. Sebab, orangutan pada dasarnya adalah hewan yang pemalu. Namun, kerusakan habitat akibat kebakaran, penebangan liar, maupun alih fungsi, menjadi penyebab satwa ini menjadi agresif.

Dengan perilaku seperti ini, maka penyebaran orangutan bakal semakin abstrak. Hal ini bakal menyulitkan pengawasan serta pendataan komprehensif atas keberadaan orangutan.

Tim Lokadata Beritagar.id membuat rasio antara jumlah populasi orangutan dengan total luasan habitatnya (dalam km persegi) berdasarkan laporan PHVA tadi.

Hasilnya, semua jenis spesies orangutan yang ada di Indonesia memiliki nilai di bawah 1. Atau dengan kata lain, dalam 1 km persegi habitat asalnya, kita belum tentu bisa berjumpa dengan orangutan.

Kepadatan orangutan menurut sub-spesies, 2016
Kepadatan orangutan menurut sub-spesies, 2016 | Lokadata /Beritagar.id

Konservasi bukan habitat asli

Indonesia punya pekerjaan rumah yang besar perlindungan satwa liar. Sampai saat ini, pemerintah tidak memiliki data akurat tentang berapa banyak satwa liar yang harus terusir dari rumahnya sendiri akibat ancaman perusakan lingkungan.

Padahal, jika berbicara tentang kejadian kebakaran hutan dan lahan saja misalnya, sepanjang 2015 hingga 2017 cukup banyak kejadian dengan luasan yang tak sedikit.

Pada 2017, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut 124.983 hektare hutan dan lahan terbakar pada 2017. Jumlah itu memang menurun dibandingkan 2016 dengan 438.360 hektare dan pada 2015 seluas 2,61 juta hektare.

"Biodiversity kita masih lemah. Pemerintah belum memiliki sumber daya yang cukup untuk melakukan pendataan menyeluruh apalagi survei orangutan yang terdampak kebakaran hutan," kata CEO Deputy Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, Anton Nurcahyo kepada Beritagar.id, Jumat (21/9/2018).

Anton meyakini, salah satu penyebab utama populasi orangutan tergerus adalah akibat kebakaran hutan yang sebagian besarnya dilakukan di wilayah pembukaan perkebunan sawit.

Apalagi ketika kebakaran besar terjadi pada 2015 silam, timnya harus melakukan tiga kali penyelamatan dan translokasi orangutan, salah satunya di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Dalam tiga kali misi itu, pihaknya berhasil menyelamatkan 88 orangutan.

Sejauh ini, lembaga swadaya yang bergerak di bidang konservasi satwa liar sebenarnya sudah melakukan pengumpulan data, namun sifatnya parsial. Data-data tersebut selanjutnya dikumpulkan kepada BKSDA provinsi. Nah, dari situ seharusnya dikumpulkan ke tingkat pusat.

Anton juga menegaskan, pemerintah tak bisa mengandalkan pusat-pusat konservasi sebagai "rumah aman" bagi spesies ini. Sebab, pada akhirnya spesies-spesies ini akan dilepasliarkan kembali ke alam liar.

"Visi misi (BOS Foundation) memang menyelamatkan dan merehabilitasi. Tapi, pada akhirnya kita akan melepasliarkan kembali orangutan di habitatnya," sambung Anton.

Artinya, pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk menyediakan rumah yang nyaman bagi satwa ini di alam liar.

BOS Foundation memiliki dua pusat rehabilitasi orangutan yang berada di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Jumlah orangutan yang saat ini dalam perawatan mencapai 550 ekor. Bagi Anton dan timnya, jumlah ini bukanlah sebuah pencapaian.

"Jumlah orangutan yang kita terima adalah tanda kegagalan kita melindungi habitat mereka. Kami malah justru berharap tidak perlu aktif bekerja," tandas Anton.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR