INDUSTRI PENERBANGAN

Menakar kesanggupan Soekarno-Hatta melayani dunia

Pekerja melakukan pengaspalan proyek pembangunan Run Way 3 dan Eastcross Taxi Way Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (5/4/2019).
Pekerja melakukan pengaspalan proyek pembangunan Run Way 3 dan Eastcross Taxi Way Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (5/4/2019). | Muhammad Iqbal /ANTARA FOTO

Bandar udara internasional Soekarno-Hatta adalah bandara tersibuk di Asia Tenggara berdasarkan jumlah penerbangan. Sanggupkah Bandara Soetta melayani operasi penerbangan yang sedemikian padatnya?

Kapasitas sebuah bandara sangat penting. Sebab ini berkaitan dengan kelancaran keseluruhan operasi penerbangan.

Masuknya maskapai penerbangan baru mengakibatkan frekuensi penerbangan meningkat dan menimbulkan kepadatan. Pergerakan pesawat--kedatangan dan keberangkatan--di Bandara Soetta pada tahun 2018 mencapai 20.351 penerbangan dan lebih dari 5,5 juta penumpang per bulan.

Pergerakan pesawat di Bandara Soetta bahkan lebih sibuk dari empat negara lain di Asia Tenggara. Mengekor Indonesia, Kuala Lumpur International Airport di Malaysia--satu-satunya yang punya tiga landasan pacu, memiliki rerata 16.306 penerbangan per bulan dan nyaris 5 juta penumpang setiap bulan.

Bandara Changi di Singapura, melayani 15.243 penerbangan setiap bulan. Dua bandara tersibuk lain di Asia Tenggara adalah Suvarnabhumi di Thailand, dan Ninoy Aquino di Filipina.

Bicara jumlah penerbangan, ada banyak aspek yang perlu dipertimbangkan.

Di sisi darat, sebuah bandara harus memiliki gedung terminal, bagasi, kargo, tempat parkir, jalan akses, dan fasilitas lain yang memadai.

"Dengan dioperasikannya terminal 3 dua setengah tahun lalu, sekarang sisi daratnya sudah over load. Ruang parkir, jalan akses sangat terbatas. Ini merupakan tantangan serius bagi pemerintah dan Angkasa Pura II," ujar Komisioner Ombudsman RI Bidang Transportasi, Alvin Lie pada Beritagar.id, Jumat (19/4).

Tak semuanya, kata Alvin, adalah tanggung jawab Angkasa Pura II sebagai pengelola bandara. Jalan tol, dan aspek perizinan bangunan dari pemerintah juga perlu diperhatikan.

Dari sisi udara, ada landasan pacu (runway), landasan hubung (taxiway) dan landasan parkir (apron). Selain itu juga layanan navigasi radar, telekomunikasi, frekuensi radio, kualitas peralatan, juga sumber daya manusia (SDM).

Soal landasan pacu, Bandara Soetta saat ini baru punya dua, hendak menyaingi Kuala Lumpur International Airport yang sudah punya tiga landasan pacu.

Pembangunan landasan pacu ke-3 molor, salah satunya karena urusan pembebasan tanah. Walau baru di angka 50-an persen, ditargetkan siap beroperasi Juni 2019.

"Runway 3 sekarang kira-kira menjelang 60 persen. Kita akan selesaikan, Insya Allah akhir Juni bisa dipakai," ujar Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, (15/4).

Runway berukuran 3.000 x 60 meter persegi itu dibangun untuk mempercepat arus keluar masuk pesawat. Jika Saat ini kapasitas maksimal pergerakan pesawat adalah 80 kali take off-landing per jam, Alvin memperhitungkan runway ke-3 bisa meningkatkannya sampai 100-110 pergerakan per jam.

Perhitungan ini tidak seoptimistis target pemerintah pergerakan per jam. "Fungsi pertama adalah meningkatkan kapasitas, sekarang ini kapasitas kita itu take off-landing per jam itu kira-kira 81 sampai 83. Dengan runway 3 ini akan menjadi 114, jadi kurang lebih naik 30 persen lah," jelas Budi.

Fungsinya tak hanya itu. "Tentu saja dengan adanya pertambahan runway yang ke-3 akan bisa menambah slot penerbangan dari luar yang ingin masuk ke Indonesia," ujar Presiden Joko Widodo.

Kata kuncinya adalah penambahan. Ini sudah sangat diperlukan. Sebab menurut data Official Aviation Guide (OAG) yang diolah Lokadata Beritagar.id, setiap 4 menit 3 detik ada pesawat yang mendarat dan lepas landas di Bandara Soetta.

Rerata waktu pergerakan pesawat menunjukkan, Bandara Soetta lah yang paling sibuk melayani pesawat keluar masuk di Asia Tenggara.

Di Changi pada 2018, setiap 6,1 menit ada pesawat mendarat dan lepas landas.

Rerata waktu pergerakan pesawat paling leluasa di Asia Tenggara bisa ditemukan di Kuala Lumpur International Airport. Setiap 8,4 menit ada pesawat keluar dan masuk. Hal ini memungkinkan karena mereka punya tiga landasan pacu.

Realitas bahwa Bandara Soetta memiliki jumlah penerbangan paling tinggi di Asia Tenggara, menjadikan landasan pacu tambahan sebagai hal krusial.

Apalagi, mengingat pergerakan pesawat didominasi penerbangan domestik dengan pesawat berukuran kecil. Walaupun jumlah penumpang lebih sedikit dibandingkan bandara lain, namun pergerakannya lebih kompleks.

Pun demikian, sejumlah antisipasi menurut Alvin perlu dilakukan. "Sistem, infrastruktur, frekuensi radio, dan SDM layanan navigasi perlu ditingkatkan. Bukan sekadar ditambah," tuturnya.

Pengamat penerbangan ini memberi contoh, bagaimana mengatasi kondisi darurat di salah satu landasan pacu agar tidak mengganggu landasan pacu yang lain. Mengatur operasional tiga landasan pacu cukup rumit.

"SDM perlu training khusus. Air NAV perlu investasi simulator untuk meningkatkan kompetensi SDM-nya," sambung Alvin.

Sampai di sini muncul lagi tantangan lain, yakni biaya layanan navigasi yang terlalu rendah. Penaikan biaya Pelayanan Jasa Navigasi Penerbangan (PJNP) ditunda hingga Juni 2019 untuk mengurangi biaya operasional maskapai, sehingga harga tiket bisa lebih terjangkau.

Bagaimanapun, Alvin menjelaskan, landasan pacu 3 akan mempercepat pergerakan pesawat di Bandara. Membuatnya makin efisien. "Ini akan membawa Bandara Soetta mampu mengakomodasi pertumbuhan penumpang sedikitnya 10-15 tahun mendatang," Alvin berujar.

Selanjutnya, "Pemerintah harus mulai menyiapkan bandara baru. Kita harus belajar dari London, New York yang punya bandara lebih dari satu. Cukup waktunya kalau kita mulai dari sekarang," pungkas Alvin.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR