TRANSPORTASI UMUM

Menanti wajah baru angkutan kota di Jakarta

Mikrolet tampak beredar di kawasan Kota Tua, Jakarta (1/2/2017).
Mikrolet tampak beredar di kawasan Kota Tua, Jakarta (1/2/2017). | GeorginaCaptures /Shutterstock

Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta segera berbenah. Tahun depan, rencananya mulai Februari, mereka akan merevitalisasi angkutan kota (angkot) menggunakan kendaraan baru yang lebih layak dan sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM).

SPM tersebut telah diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) No. PM 29 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 98 Tahun 2013 tentang Standar Pelayanan Minimal Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum dalam Trayek.

Alat keselamatan--termasuk palu pemukul kaca dan P3K--hingga penggunaan pengatur suhu udara (AC) pada kendaraan dengan suhu antara 20-22 derajat Celsius, menurut permenhub tersebut menjadi fitur yang wajib tersedia pada angkutan umum.

Dalam pasal 10 Permenhub 29/2015 disebutkan bahwa perusahaan angkutan umum orang diwajibkan untuk menyesuaikan Standar Pelayanan Minimal paling lambat tiga tahun setelah peraturan menteri mulai berlaku, dengan demikian mulai 2018.

Oleh karena tenggat waktu semakin dekat, Organda DKI Jakarta mulai bersiap. Untuk jenis kendaraan yang dianggap memenuhi segala kriteria yang tercantum dalam Permenhub 29/2015, Organda menyatakan akan mengganti angkot versi karoseri yang beredar saat ini dengan kendaraan langsung dari Agen Pemegang Merek (APM).

"Tujuannya adalah agar Agen Pemegang Merek (APM) harus bertanggung jawab terhadap layanan purna jualnya. Ini berkaitan dengan biaya perawatan kendaraan dan kelangsungan operasional perusahaan," ujar Ketua Organda DKI Jakarta, Shafruhan Sinungan, kepada Suara.com.

"Kalau dulu, mikrolet dibuat dari karoseri dan kami nggak bisa klaim karena ketentuan dari mereka adalah perubahan yang dilakukan di luar mereka tak bisa di klaim. Misalnya, dulu kita buat dari pikap atau dari sasis. Saat ada problem di kelistrikan, kami enggak bisa klaim."

Jenis kendaraan yang mereka sasar untuk menjadi angkot adalah low multi-purpose vehicle (LMPV), jenis kendaraan populer di Indonesia yang pada versi standarnya mampu mengangkut tujuh penumpang.

Organda DKI, menurut Shafruhan, sejak awal Desember sudah membahan soal kendaraan LMPV untuk angkot tersebut dengan empat APM, yakni Toyota, Daihatsu, Suzuki, dan Wuling.

"Ada Toyota Avanza, Daihatsu Gran Max, Suzuki APV, dan Wuling," katanya kepada Viva.co.id.

Lebih lanjut Shafruhan menjelaskan bahwa Organda tidak mengadakan lelang merek. Oleh karena itu bisa saja mulai tahun depan produk keempat APM yang didekati tersebut digunakan sebagai angkutan umum.

"Ini diserahkan kepada para operator angkot nanti mau pakai merek apa. Nggak kita tentukan," tambahnya.

Transmover dan Confero

Wuling Confero S tampak di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show 2017.
Wuling Confero S tampak di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show 2017. | Adi Weda /EPA

Toyota dan Wuling membenarkan bahwa mereka tengah mempertimbangkan untuk menyiapkan LMPV produksi mereka sebagai angkutan umum baru.

Namun, meralat ucapan Ketua Organda DKI, Toyota Astra Motor (TAM) menyatakan bukan Avanza yang mereka tawarkan, melainkan Transmover.

Walau Transmover kerap disebut sebagai versi termurah Avanza, TAM selalu menegaskan bahwa keduanya adalah produk berbeda. Avanza disiapkan untuk pengguna pribadi, sementara Transmover untuk angkutan umum seperti taksi.

Penegasan tersebut tampaknya mereka lakukan agar para peminat Avanza, yang notabene mobil terlaris di Indonesia saat ini, tak kabur. Biasanya prestise mobil yang dipakai angkutan umum menurun sehingga orang malas menggunakannya sebagai kendaraan pribadi.

"Transmover bukan Avanza. Organda melihat Transmover cocok dengan kebutuhan mereka. Masih dibicarakan," tegas Executive General Manager TAM, Fransiscus Soerjopranoto.

TAM, sambungnya, masih membahas rencana penggunaan mobil bermesin 1.300 cc yang diklaim hemat bahan bakar tersebut sebagai bagian dari angkutan kota DKI Jakarta.

Walau demikian, Soerjopranoto menyatakan bahwa mobil tersebut memang dirakit dan diperuntukkan sebagai kendaraan angkutan massal.

Tempo.co mengabarkan TAM saat ini sudah menjual 1.000 unit Transmover yang sebagian besar digunakan sebagai taksi.

Sementara itu, Brand Manager Wuling Motors Indonesia, Dian Asmahani, mengaku saat ini pihaknya masih melakukan studi terkait rencana Wuling Confero dijadikan armada angkot.

"Rencana itu memang sudah masuk, tapi hingga saat ini masih terus dipelajari," kata Dian.

Model Confero, sambung Dian, masuk dalam perencanaan pengganti angkot karena dinilai memiliki durability (daya tahan) yang baik dan dukungan suku cadang yang memadai.

"Yang pasti salah satu perhitungannya adalah kompetitif dari sisi cost operational (biaya operasional)," ujarnya.

Dishub DKI belum tahu

Walau Organda dan APM tampaknya sudah siap untuk meluncurkan angkot dengan wajah baru, Dinas Perhubungan (Disnhub) DKI Jakarta menyatakan sama sekali belum mendengar rencana revitalisasi tersebut.

Wakil Kepala Dishub DKI, Sigit Wijatmoko, dikutip Liputan6 (21/12), mengingatkan agar setiap perubahan pada angkot tersebut harus mengacu pada peraturan dari Kementerian Perhubungan terkait tipe atau model angkutan kota.

Jika Kemenhub belum mengeluarkan Sertifikat Registrasi Uji Tipe (SRUT), maka Pemprov DKI tak akan merestui rencana Organda tersebut.

Menurut Sigit, Organda tidak dapat sekonyong-konyong menjadikan semisal model Avanza sebagai angkot.

"Mereka mengacunya tipe kendaraan online, tapi kan enggak bisa serta-merta jadi angkutan perkotaan," pungkasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR