INTERNASIONAL

Mencuatnya kekuatan perempuan dalam Pemilu Sela AS

Alexandria Ocasio-Cortez menjadi perempuan termuda yang terpilih sebagai anggota Kongres AS dalam Pemilihan Sela 2018 yang berlangsung Selasa (6/11/2018).
Alexandria Ocasio-Cortez menjadi perempuan termuda yang terpilih sebagai anggota Kongres AS dalam Pemilihan Sela 2018 yang berlangsung Selasa (6/11/2018). | Justin Lane /EPA-EFE

Rakyat Amerika Serikat, Selasa (6/11/2018), baru saja menyelesaikan Pemilihan Umum Sela (Mid-term Election) untuk mengangkat anggota baru House of Representatives dan Senat--gabungan kedua badan legislatif itu disebut Kongres.

Belum semua kotak suara selesai dihitung, tetapi saat berita ini ditulis, Kamis (8/11) pukul 14.00 WIB, sudah bisa dipastikan bahwa Partai Republik tetap menguasai Senat (sementara 51 dari 100 kusi), tapi Partai Demokrat kini menjadi suara terbanyak di House of Representatives (sementara 223 dari 435 kursi). (H/T NYTimes.com)

Sebelumnya, Republik menguasai dua kamar legislatif tersebut, 248 kursi House of Representatives dan 54 Senat, sehingga mendominasi pemerintahan.

Selain terbelahnya kekuasaan di lembaga legislatif, yang bakal menyulitkan Presiden Donald Trump untuk meloloskan kebijakannya, hal lain yang menarik perhatian dalam Pemilu Sela kali ini adalah bertambahnya suara untuk perempuan dan warga minoritas di negara adidaya tersebut.

Bisa dibilang hal itu mengindikasikan semakin banyak warga AS yang ingin agar keterwakilan segala golongan--gender, ras, dan agama, dan preferensi seksual-- di lembaga legislatif itu hadir merata.

Apa itu Pemilu Sela?

House of Representatives (HoR) sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Indonesia, sementara Senat bisa dibilang mirip dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Pemilihan ini diadakan empat tahun sekali, dua tahun setelah pemilihan presiden dan wakil presiden, yang pada 2016 dimenangi oleh Donald Trump dan Mike Pence dari Partai Republik.

Pemungutan suara itu dilakukan pada pertengahan masa jabatan presiden--karena itu disebut sebagai Pemilu Sela--sebagai bentuk pengawasan terhadap sang pemimpin eksekutif.

Jika ia berprestasi baik, maka rakyat akan menambah dukungan pada partai penyokongnya agar semua program berjalan lancar. Sebaliknya, jika buruk, rakyat AS bisa memperketat pengawasan dengan mendukung partai oposisinya.

Pada Pemilu Sela kali ini seluruh 435 kursi House of Representatives diperebutkan, sementara dari 100 kursi senat, hanya 35 yang mesti diisi.

Perempuan dan minoritas

Hal yang paling menonjol dalam Pemilu Sela AS kali ini adalah mencuatnya perempuan politikus yang kehadiran mereka menciptakan sejarah baru dalam dunia politik negeri Paman Sam itu.

Dalam exit poll yang dilakukan CNN, nyaris 80 persen pemilih menyatakan penting untuk memasukkan lebih banyak perempuan ke kantor publik, juga etnis minoritas di AS.

Gerakan #metoo dan Time's Up yang menyeruak dipicu kasus pelecehan seksual pada akhir 2016, mendorong perempuan di AS untuk maju memperjuangkan hak-hak mereka.

Sebelum Pemilu Sela 2018, total ada 107 perempuan di Kongres AS-- 84 di HoR dan 23 di Senat, atau 20 persen dari total 535 anggota badan legislatif tersebut.

Pada pemilihan kali ini ada 309 perempuan yang mencalonkan diri, melewati rekor sebelumnya, 298 orang pada 2012.

Berdasarkan perhitungan sementara, 96 perempuan dipastikan menjadi anggota HoR, bahkan CNN memprediksi akan ada lebih dari 100 perempuan di HoR untuk pertama kali dalam sejarah AS.

Politikus top Demokrat, Nancy Pelosi, juga perempuan, hampir bisa dipastikan bakal dipilih kembali menjadi Ketua HoR, alias Speaker of the House. Pelosi pernah menduduki posisi yang sama pada periode 2007-2011.

Berikut ini beberapa perempuan politikus AS yang mencatatkan sejarah baru usai Pemilu Sela 2018.

Perempuan termuda di Kongres

Tahun lalu, Alexandria Ocasio-Cortez, masih bekerja sebagai bartender di sebuah bar di New York. Kini, dalam usia 29 tahun, ia mencatat sejarah sebagai anggota termuda Kongres AS.

Rekor itu sebelumnya dipegang politikus Republik, Elise Stefanik, yang masuk Kongres dalam usia 30 tahun pada 2014.

Politikus Demokrat keturunan Puerto Riko ini merebut kursi HoR di New York dengan mengalahkan pesaing terdekatnya, Anthony Pappas dari Republik, di wilayah 14th Congressional District, New York (daerah Bronx dan Queens). Ocasio-Cortez merebut 78 persen suara, berbanding 13,8 persen yang didapat Pappas.

Kemenangan Ocasio-Cortez ini sudah diprediksi sejak awal tahun 2018 ketika ia mengalahkan Crowley dalam pemilihan awal Partai Demokrat. Padahal Crowley (56) adalah anggota HoR yang digadang bakal menjadi Speaker of the House jika terpilih kembali.

Ocasio-Cortez, yang setahun lalu masih bekerja di sebuah bar, disebut mewakili suara muda, progresif, antikemapanan, dan ultra-liberal yang semakin berkembang di dunia politik AS.

Program-program yang dikampanyekannya, dipaparkan CNBC, meliputi penghapusan Immigration and Customs Enforcement Agency, kuliah bebas biaya, jaminan pekerjaan, Medicare universal, kontrol senjata, dan akses ke perumahan berharga terjangkau.

"Saya berterima kasih kepada setiap orang yang berkontribusi, menggemakan, dan bekerja untuk memantapkan gerakan ini," tulis Ocasio-Cortez, yang lahir 13 Oktober 1989, pada akun Twitter resminya semenit menjelang penutupan pemungutan suara.

Ada satu perempuan politikus dari Demokrat lainnya yang memenangi Pemilu Sela saat masih berusia 29 tahun, yaitu Abby Finkenauer dari 1st Congressional District Iowa.

Namun, lahir pada 27 Desember 1988, Finkenauer akan berusia 30 tahun saat dilantik pada Januari tahun depan.

2 Perempuan Pribumi Amerika pertama di Kongres

Politikus Partai Demokrat AS, Sharice Davids, menjadi satu dari dua perempuan Pribumi Amerika pertama yang masuk Kongres.
Politikus Partai Demokrat AS, Sharice Davids, menjadi satu dari dua perempuan Pribumi Amerika pertama yang masuk Kongres. | Jim Lo Scalzo /EPA-EFE

Untuk pertama kali sejak Kongres AS berdiri pada 4 Maret 1789, bakal ada perempuan Pribumi Amerika Serikat (dikenal juga dengan sebutan Indian) yang akan duduk di kursi legislatif.

Tak hanya satu, bakal ada dua keturunan pribumi yang masuk HoR mulai Januari 2019. Mereka adalah Sharice Davids dari Kansas dan Debra Haaland dari New Mexico. Keduanya berasal dari Partai Demokrat.

Davids, anggota suku Ho-Chunk, adalah seorang pengacara yang juga mantan petarung Mixed Martial Art (MMA). Ia juga mengakui dirinya sebagai homoseksual (lesbian).

Politikus berusia 39 tahun ini mengalahkan petahana Kevin Yoder dari Republik dalam pemilihan di 3rd Congressional District Kansas.

Sementara Haaland mengisi posisi yang ditinggalkan Michelle Lujam Grisham, juga dari Partai Demokrat, setelah mendapat suara terbanyak di 1st Congressional District New Mexico. Ia mengalahkan Janice Arnold-Jones (Republik) dan Lloyd Princeton (Liberal).

"Tujuh puluh tahun lalu, Pribumi Amerika di sini di New Mexico bahkan tak bisa memilih," kata Haaland, anggota suku Laguna Pueblo, dikutip Time.com. "Malam ini, New Mexico, kalian mengirimkan perempuan Pribumi Amerika pertama ke Kongres."

2 Perempuan Muslim pertama di Kongres

Ilhan Omar jadi satu dari dua perempuan Muslim pertama yang terpilih masuk Kongres AS.
Ilhan Omar jadi satu dari dua perempuan Muslim pertama yang terpilih masuk Kongres AS. | Craig Lassig /EPA-EFE

Sejarah lain dalam Pemilu Sela AS kali ini adalah terpilihnya dua Muslim perempuan untuk pertama kalinya, yaitu Rashida Tlaib dan Ilhan Omar, keduanya dari Partai Demokrat.

Tlaib, yang menang di 13th Congressional District Michigan, adalah perempuan keturunan Palestina yang lahir di Detroit, Michigan, 42 tahun lalu. Dituturkan Aljazeera, ia telah membuat sejarah sejak 2008 ketika menjadi Muslim pertama yang terpilih masuk Michigan Legislature.

Perjalanan Omar (37) lebih menakjubkan lagi. Dikisahkan VOA, saat berusia 8 tahun ia dan orang tuanya kabur dari Somalia yang saat itu dirusak oleh perang saudara. Selama empat tahun ia tinggal dalam kamp pengungsian di Kenya. Kemudian mereka menetap di Minnesota, AS, pada 1997.

Omar merebut kursi legislatif Minnesota pada 2016 dan menjadi anggota dewan pertama yang berasal dari Somalia.

Kursi Kongres untuk 5th Congressional District Minnesota kosong setelah Keith Ellison--Muslim pertama di Kongres AS--mundur untuk kampanye menjadi jaksa agung Minnesota. Omar lalu memutuskan untuk bertarung mengisi kekosongan itu.

Pada Pemilu Sela 2018 ia berhasil mengalahkan wakil Partai Republik Jennifer Zielinski.

Dengan demikian, akan ada tiga Muslim yang akan mewakili masyarakat AS di Kongres mulai Januari 2019. Selain kedua perempuan itu, ada Andre Carson, yang berhasil mempertahankan kursinya di 7th Congressional District Indiana.

BACA JUGA