PEMILU 2019

Mendagri ajak masyarakat lawan kampanye hitam jelang Pemilu 2019

Mendagri Tjahjo Kumolo (kedua kanan) berjalan keluar Gedung KPK usai menjalani pemeriksaan di Jakarta, Jumat (25/1/2019).
Mendagri Tjahjo Kumolo (kedua kanan) berjalan keluar Gedung KPK usai menjalani pemeriksaan di Jakarta, Jumat (25/1/2019). | Reno Esnir /Antara Foto

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengajak masyarakat untuk melawan kampanye hitam. Menurutnya, kampanye hitam (black campaign) dan hoaks yang marak jelang pemilu 2019 adalah racun demokrasi.

"(Harus) kita lawan kampanye yang berujar kebencian. Apalagi yang menyangkut SARA dan merusak persatuan, kesatuan," ujarnya saat berada di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, seperti dikutip detikcom, Rabu (6/2).

Politikus PDIP itu mengingatkan bahwa pemilu lima tahunan adalah ajang memilih perwakilan terbaik di lembaga eksekutif maupun legislatif. Menurutnya, pemilihan ini semestinya diwarnai dengan adu gagasan dan adu program. Bukan menebar kampanye hitam, termasuk politik uang, hoaks, dan ujaran kebencian.

Bagi para Peserta Pemilu, dia pun mengimbau agar melakukan kampanye dengan bermartabat.

"Ini kan akan memilih pemimpin yang amanah, baik calon anggota DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota, serta capres dan cawapres. Mari kita adu kampanye yang bermartabat, adu konsep, adu gagasan, tanpa harus merusak demokrasi kita," jelasnya lagi, seperti dikutip Okezone, Rabu (6/2).

175 Hoaks jelang pemilu

Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, kabar bohong semakin marak beredar. Sepanjang Januari 2019 saja Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah menemukan 175 hoaks yang tersebar luas ke masyarakat.

"Hasil pemantauan konten internet dan media sosial yang dilakukan Sub Direktorat Pengendalian Konten Internet Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo, rata-rata sehari menemukan 4 sampai 6 konten hoaks dari beragam isu," kata Pelaksana Tugas Kepala Biro Humas Kemenkominfo Ferdinandus Setu kepada Kompas.com, Rabu (6/2).

Jumlah sebaran hoaks paling banyak diketahui terjadi pada 22 Januari 2019 yakni sebanyak 11 konten.

Dari sana, diketahui sebanyak 81 konten berupa isu hoaks atau disinformasi seputar Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Ferdinand menambahkan, salah satu konten hoaks yang mendapatkan perhatian publik adalah soal isu penemuan tujuh kontainer surat suara yang telah dicoblos di Tanjung Priuk, isu tentang Partai Komunis Indonesia (PKI), isu ijazah hingga berkaitan dengan simbol jari.

Sedangkan untuk hoaks atau disinformasi yang berkaitan dengan peristiwa didapati sebanyak 22 konten.

Hoaks tersebut antara lain berkaitan dengan berita yang sedang terjadi, misalnya cashback pembayaran uang kuliah menggunakan OVO, kasus aksi bunuh diri di Sukoharjo, jenazah yang bangkit lagi setelah empat hari dimakamkan, dan lain sebagainya.

Lalu sebanyak 13 konten berkaitan dengan pemerintah. Misalnya isu Kementerian Agama yang memberikan lampu hijau kepada LGBT, lowongan kerja di rumah sakit, pengangkatan tenaga honorer K2 menjadi PNS, hingga razia Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).

"Mengenai isu agama juga ditemukan sembilan konten, misalnya yang berkaitan dengan Muslim Ughyur, Larangan Shalat Jumat di Perusahaan Cina, atau yang menarik perhatian publik berkaitan dengan ceramah Kyai Said Aqil Siradj dalam acara internal Muslimat NU," ungkap Ferdinandus Setu, seperti dikutip Merdeka.com (7/2).

Sisanya, sebanyak 8 konten berkaitan dengan bencana, makanan dan tokoh. Soal bencana misalnya berkaitan dengan angin kencang di Ancol, potensi gempa 8 SR, banjir Katulampa sampai gempa susulan di Jawa Barat.

Tokoh paling sering muncul dalam konten hoaks

Tokoh yang dikaitkan dengan paling banyak dimunculkan dalam konten hoaks antara lain Presiden Joko Widodo, Ahok, dan Ustadz Arifin Ilham. Mengenai keamanan dan teknologi masing-masing 4 konten. Selebihnya berkaitan dengan kecelakaan (3 konten) dan lingkungan (1 konten).

Hoaks yang berkaitan dengan makanan yang dapat diidentifikasi antara lain soal garam yang tidak boleh dimasak, lintah di kangkung, mie instan penyebab kanker, sampai es krim yang mengandung lemak babi.

Mengenai keamanan dan teknologi masing-masing beredar 4 konten hoaks. Selebihnya berkaitan dengan kecelakaan (3 konten) dan lingkungan (1 konten).

Hoaks terkait teknologi misalnya mengenai keychain GPR, main HP sebabkan mata bengkak, dan blokir SMS.

Kementerian Kominfo pun mengimbau agar warganet dan pengguna media sosial atau aplikasi pesan instan tidak menyebarluaskan informasi hoaks dalam bentuk apapun. Jika ditemukan adanya indikasi informasi yang mengandung hoaks, warganet dapat melaporkanya melalui aduankonten.id atau akun Twitter @aduankonten.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR