Menebak watak Kahiyang dan Bobby

Salah satu foto pre-wedding Kahiyang dan Bobby di Warungboto, Yogyakarta.
Salah satu foto pre-wedding Kahiyang dan Bobby di Warungboto, Yogyakarta. | All Seasons Photo /All Seasons Photo

Kurang enam hari lagi, putri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu bakal melepas masa lajangnya. Kahiyang bakal menikah dengan Muhammad Bobby Afif Nasution. Prosesi pernikahan bakal dilaksanakan pada Senin (8/11/2017).

Pemilihan hari dan tanggal pernikahan Bobby-Kahiyang tak lepas dari perhitungan wuku alias pawukon yang ada dalam tradisi adat Jawa. "Perhitungan itu produk budaya, bagian dari ikhtiar. Tapi yang menentukan segalanya hanyalah kekuasaan Gusti Allah Yang Maha Kuasa," kata Totok Yasmiran, ahli pawukon yang bekerja sebagai Tenaga Teknis Permuseuman untuk Manuskrip Jawa Museum Radya Pustaka Surakarta, saat ditemui di museum, Rabu (11/10/2017).

Totok mencoba mengotak-atik tanggal lahir Kahiyang dan Bobby. Perhitungannya didasarkan pada bertemunya dua hari dalam sistem pancawara (pasaran) yang berjumlah lima hari dengan saptawara yang berjumlah tujuh hari. Pertemuan hari dari dua sistem itu sudah pasti dan mempunyai makna khusus.

Kahiyang lahir pada Sabtu dengan pasaran Pon pada 20 April 1991. Berdasarkan perhitungan tahun Jawa, Kahiyang lahir pada 5 Sawal 1923 Tahun Alip Windu Sancaya. Sedangkan berdasarkan tahun Arab ia lahir pada 5 Syawal 1411 Hijriyah. Berdasarkan pawukon, neptu atau nilai dari hari dan pasarannya berjumlah 16 dan jatuh pada wuku Gumbreg.

Hasilnya untuk pangarasan atau perhitungan sifat manusia berdasarkan pancawara dan saptawara adalah lakuning banyu. Artinya, Kahiyang mempunyai sifat murah hati dan teduh. Sedangkan hasil untuk pancasuda menunjukkan sifat Kahiyang yang wasesa segara alias pemaaf, apabila dicaci tidak sakit hati, apabila disanjung tidak sombong.

Sedangkan Bobby lahir pada Jumat, pasaran Wage, tanggal 5 Juli 1991. Atau 22 Besar 1923 Tahun Alip Windu Sancaya berdasarkan tahun Jawa serta 22 Dzulhijah 1411 Hijriyah untuk tahun Arab. Neptu dari perhitungan pawukon berjumlah 10 dengan wuku Kuruwelut.

Untuk pangarasan menunjukkan sifat aras pepet yang artinya cepat menangkap apa yang diajarkan, tetapi jarang kesampaian apa yang diinginkan. Sedangkan sifat berdasar pancasuda adalah sumur sinaba yang artinya menjadi tempat bertanya karena keilmuan atau pengetahuan yang dimiliki.

Data masing-masing pasangan tersebut, kata Totok, akan dihitung kembali. Sabtu Pon pada wuku Gumbreg pada hari kelahiran Kahiyang menunjukkan watak rahayu, mendapat kemurahan, serta rezeki yang melimpah.

Sedangkan Jumat Wage pada wuku Kuruwelut paada hari kelahiran Bobby juga menunjukkan watak rahayu. Apabila ada orang yang bermaksud jahat akan wurung atau tidak jadi melakukan.

"Jadi hari kelahiran keduanya berwatak rahayu," kata Totok.

Sementara dalam pasatowan salakirabi atau perhitungan perjodohan dilakukan penjumlahan antara Sabtu Pon yang mempunyai neptu 16 dengan Jum'at Wage yang mempunyai neptu 10.

Hasilnya ada 26. Angka tersebut (26) kemudian dibagi lima yang menghasilkan 25 sisa 1. Sisa angka itu (satu) jatuh pada hitungan Sri yang berarti kamulyan lan karaharjan atau kemuliaan dan kesejahteraan.

"Perjodohan Kahiyang dan Bobby cocok. Insya Allah bagus," kata Totok.

Pemilihan hari ijab qabul pada 8 November 2017 yang jatuh pada hari Rabu pasaran Pahing, kata Totok, juga mengandung pangarasan berupa lakuning banyu atau cenderung mengalir dan selalu merendah.

Sedangkan sifat pancasudanya adalah wasesa segara alias pemaaf, dicaci tidak sakit hati, disanjung tidak sombong. Hari itu juga termasuk itungan sanggar waringin yang berarti bisa saling mengayomi atau melindungi.

"Harapannya menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah," kata Totok.

Dalam perhitungan perjodohan, Totok melanjutkan, selain dibagi dengan angka lima yang menunjukkan pasaran, juga ada yang membagi dengan angka tujuh yang menunjukkan pekan atau tujuh hari.

Sisa angka pembagian akan menunjukkan angka satu hingga lima yang masing-masing mempunyai makna yang berbeda. Apabila angka sisa satu adalah sri atau kemuliaan dan kesejahteraan. Sisa dua adalah dhono atau kekayaan, sisa tiga adalah lara atau sakit, sisa empat adalah pati, dan sisa lima adalah lungguh atau mapan dalam kedudukan.

"Tapi makna dari angka sisa itu tidak kaku," kata Totok.

Semisal angka sisa empat atau pati bukan secara kaku diartikan usai menikah kemudian pengantin akan meninggal dunia. Namun bisa diartikan pati dalam hal rezeki.

Makna yang buruk dari hasil pawukon tersebut, menurut Totok bisa diatasi dengan wiradan atau tolak bala. Misalnya dengan menggelar ritual ruwatan untuk wuku katiyup angin atau pun satriyo wirang. Bisa juga dengan menyediakan ubarampe untuk syarat tolak bala seperti nasi kuning, nasi pulen, atau nasi pera.

"Ritual itu dilakukan pas wukunya," kata Totok.

Keberadaan wiradan atau solusi untuk tolak bala dilakukan karena perkembangan zaman. Pada zaman dahulu, orang tua biasa menikahkan anak-anaknya dengan cara dijodohkan.

Acapkali calon pengantin itu tidak mengenal siapa calon istri dan calon suaminya. Berbeda dengan masa kini ketika anak-anak menikah dengan pasangan yang telah dikenalnya terlebih dahulu.

Selama ini, dasar perhitungan pawukon yang dilakukan Totok adalah dua serat primbon karya dari Raden Tanaya dan Ki Padmo Susastra.

Kedua primbon itu mempunyai kemiripan. Ki Padmo Susastra diketahui pernah bekerja di museum tersebut dan membuat majalah berbahasa Jawa yang diberi nama Sosrodoro dan Candra Kanta pada 1890.

"Pawukon lewat internet juga bisa. Tapi tidak ada solusinya (wiradan)," ujar Totok.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR