KINERJA BUMN

Menekan impor minyak jadi fokus dirut baru Pertamina

Seorang pekerja PT Pertamina EP tampak mengoperasikan separator untuk memisahkan minyak, gas dan air di "Central Processing Area" (CPA) Mudi di Desa Rahaju, Kecamatan Soko, Tuban, Jawa Timur, Selasa (17/7/2018).
Seorang pekerja PT Pertamina EP tampak mengoperasikan separator untuk memisahkan minyak, gas dan air di "Central Processing Area" (CPA) Mudi di Desa Rahaju, Kecamatan Soko, Tuban, Jawa Timur, Selasa (17/7/2018). | Aguk Sudarmojo /Antara Foto

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akhirnya menetapkan Nicke Widyawati untuk menduduki jabatan tetap sebagai Direktur Utama PT Pertamina (Persero). Nicke, yang semula menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt), dilantik di kantor Kementerian BUMN pada Rabu, (29/8/2018).

Sebagai pimpinan tertinggi di holding BUMN minyak dan gas bumi (migas) Indonesia itu, Nicke, yang menggantikan Elia Massa Manik, menyebut akan fokus pada tiga hal.

Pertama, ia menyatakan akan fokus menurunkan impor bahan bakar minyak (BBM). Sebabnya, melonjaknya harga minyak dunia belakangan ini turut menyebabkan defisit neraca perdagangan.

"(Fokus) yang pertama harus mengurangi impor, ini implementasinya harus terjadi," ujar Nicke dilansir dari Viva, Kamis (30/8).

Nicke menyebut seluruh pembelian minyak yang selama ini dilakukan perusahaan melalui pasar spot bakal digantikan dengan pembelian minyak dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang beroperasi di dalam negeri.

Ia mengatakan langkah ini diambil karena perusahaan masih menghargai kontrak pembelian impor minyak yang selama ini sudah berjalan. Dengan demikian, kontrak-kontrak pembelian impor minyak disebutnya akan berjalan seperti biasa.

Menurut hitungan Pertamina, asupan minyak mentah sebanyak 325 ribu barel per hari bisa digantikan dengan minyak serapan dari KKKS dalam negeri. Sementara itu, impor minyak perusahaan saat ini mencapai 400 ribu barel per hari, sehingga masih ada selisih sekitar 75 ribu barel per hari yang bisa ditutupi dengan kontrak impor jangka panjang.

Lalu fokus yang kedua adalah memulai kembali pembangunan kilang pada tahun ini. Sebab, ada beberapa target pembangunan kilang, yang juga dimulai pada tahun ini, seperti konstruksi Kilang Balikpapan.

Ia mengatakan akan fokus untuk meningkatkan produksi migas nasional demi mencapai kemandirian energi nasional. Penguatan kapasitas di sektor hulu penting mengingat impor crude oil (minyak mentah) sangat tinggi dan menguras devisa negara.

Caranya dengan meningkatkan kapasitas kilang di dalam negeri. Hal itu juga sesuai dengan arahan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno. “Dengan itu ketergantungan kita pada impor BBM berkurang,” ungkap Nicke.

Sedangkan fokus yang ketiga adalah implementasi penerapan biodiesel atau B20 yang akan berlaku pada 1 September 2018. Pertamina diwajibkan melakukan pencampuran Bahan Bakar Nabati (BBN) dengan BBM jenis Solar hingga 20 persen.

Kewajiban tersebut tertuang dalam aturan Peraturan Menteri ESDM Nomor 41 tahun 2018 tentang penyediaan dan pemanfaatan bahan bakar nabati jenis biodiesel dalam kerangka pembiayaan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit.

Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno (kanan) berjabat tangan dengan Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati (kiri) saat pengumuman pengangkatan Direksi Pertamina di Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (29/8).
Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno (kanan) berjabat tangan dengan Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati (kiri) saat pengumuman pengangkatan Direksi Pertamina di Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (29/8). | Adityo Pratomo /Dokumentasi Pertamina

Sementara itu, Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengatakan, penyegaran dalam jajaran direksi Pertamina ini dilakukan dalam rangka penguatan perusahaan dari segi pengawasan.

Harry juga menegaskan mengenai tugas utama diamanatkan pemerintah bagi Pertamina yaitu ekspansi di sektor hulu guna mendorong produksi migas, percepatan peningkatan kapasitas kilang dan pembangunan kilang baru untuk mengurangi impor BBM.

Di sisi lain, Pertamina diharapkan terus melakukan percepatan dan implementasi pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT).

Pada saat yang bersamaan, Pertamina juga diharapkan untuk terus memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat melalui penugasan khusus seperti penyetaraan harga BBM di wilayah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (3T).

Penyegaran direksi

Sebelum menjadi plt dirut Pertamina, Nicke menjabat sebagai direktur sumber daya manusia (SDM), merangkap plt direktur logistik, supply chain, dan infrastruktur.

Ia diangkat sebagai direktur SDM pada 27 November 2017 dan jabatan pelaksana tugas direktur logistik, supply chain, dan infrastruktur dibebankan kepada perempuan berusia 50 tahun ini.

Jebolan Master Hukum Bisnis Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, ini pernah berkarir sebagai Direktur Pengadaan Strategis 1 PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).

Selain posisi dirut, Kementerian BUMN juga melakukan "penyegaran" direksi dengan mengangkat Dharmawan H Samsu sebagai direktur hulu, menggantikan Syamsu Alam. Dharmawan sebelumnya menjabat sebagai Head of Country BP Indonesia.

Posisi direktur SDM yang ditinggalkan Nicke kini diisi oleh Kushartanto Koeswiranto, yang sebelumnya adalah direktur SDM dan Umum PT Jasa Marga Tbk.

"Ini merupakan sebuah bentuk penguatan bagi Pertamina dan diharapkan jajaran direksi baru bisa membuat Pertamina tumbuh dan lebih besar," kata Harry Sampurno.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR