FLUKTUASI RUPIAH

Mengapa rupiah menguat pada awal tahun

Petugas menghitung uang rupiah di Valuta Inti Prima, Jakarta, Selasa (27/11/2018).
Petugas menghitung uang rupiah di Valuta Inti Prima, Jakarta, Selasa (27/11/2018). | Muhammad Adimaja /Antara Foto

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat sejak akhir Desember 2018 hingga memasuki pekan pertama 2019.

Berdasarkan data Reuters nilai tukar dolar AS menurun tiada henti dari posisi Rp14.560 per dolar pada 28 Desember 2018 menjadi Rp14.265 per dolar pada Kamis (4/1/2019).

Posisi rupiah saat ini dinilai lebih baik dari kondisi tahun lalu yang sempat melemah jauh terhadap dolar. Ada beberapa faktor internal dan eksternal yang membuat nilai mata uang garuda bergerak perkasa sepanjang awal 2019.

Pertama, menurut Ekonom Samuel Sekuritas, Ahmad Mikail, tingkat inflasi yang terkendali menjadi salah satu faktor internal positif bagi nilai tukar rupiah. Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), laju inflasi tahun lalu mencapai 3,13 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Selama empat tahun kepemimpinan Presiden Joko "Jokowi" Widodo, inflasi memang terus stabil pada kisaran tiga persen. Padahal pada Desember 2014 atau dua bulan setelah Jokowi dilantik sebagai Presiden ketujuh RI, inflasi mencapai 8,36 persen.

"Inflasi yang rendah itu kabar baik bagi masuknya arus modal asing ke pasar obligasi Indonesia," katanya saat dihubungi oleh Beritagar.id, Jumat (4/1).

Dari eksternal, lanjut Ahmad, ekspektasi pasar bahwa tingkat suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), tidak akan naik sebanyak dua kali pada 2019 menambah tekanan terhadap dolar.

Selain itu, ia menambahkan, masalah politik seperti penghentian pejabat pemerintah AS secara parsial juga mendorong semakin kuatnya ekspektasi publik bahwa ekonomi AS akan mengalami pelemahan pada tahun ini.

Menurut dia, faktor itu mendorong investor memilih aset mata uang selain dolar di tengah ketidakpastian ekonomi AS.

Sementara itu, menurut Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, penguatan rupiah ini terjadi karena investor mulai yakin dengan Indonesia dan mulai bekerjanya mekanisme pasar valuta asing (valas) dalam negeri.

Perry menyebutkan kepercayaan pelaku pasar juga tercermin dari lelang surat berharga negara (SBN) yang dilakukan pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan.

Menurut Perry, lelang SBN juga menambah pasokan valas di Indonesia. Karena pembeli SBN juga berasal dari luar negeri.

Ini turut mendorong pergerakan rupiah yang stabil dan menguat serta meningkatnya kinerja pasar spot, swap dan domestic non deliverable forward (DNDF).

Selain mekanisme pasar, faktor global juga turut mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. Misalnya faktor global yang positif seperti meredanya ketegangan dagang antara AS dan Tiongkok.

"Meredanya ketegangan AS dan Tiongkok Itu juga meredakan premi risk di pasar keuangan global," ujar Perry dalam detikcom.

Namun upaya BI dalam mengendalikan inflasi dinilai belum optimal oleh Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah. Ia mengatakan upaya bank sentral mengurangi ketergantungan dolar AS dalam transaksi perdagangan ekspor impor dinilai tak cukup efisien memperkuat kurs rupiah.

Adapun upaya tersebut di antaranya adalah kerja sama penerapan kebijakan local currency settlement (LSC) dan bilateral swap dengan sejumlah negara. Bank Indonesia memang tengah gencar mempromosikan dua kebijakan itu dengan beberapa negara.

Kebijakan ini memungkinkan Indonesia dan negara mitra dagang bertransaksi menggunakan mata uang lokal, bukan dengan dolar AS.

Namun Piter menilai, pergerakan rupiah bukan hanya dipengaruhi oleh penawaran dan permintaan valas untuk ekspor-impor, tapi utamanya dari pergerakan aliran modal portofolio asing.

Sebagai contoh, kenaikan suku bunga acuan The Fed tahun lalu mendorong para investor asing mengalihkan portofolionya dari Indonesia ke AS. Alhasil, kondisi tersebut membuat rupiah melemah di hadapan dolar.

"Ketika aliran modal asing keluar dan tidak cukup menutup defisit neraca transaksi berjalan (CAD), ini yang sering kali menghantam rupiah," ujar Piter dikutip dari Tempo.co.

Meski demikian, menurut Piter kebijakan pengendalian dolar dalam transaksi dagang itu tetap perlu dioptimalkan untuk memitigasi tekanan pada kebutuhan valas untuk membiayai ekspor impor.

"Dan karena ini memang lebih mudah untuk dikontrol dibandingkan dengan upaya perbaikan struktur modal asing yang gampang-gampang susah," katanya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR