Mengenal BI 7-Day Repo Rate, acuan baru Bank Indonesia

Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Agustus 2013.
Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Agustus 2013. | Bagus Indahono /EPA

Bank Indonesia baru saja mengumumkan perubahan kebijakan bunga acuan dari sebelumnya menggunakan BI Rate menjadi BI 7-Day Repo Rate. Acuan baru itu akan berlaku efektif pada 19 Agustus 2016 nanti.

Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara, menjelaskan kebijakan BI 7-Day Repo Rate ini merupakan bunga transaksi pembelian bersyarat surat utang negara (SUN) oleh bank kepada BI dengan jangka waktu tujuh hari dengan kewajiban penjualan kembali.

Sebelumnya, BI berpedoman pada Sertifikat Bank Indonesia (SBI) bertenor 12 bulan sebagai acuan BI Rate. Saat ini, BI Rate masih berada pada level 6,75 persen, sementara BI 7-Day Repo Rate berada di level 5,50 persen atau setara dengan suku bunga operasi moneter tujuh hari.

Namun begitu, bank sentral tidak akan menghapus suku bunga kebijakan pun melakukan pelonggaran moneter "bayangan".

Oleh karena itu, tenor masing-masing tingkat suku bunga BI (BI Rate) dan kebijakan BI 7-Day Repo Rate berbeda. Sebelum 19 Agustus 2016, BI masih akan menggunakan BI Rate sebagai bunga acuannya, namun juga mencantumkan BI 7-Day Repo Rate dalam tiap pengumuman kebijakan moneternya.

Jika terdapat perbedaan tingkat bunga di antara keduanya, sambung Mirza, maka hal itu perlu dipahami karena tenor masing-masing acuan pun berbeda.

Dampak kebijakan ini?

Ekonom Bank Negara Indonesia (BNI), Ryan Kiryanto, menjelaskan dalam okezone.com, BI 7-Day Repo Rate lebih mencerminkan kondisi pasar. BI Rate dinilainya tidak mencerminkan bunga riil karena terbukti transmisinya ke suku bunga perbankan hampir tidak terlihat.

Sementara BI 7-Day Repo Rate yang 5,5 persen dinilai lebih mencerminkan kondisi pasar dan mendorong penurunan suku bunga bank lebih cepat.

Jika arah suku bunga bank bisa searah dengan BI 7-Day Repo Rate, maka akan mendorong gairah sektor riil karena arah bunga kebijakan BI cenderung ke bawah sesuai dengan ekspektasi inflasi yang berkisar 4 persen di akhir tahun.

"Intinya arah suku bunga bakal melandai, sektor riil bergairah, permintaan kredit melonjak di semester 2, kinerja perbankan membaik, pertumbuhan ekonomi bisa berkisar 5,1 sampai 5,3 persen," simpulnya.

Direktur Utama PT Bank Mandiri (Perseo) Tbk, Kartika Wirjoatmodjo, mengatakan bahwa selama ini, disparitas suku bunga antara spesial bunga deposito, pasar uang antar bank (PUAB) dan lending facility BI terpaut terlalu lebar. Hal ini disebabkan karena belum maksimalnya pendalaman pasar.

Dengan penggantian instrumen suku bunga acuan menjadi BI 7-Day Repo Rate ini, diyakini bisa membuat efektif dan efisiennya transmisi kebijakan moneter ke suku bunga perbankan.

"Diharapkan nantinya, jika pasar sudah efisien, jarak antara PUAB dan spesial rate deposito tidak terlalu jauh," ujar Kartika, seperti yang dilansir dalam Kontan.co.

Pria yang akrab disapa Tiko itu menambahkan, jika nanti sudah terjadi pendalaman pasar, maka bank akan bisa mempunyai beberapa alternatif yaitu untuk menambah likuiditas seperti spesial rate bunga deposito dan dengan lending facility BI dengan suku bunga yang tidak terlalu jauh.

Seberapa efektif kebijakan ini?

Salah satu tujuan diberlakukan instrumen ini adalah untuk dapat memperkecil jarak antara suku bunga acuan BI dan tingkat suku bunga perbankan sehingga dapat memperbaiki efektivitas kebijakan moneter.

Bank Indonesia bukanlah yang pertama menerapkan bunga acuan ini. Beberapa negara lainnya sudah lebih dahulu menerapkan hal serupa. Seperti Malaysia (2004), Thailand (2006), Selandia Baru (2006), Korea Selatan (2008), dan Filipina (2015).

Akan tetapi, efektivitas kebijakan ini akan sangat bergantung pada seberapa besar penyerapan transmisi ini diterapkan.

Di India misalnya, mekanisme transmisi dari saat penentuan suku bunga acuan bank sentral sampai diterjemahkan menjadi tingkat suku kredit memakan waktu 32 bulan.

Sedangkan, untuk diterjemahkan menjadi tingkat suku bunga deposito memakan waktu 23 bulan. Salah satu penyebab lambatnya mekanisme transmisi ini adalah besarnya sektor keuangan informal.

Sektor keuangan informal ditandai oleh tiga hal, yaitu terbatasnya akses kredit, padahal permintaan tinggi sehingga bunganya tinggi, dan tingginya biaya operasional yang dibebankan ke suku bunga, serta risiko kredit yang tanpa agunan yang juga dibebankan ke tingginya suku bunga.

Tim Callen dan Jonathan Ostry, peneliti Dana Moneter Internasional (IMF), memaparkan dalam buku mereka, Japan's Lost Decade: Policies for Economic Revival, empat hal penting yang bisa membantu kebijakan ini untuk berhasil.

Pertama, kesehatan sektor perbankan dan keuangan. Kedua, kesehatan sektor korporasi. Ketiga, efektivitas kebijakan fiskal. Keempat, efektivitas kebijakan moneter dan kebijakan nilai tukar.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR