Mengenal Damayanti, kader PDIP yang tertangkap KPK

Ketua KPK Agus Raharjo (kanan) didampingi Plt. Jubir KPK Yuyuk Andriati Iskak (kiri) memberikan keterangan pers tentang hasil operasi tangkap tangan (OTT) di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (14/1). KPK berhasil menangkap anggota Komisi V DPR Damayanti Wisnu Putranti bersama enam orang lainnya yang diduga melakukan tindak pidana suap dalam pengamanan proyek Kementrian Pekerja Umum dan Perumahan Rakyat tahun 2016, dan mengamankan barang bukti 99 ribu Dolar Singapura dari total komitmen sebesar 404 ribu Dolar Singapura.
Ketua KPK Agus Raharjo (kanan) didampingi Plt. Jubir KPK Yuyuk Andriati Iskak (kiri) memberikan keterangan pers tentang hasil operasi tangkap tangan (OTT) di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (14/1). KPK berhasil menangkap anggota Komisi V DPR Damayanti Wisnu Putranti bersama enam orang lainnya yang diduga melakukan tindak pidana suap dalam pengamanan proyek Kementrian Pekerja Umum dan Perumahan Rakyat tahun 2016, dan mengamankan barang bukti 99 ribu Dolar Singapura dari total komitmen sebesar 404 ribu Dolar Singapura. | Reno Esnir /ANTARA FOTO

Damayanti Wisnu Putranti, anggota Komisi V DPR tertangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sekitar pukul 22.00, Rabu (13/1/2016). Anggota Fraksi PDI Perjuangan ini ditangkap saat transaksi yang diduga terkait dengan pembangunan infrastruktur yang diadakan Kementerian Pekerjaan umum dan Perumahan Rakyat. Sesaat sebelum penangkapan, ia baru saja mengikuti rapat di Komisinya.

Ia tak berkutik saat petugas dari KPK menangkapnya. Saat penangkapan, ia sedang menerima uang miliaran rupiah.

Uang suap untuk memuluskan proses pembahasan proyek pembangunan jalan di daerah Indonesia timur. Damayanti diduga memainkan perannya sebagai anggota Dewan untuk bisa mengatur proyek di Kementerian PU.

Nama Damayanti (45) memang jarang terdengar. Politikus PDI Perjuangan ini tercatat menjadi anggota DPR periode 2014-2019 dari daerah pemilihan Jawa Tengah IX (Brebes, Tegal, Slawi). Pada Pemilu lalu ia berhasil meraup 75.657 suara.

Sebelum menjadi legislator, wanita kelahiran Jakarta pada 2 November 1970, ini dikenal sebagai pengusaha.

Usahanya antara lain di bidang pekerjaan umum. Ia tercatat menjadi komisaris di PT Polatek Rancang Bangun (jasa konsultan) dan PT Adi Reka Tama (pengadaan barang dan jasa). Dia juga pernah menjadi Sekretaris Direktur Ciliwung Cisadane, Departemen Pekerjaan Umum, setelah itu ia menjadi Sekretaris Dirjen Sumber Daya Air, Departemen Pekerjaan Umum.

Tak heran jika mantan Sekretaris Jenderal PDIP Tjahjo Kumolo kaget. "Kalau betul dia, kenapa ya. Setahu saya dia sudah kaya sebagai pengusaha infrastruktur dan suaminya orang terpandang," ujar Menteri Dalam Negeri ini.

Sejak kuliah, Damayanti juga dikenal aktif di organisasi. Saat kuliah di Universitas Profesor Hamka, ia dikenal sebagai aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

Di DPR, Damayanti tercatat pernah menolak revisi Undang-undang Pilkada yang memilih kepala daerah lewat DPRD. Ia juga pernah menolak revisi UU MD3 dan walk out dalam proses voting paket pimpinan DPR 2014-2019, yang melambungkan Setya Novanto sebagai Ketua DPR.

Di internal PDIP, Damayanti tercatat sebagai Tim Pemenangan Pilkada DKI Jakarta Jokowi-Ahok, Tim Pemenangan Pilkada Kota Magelang, Tim Pemenangan Pilkada Kota Tegal, Tim Pemenangan Pilkada Kabupaten Pemalang, Tim Pemenangan Pilkada Kota Salatiga, Tim Pemenangan Pilkada Kabupaten Brebes, Tim Pemenangan Pilkada Kabupaten Gianyar.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR