Mengenal proses hujan buatan di tengah kabut asap Riau

Modifikasi Cuaca atau hujan buatan dengan pesawat CN-295 di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (25/8). Kementerian Pertanian bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), BNPB, BMKG dan TNI AU melakukan teknologi modifikasi cuaca guna menanggulangi bencana kekeringan di berbagai wilayah seperti di Jawa, Sumatera, Sulawesi, NTB dan NTT.
Modifikasi Cuaca atau hujan buatan dengan pesawat CN-295 di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (25/8). Kementerian Pertanian bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), BNPB, BMKG dan TNI AU melakukan teknologi modifikasi cuaca guna menanggulangi bencana kekeringan di berbagai wilayah seperti di Jawa, Sumatera, Sulawesi, NTB dan NTT. | M Agung Rajasa /ANTARA FOTO

Pemerintah telah melakukan rekayasa cuaca dalam menghadapi bencana kabut asap di Sumatera. Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, rekayasa cuaca di Riau melepaskan garam sebanyak 120 ton di Palembang dan 70 ton. "Saya mendapat info bahwa hujan deras melanda Riau dan Palembang," kata Luhut di Jakarta, Rabu, 16 September 2015, seperti dikutip CNNIndonesia.

Pemerintah memang sudah melakuan teknologi modifikasi cuaca sejak beberapa bulan lalu untuk mengurangi kabut asap. Staf ahli Unit Pelaksana Teknis (UPT) Hujan Buatan-BPPT , Untung Haryanto dalam situs BPPT, memaparkan teknologi modifikasi cuaca merupakan upaya menambah curah hujan, sehingga proses hujan menjadi efektif. Upaya dilakukan dengan menambahkan partikel yang bisa menyerap air seperti Urea, CaCl2, dan NaCl (Sodium klorida) ke awan yang sedang dalam fasa berkembang atau matang. Inilah yang sering disebut menabur garam di awan.

Alam sudah membuat awan sendiri sehingga tim BPPT cukup menambur urea dan kawan-kawan itu atau partikel higroskopik dalam ukuran besar, Ultra Giant Nuclei (> 5 mikron) ke awan. Dengan begitu, proses hujan dapat dimulai lebih awal, durasi hujan lebih lama, dan daerah hujan pada awan semakin luas, serta frekuensi hujan di tanah semakin tinggi. Dari sinilah didapatkan tambahan curah hujan.

Beberapa jenis bahan higroskopik (Urea, CaCl2, dan NaCl) digiling halus dengan menambahkan bahan anti gumpal "fumed silica" sebagai aditif. Dengan campuran seperti ini, partikel tidak menggumpal sehingga ketika disebarkan, berupa beraian partikel tunggal.

Sebanyak 800 - 1000 kilogram bahan kemudian dimuat ke dalam pesawat yang dilengkapi dengan corong pembuangan keluar, dan terbang menuju awan kumulus yang berkembang. Ciri awan cumulus antara lain, penampilan berbentuk bunga kol, dengan dasar tidak lebih tinggi dari 5000 kaki, dan puncaknya lebih tinggi dari 11 000 kaki. Pesawat diminta memasuki awan, dan ketika berada di dalamnya, bahan dilepaskan keluar. Kegiatan ini disebut penyemaian (seed) awan.

Kegiatan teknologi modifikasi cuaca ramah lingkungan. Bahan yang digunakan untuk penyemaian awan juga digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Urea digunakan dalam pertanian, Sodium Klorida banyak terdapat di atmosfer sebagai hasil dinamika air laut, dan digunakan bahan masakan. CaCl2 digunakan di beberapa negara untuk ditaburkan di jalan raya guna mencegah terbentuknya es dan salju.

Hasil analisis air hujan selama beberapa kali kegiatan modifikasi cuaca telah membuktikan bahwa parameter kualitas air hujan maupun badan-badan air masih aman untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR