OBITUARIUM

Mengenang Laila Sari, seniman tiga zaman

Pesohor senior Laila Sari (kiri) dalam acara Melodi Empat Penjuru di Galeri Indonesia Kaya, Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat, 14 Oktober 2017.
Pesohor senior Laila Sari (kiri) dalam acara Melodi Empat Penjuru di Galeri Indonesia Kaya, Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat, 14 Oktober 2017. | Image Dynamics

Nenek lincah itu telah tiada. Dunia hiburan Indonesia kehilangan salah seorang pesohor serba bisa dengan rentang karier yang amat panjang.

Nurlaila Sari Jahrotuljannah atau dikenal dengan nama pop Laila Sari menutup hayat pada Senin (20/11/2017) malam di kediamannya di Kampung Tangki, Jakarta Barat. Belum diketahui apa penyebab kematiannya, tapi diduga karena kelelahan.

Ditulis Rilis.id, sekitar pukul 20.00 WIB, nenek berusia 82 itu pulang pukul lima sore dari syuting Ini Talkshow --program bincang berbumbu komedi di Net TV. Maya Sari, anak angkat Laila, pun tak tahu pasti apa penyebab kematian ibunya.

Maya menduga ibu angkatnya sempat jatuh ketika berada di dalam kamar mandi. Laila tak mengakuinya, tapi ia berjalan tertatih keluar dari kamar mandi sembari berpegangan.

Beberapa saat kemudian, Laila tak sadarkan diri dan susah bernapas. "Enggak tahu gimana tiba-tiba langsung mamanya enggak sadar lagi. Udah enggak bisa napas, engap-engapan, makanya saya kaget di situ," ucap Maya.

Dilansir CNN Indonesia, jenazah Laila dimakamkan di Blok AA II, Unit Islam, Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta Pusat, Selasa (21/11) pukul 10.45 WIB. Ia dimakamkan dalam satu liang lahat dengan mendiang suaminya, Muhammad Iskandar, yang meninggal pada 1993.

Pada usia tuanya, Laila hidup dalam kondisi memprihatinkan. Ia masih sering bekerja ke sana ke mari dan menjadi tulang punggung keluarga.

"Kalau bahagia sih, enggak. Tapi 'kan, Emak harus tanggung jawab dengan cucu dan anak-anak. Emak doang yang nyari uang, tapi Emak enggak ambil hati. Nikmatin aja deh, wahyu dari Allah," ujar Laila kepada Kumparan saat mengisi sebuah acara di Galeri Indonesia Kaya, Mal Grand Indonesia, Jakarta Pusat, 14 Oktober lalu.

"Menjaga kesehatan kalau dipikir-pikir, banyak uneg-uneg yang bikin (saya) kesal dan menangis. Bagi Emak, (itu) enggak dihiraukan. Tapi, aku harus sehat jiwa dan raga, karena kalau ada yang panggil Emak, kalau Emak sakit, nanti kecewa," imbuhnya.

Berikut biografi singkat Laila Sari yang dirangkum dari artikel Jakarta Globe edisi 23 Juli 2010. Laila lahir dengan nama lengkap Nur Laila Sari Jahrotuljannah di Padang Panjang, Sumatra Barat pada 1935. Namanya berarti "bunga dari surga yang mekar dalam cahaya samar malam hari".

Ayahnya meninggal saat Laila baru berusia dua tahun. Setahun kemudian, kakek dan neneknya mengambil Laila dari ibunya dan membesarkannya di Jawa.

Sementara sang ibu kawin lagi dan menjalani profesi sebagai penyanyi. Laila yang hidup dalam lingkungan umat taat Islam pun heran melihat profesi ibunya.

Namun buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Pada usia sembilan, Laila kembali tinggal dengan ibunya. Ia kagum pada karier menyanyi sang ibu dan mulai membayangkan akan mengikuti jejaknya.

Pada usia 12, karier Laila sebagai penghibur dimulai ketika ibu dan ayah tirinya mengundang Laila untuk bernyanyi dalam sebuah pesta perkawinan di Pontianak, Kalimantan Barat.

Beberapa tahun kemudian Leila mulai dikenal masyarakat, terutama para lelaki, berkat suara dan kecantikannya. Meski tak pernah merilis album, Laila sering ditawari untuk konser.

Namun demikian tidak jarang ada penolakan. Pada 1958, Laila ditolak tampil di Karawang dan Bekasi, Jawa Barat.

Alasannya, para istri takut suami mereka tergila-gila pada Laila. "Padahal saya bukan penyanyi nakal. Baju yang saya kenakan juga normal dan tidak ketat banget," ujar Laila.

Pada 1950, Laila memulai karier layar lebar lewat film Kembang Katjang. Menurut data FilmIndonesia.or.id, ada 35 film yang dibintanginya pada kurun 1950 hingga 2016.

Laila juga dikenal punya sejumlah kekasih jumlahnya tak bisa dihitung. Latar belakang pun beragam; antara lain aktor, penyanyi, dan tentara.

Baru pada 1960, ia menambatkan hati pada Burtje --seorang pria Belanda dengan nama Indonesia Murdadi Iskandar. Burtje tumbuh besar pula di daerah asli Lalia, Sumatra Barat.

Pernikahan mereka bertahan sampai maut memisahkan. Suatu teladan mengingat jarangnya pernikahan pesohor yang bertahan seumur hidup.

Pada 1993, kesehatan Burtje mulai memburuk. Ongkos pengobatan bikin pasangan tanpa anak kandung ini menghabiskan harta mereka, termasuk dua mobil dan sebuah rumah.

Pada saat bersamaan, Amak, ibu kandung Laila juga sakit keras. Tujuh tahun kemudian, Laila kehilangan kedua orang yang ia cintai dalam waktu berdekatan.

Sampai akhir hayatnya, Laila masih kerap mengisi pertunjukan televisi dan film. Namun belakangan ia cukup jarang menyanyi, lebih sering muncul dalam televisi sebagai komedian. Film terakhirnya adalah Musik Untuk Cinta yang tayang Maret 2017.

Semua itu ia lakukan demi menghidupi diri dan cucunya meski usianya sudah 80 lebih. Laila merupakan pesohor terakhir yang tinggal di Kampung Tangki, dulu disebut Tangkiwood, pusat artis-artis ibukota yang sekarang menjadi daerah kumuh.

Belum lama ini sebuah penggalangan dana dilakukan oleh Ini Talkshow untuk menyokong masa tua Laila. Hingga kampanye ditutup, total Rp.148.320.863 terkumpul dari 759 orang donatur.

Namun siapa sangka umur seseorang, Laila keburu meninggal dunia. Selamat jalan, Laila Sari, seniman tiga zaman!

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR