BISNIS DARING

Menggali bisnis fesyen muslim Indonesia

Seorang pramuwisma berjaga di toko busana muslim di Jakarta, 25 Januari 2016.
Seorang pramuwisma berjaga di toko busana muslim di Jakarta, 25 Januari 2016. | Adi Weda /EPA

Indonesia punya potensi untuk jadi distrik fesyen muslim pertama di dunia. Bisnis HijUp, situs jual beli busana muslimah pertama di dunia, bisa menjadi salah satu penggeraknya.

Pendiri HijUp Diajeng Lestari mengklaim ada sekitar 300 desainer busana muslim yang kini bergabung dalam serambinya. Sepanjang 2018, jumlah pengunjung situsnya mencapai 7 juta. Jumlah itu berasal dari dalam dan luar negeri, sebab, HijUp telah melayani pengiriman hingga ke 52 negara.

“Indonesia sudah mencanangkan untuk menjadi pusat busana muslim dunia. Golnya tahun 2020, 48 minggu lagi,” tutur Diajeng kepada Presiden Joko “Jokowi” Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (31/1/2019).

Potensi untuk mencapai gol itu ada, namun belum tergali, tutur Diajeng. Menurut istri bos Bukalapak ini, dengan populasi muslim terbanyak di dunia, Indonesia bisa dengan mudah menggali potensi itu.

Merujuk data Global Islamic Economy Index, konsumsi belanja Indonesia dalam hal busana muslim mencapai $20 miliar AS (sekitar Rp279,03 triliun), terbesar ketiga di antara negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Dari sisi pasar global, sepanjang 2017, tercatat nilai pasar busana muslim mencapai $270 miliar AS, dan diprediksi melonjak hingga $361 miliar AS pada 2023.

Sementara, nilai ekspor busana muslim hanya mencapai $500 juta AS (sekitar Rp6,9 miliar). “Kita mungkin perlu meningkatkan dari sisi itu (tingkat ekspor),” kata Diajeng.

Selain meningkatkan produksi, Indonesia juga perlu memperbaiki strategi pemasarannya. Pusat mode Duomo di Milain, Italia, Harajuku di Jepang, dan Taksim di Turki bisa dicontoh.

Menurut Diajeng, strategi yang bisa digunakan adalah memanfaatkan potensi pariwisata di Indonesia. Ada dua kota yang bisa dikembangkan, pertama Jakarta dan kedua Bandung.

“Kota lain juga punya potensi, Yogyakarta dan Aceh juga. Karena begini, pusat fesyen muslim erat dengan industri pariwisata. Namun, yang paling potensial kami melihat masih Jakarta dan Bandung,” ucap Diajeng.

Sementara di sektor hulu, pihaknya berharap pemerintah mengintervensi dengan memberikan pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk bisnis ini.

Hal ini lantaran sekitar 98 persen pelaku bisnis di serambinya merupakan usaha kecil menengah (UKM). Dengan membebaskan PPN, maka pemerintah dapat membantu membesarkan bisnis UKM.

“Dengan adanya persaingan global seperti ini, pemain-pemain UKM ini perlu dibesarkan,” tukas Diajeng.

Senada dengan Diajeng, Ketua Indonesian Fashion Chamber (IFC) melihat ada pergeseran pasar fesyen yang cepat di masyarakat, dari konvensional ke digital. Oleh karenanya, pergeseran ini perlu direspons dengan cepat.

“Gaya hidup milenial tidak lagi harus pergi ke butik, tetapi cukup dengan media sosial. Karena itu, desainer-desainer yang memiliki talenta bagus harus diantisipasi agar tidak ketinggalan zaman,” kata Ali dalam Katadata.com.

Catatan Global Islamic Economy Index yang diambil dari Thomson Reuters Foundation menunjukkan Indonesia berada pada posisi kedua untuk urusan fesyen muslim, di bawah Uni Emirat Arab.

Total skor Indonesia untuk kategori tersebut mencapai 34, sementara Uni Emirat Arab beroleh skor 106. Posisi Indonesia ini meningkat 14 tangga dibandingkan tiga tahun lalu.

Skor mengukur tiga aspek, pertama banyaknya ekspor baju ke negara-negara OKI, kedua banyaknya publikasi dan agenda fesyen muslim, dan ketiga indeks harga pakaian dan indeks keadilan terhadap pekerja.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR