74 TAHUN INDONESIA MERDEKA

Menghamba pada batu bara

Konsumsi energi Indonesia
Konsumsi energi Indonesia | Lokadata /Lokadata

Energi Indonesia | Kerisauan global atas penggunaan batu bara di seluruh dunia semakin deras dan menguat. Seperti dampak pencemaran udara, emisi gas rumah kaca berakibat pada mencairnya es di kawasan Kutub, meningkatnya permukaan laut, perubahan pola cuaca, gelombang panas, dan lain-lain.

Walau dianggap sumber energi fosil paling nista dan mematikan, jumlahnya melimpah dan murah ketimbang sumber energi lain. Nahasnya, hampir seluruh negara dunia masih menghamba pada batu bara. Termasuk negara maju seperti Tiongkok mencapai 60,4 persen, Jepang 26,4 persen, Jerman 21,3 persen, dan Amerika Serikat 15 persen.

Hingga tahun lalu, ketergantungan Indonesia pada batu bara mencapai 32,97 persen dari total sumber energi lain. Namun, sumber energi terbesar dari minyak mencapai 40,75 persen, gas 19,68 persen.

Kabar baiknya, penggunaan sumber energi ramah lingkungan semakin membaik sejak tahun 2000 hingga 2018. Meski jumlah penggunaannya masih sedikit, dalam kisaran di bawah empat persen untuk hidroelektrik dan energi terbarukan. Faktor biaya jadi kendala utama penggunaan sumber energi terbarukan, biayanya berlipat-lipat daripada batu bara.

Penggunaan batu bara di Indonesia paling banyak untuk kebutuhan listrik. Terutama sebagai bahan baku Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Di Indonesia, pemerintah menetapkan Besaran Biaya Pokok (BPP) listrik PLN rata-rata nasional Rp1.025/kWh atau setara dengan $7,66 sen/kWh.

Penggunaan energi terbarukan harus tetap didorong untuk jangka panjang. Terlepas dari stigma buruknya, suka tidak suka Indonesia butuh batu bara.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR