Menghina Iriana Jokowi karena benci pemerintah

Polisi membawa seorang tersangka ujaran kebencian terhadap Ibu Negara Iriana Jokowi, DI (dua kiri), di Mapolrestabes Bandung, Jawa Barat, Selasa (12/9/2017).
Polisi membawa seorang tersangka ujaran kebencian terhadap Ibu Negara Iriana Jokowi, DI (dua kiri), di Mapolrestabes Bandung, Jawa Barat, Selasa (12/9/2017).
© Agus Bebeng /Antara Foto

"...alasannya nggak suka dengan pemerintahan sekarang," ujar Kapolda Jawa Barat, Irjen Agung Budi Maryoto di Mapolrestabes Bandung, Jawa Barat, Selasa (12/9/2017).

Agung menyatakan itu saat gelar perkara kasus ujaran kebencian terhadap Ibu Negara Iriana Joko "Jokowi" Widodo. Dihadirkan pula seorang tersangka berinisial DI, lelaki asal Palembang, Sumatera Selatan, yang lulusan sekolah tinggi di Bandung.

DI ditangkap di kediamannya di Palembang karena telah mengunggah meme ke akun Instagram @warga_biasa yang bermuatan penghinaan terhadap Iriana. Meme diunggah pada 7 September lalu, namun akun tersebut saat ini sudah tak aktif.

Dalam meme terdapat foto Iriana dengan mengenakan hijab. Lantas foto diimbuhi tulisan bahwa Iriana mengenakan hijab hanya untuk menutupi aib, bukan karena iman, disertai ungkapan label pelacur.

Sementara dalam kapsi foto, akun itu menulis kata-kata kotor nan tak pantas. Unggahan itu sempat beredar luas di Instagram dan sejumlah warganet berusaha memburu pelakunya. Warganet juga sempat mengadukan ini ke akun Twitter @chilli_pari (75 ribu pengikut), pekan lalu.

Namun akun yang dipercaya milik putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming, seolah tak terganggu. Gibran hanya berujar agar dibiarkan saja dan dimaafkan.

Polisi juga bergerak mencari pelaku. Sehari setelah memulai penyelidikan, Jumat (8/9), polisi sempat memeriksa DW yang disebut sebagai pacar DI.

Dari mulut DW itulah muncul nama DI dan meminta polisi mencarinya di Palembang. "...kita nyatakan bahwa si perempuan yang bernama DW tidak bersalah. Yang bersangkutan hanya kena tag," ungkap Agung.

Tiba di Palembang, Sabtu (9/9), tim polisi yang dipimpin Kasat Reskrim Polrestabes Bandung AKBP Yoris Marzuki baru berhasil menangkap DI di rumah orang tuanya pada Senin malam (11/9) dan langsung dibawa ke Bandung sehari kemudian.

Berdasarkan pemeriksaan awal, DI mengakui bahwa akun Instagram @warga_biasa adalah miliknya. Dalam ponsel milik DI yang disita polisi terdapat bukti foto suntingan penghinaan terhadap Iriana serta beberapa foto lain yang sudah disunting pula.

"Saya kira hasil pendalaman, banyak membuat posting-an bukan hanya untuk pemerintah. Tetapi ini masih kita dalami," kata Agung dikutip detikcom.

Selain ponsel beserta kartu seluler (SIM card) milik DI, polisi juga menyita dua buah artikel tentang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), bendera HTI, dan satu buah gantungan kunci HTI.

DI dijerat pasal 45 ayat 1 Jo pasal 27 ayat 1 UU No. 19/2006 tentang Informatika dan Transaksi Elektronik dan pasal 29 Jo pasal 4 ayat 1 huruf e UU No. 44/2008 tentang Pornografi. Ancaman hukumannya enam tahun.

Apakah ada kaitannya dengan kelompok Saracen yang sedang diproses hukum karena kegiatannya memproduksi konten penghinaan dan hoax? Agung menjelaskan masih perlu pemeriksaan lebih dalam.

"Barang bukti sudah lengkap dan pengakuannya memang betul ada, kita dalami dalam pemeriksaan lebih lanjut. Deliknya terpenuhi, unsur pasal 45," kata Agung dalam Viva.

Melakukan penghinaan terhadap simbol negara kian lazim karena motif membenci pemerintah. Bulan lalu (23/8), polisi menangkap seorang pemilik akun Facebook "Ringgo Abdillah". Pemiliknya adalah MFB, orang Medan, Sumatera Utara, yang masih berusia 18.

MFB yang dikenai pasal berlapis pula disebut punya minimal 30 akun jejaring sosial. Seluruhnya bernada penghinaan terhadap pemerintah atau Jokowi.

"Karena saya benci dengan kebijakan Jokowi...," kata MFB saat gelar perkara di Mapolda Sumut, pada Senin (21/8).

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.