PILPRES 2019

Mengulik program energi bersih Jokowi dan Prabowo

Foto udara instalasi Pembangkit Lisrtik Tenaga Surya, yang dipasang sebagai sumber energi baru terbarukan (EBT), di  Rumah Sakit Pertamina Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (26/10/2018).
Foto udara instalasi Pembangkit Lisrtik Tenaga Surya, yang dipasang sebagai sumber energi baru terbarukan (EBT), di Rumah Sakit Pertamina Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (26/10/2018). | Idhad Zakaria /Antara Foto

Jika Anda menolak impor dan masih menggunakan bahan bakar minyak, tengok sebelum tahun 2003. Sejak saat itu Indonesia sudah net impor minyak. Mulai tahun itu, konsumsi minyak Indonesia lebih besar dari produksi. Makin ke sini tren impor minyak makin besar dan tren produksinya makin rendah.

Tema energi akan menjadi salah satu tema debat ronde kedua dalam rangka Pemilihan Presiden 2019 yang akan berlangsung Minggu (17/2/2019). Tema lain yang akan dibahas adalah pangan, sumber daya alam dan lingkungan hidup, serta infrastruktur.

Menurut data Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) yang dilaporkan oleh Global Subsidies Initiative Januari 2019, pada 2003 konsumsi minyak Indonesia sudah melewati 1,2 juta barel per hari. Produksinya, mulai lebih rendah dari konsumsinya.

Perbandingan produksi dan konsumsi minyak di Indonesia.
Perbandingan produksi dan konsumsi minyak di Indonesia. | Istimewa /GSI Report

Pada 2014, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro membenarkan data ini. Bahkan, Indonesia keluar dari organisasi pengekspor minyak Organisastion of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), karena tak bisa memenuhi produksi minyak yang ditetapkan organisasi itu.

Minyak adalah hal krusial bagi Indonesia. Isu energi ini akan menjadi topik dalam debat calon presiden, Minggu (17/2/2019).

Pengamat Ekonomi Faisal Basri mengatakan, cadangan energi Indonesia saat ini menurun drastis. Untuk energi minyak, kata Faisal, cadangan minyak nasional di tahun 1980 sebesar 11,6 miliar barel. Saat ini, hanya sekitar 3,2 miliar barel.

Artinya, kita menggasak minyak jauh lebih cepat dari usaha kita memperoleh cadangan baru. Faisal menyatakan, cadangan energi fosil ini akan habis pada 2026 jika tidak ada penemuan baru dan tidak ada peralihan ke energi nonfosil.

"Ingat yang kita ingin dapat jawaban, bagaimana kedua capres dan tawarannya menghadapi cadangan energi kita yang menurun drastis," kata dia di Jakarta Selatan, Kamis (14/2/2019), seperti dipetik dari financedetik.

Bagaimana pandangan soal energi bersih dua capres ini dalam visi misi mereka?

Energi Baru Terbarukan (EBT) adalah energi yang berasal dari sumber yang bisa diperbaharui. Misalnya energi dari air, angin, panas bumi, hingga matahari. EBT kerap disebut juga sebagai energi bersih atau ramah lingkungan. Selama ini Indonesia banyak bergantung pada energi fosil, alias minyak bumi dan batu bara. Dua energi ini kerap dinilai sebagai energi yang kotor. Karena imbasnya buruk buat lingkungan.

Visi misi soal energi bersih

Pasangan Jokowi-Ma'ruf dalam visi misinya bertajuk Meneruskan Jalan Perubahan Indonesia Maju pada poin 2.3 menyebutkan akan Melanjutkan Revitalisasi Industri dan Infrastruktur Pendukungnya untuk Menyongsong Revolusi Industri 4.0.

Ada tiga hal yang menyinggung soal energi bersih dalam poin ini. Yakni:

- Meneruskan program peningkatan produksi dan pemanfaatan energi fosil secara efisien serta meningkatkan nilai tambah untuk kemajuan perekonomian nasional.

- Meneruskan dan mengokohkan pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) untuk mencapai target yang terukur pada tahun 2025, termasuk memberikan akses kepada rakyat untuk mengembangkan dan mengelola sumber-sumber energi terbarukan.

- Pengembangan energi baru terbarukan (EBT) berbasis potensi setempat serta ramah terhadap lingkungan.

Sedangkan pada poin 4.2, salah satu isinya adalah:

Pengembangan energi baru terbarukan berbasis potensi setempat serta ramah lingkungan.

Pun capes-cawapres Prabowo-Sandi. Dalam Visi Misi versi Indonesia Menang, pasangan ini hanya menulis Indonesia sekarang statusnya 'net impor energi'. Seharusnya bisa surplus dan ekspor.

Pada fokus pertama Prabowo ingin meningkatkan daya beli masyarakat dengan mengendalikan tarif listrik dan harga BBM.

Dalam paparan aksi bidang kedaulatan energi, Prabowo menuliskan ..akan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, dan menjadikan Indonesia berkuasa dalam energi nabati dan EBT.

Merevisi semua tata aturan yang menghambat kenaikan investasi baru di sektor EBT.

Memperluas konversi BBM menjadi gas dan listrik untuk kendaraan bermotor. Serita meningkatkan porsi EBT dalam bauran listrik PLN.

Dalam program aksi lingkungan hidup Prabowo merencanakan "...menindak tegas pertambangan yang merusak lingkungan dan mendorong restorasi, rehabilitasi, dan pemulihan lingkungan terdegradasi untuk mengembalikan fungsi ekologis lahan produktif.

Visi misi keduanya memang tampak cerah. Mengingat, saat ini energi bersih kurang tergarap potensinya.

Selain itu, tren penerimaan negara dari industri minyak dan gas cenderung menurun sejak 2006. Pada 2016, kontribusi industri ini hanya Rp44,1 triliun. Sebab, nilai itu hanya 2,84 persen dari total penerimaan negara.

Tantangan mengadopsi energi bersih

Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) sangsi dengan visi misi kedua capres dalam energi bersih dan lingkungan. Koordinator Jatam, Merah Johansyah, kedua capres dikelilingi orang-orang berpengaruh dan pemain besar di sektor tambang tersebut.

"Oligarki tambang melekat ke kedua kandidat. Visi misi mereka tidak relevan karena tidak membahas permasalahan lingkungan akibat tambang selama ini," ujar Merah di Jakarta, Senin (11/2/2019), seperti dinukil dari Kompas.com.

Menurut penelusuran Jatam, setidaknya ada 11 tokoh di balik Joko Widodo-Ma'ruf Amin yang berkorelasi dengan pertambangan. Mereka adalah Oesman Sapta Odang, Luhut B Pandjaitan, Andi Syamsudin Arsyad, Fachrul Razi, Wahyu Sakti Trenggono, Hary Tanoesoedibjo, Surya Paloh, Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla, Jusuf Hamka, dan Suaidi Marasabessy.

Sementara di kubu Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno ada enam tokoh yang berkaitan dengan sektor tambang. Mereka adalah Hutomo Mandalaputra, Hasyim Djojohadikusumo, Sudirman Said, Zulkifli Hasan, Ferry Mursyidan Baldan, dan Maher Al Gadrie.

Menurut Merah, persoalan lingkungan hidup tidak akan muncul dalam debat. Tapi potensi penerimaan negara yang nantinya akan tergerus karena lingkungan hidup yang tergerus. "Baik 01 maupun 02 sama-sama akan membawa kepentingan bisnisnya dengan kepentingan politiknya di isu lingkungan dan tambang," lanjut dia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR