KAWASAN EKONOMI KHUSUS

Menilik progres pembangunan KEK Mandalika

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Kuta, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat (17/5/2019).
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Kuta, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat (17/5/2019). | Ronna Nirmala /Beritagar.id

Penyelesaian megaproyek Kawasan Ekonomi Kreatif (KEK) Mandalika, Nusa Tenggara Barat, masih memerlukan banyak dukungan.

Sampai Jumat (17/5/2019), merujuk pantauan Beritagar.id, pembangunan fisik untuk infrastruktur besar seperti akses jalan dari Bandara Internasional Lombok menuju Mandalika hingga rencana pembuatan sirkuit jalanan (street circuit) belum tampak ancang-ancangnya.

Sementara beberapa fasilitas yang telah dibangun di antaranya seperti masjid, Kuta Beach Park, dan 538 lot dan kios untuk usaha mikro, kecil, dan menengah yang diberi nama kawasan Bazaar Mandalika.

Padahal seluruh fasilitas pendukung di Mandalika, baik sebagai kawasan ekonomi maupun tuan rumah balap motor kelas dunia MotoGP, ditargetkan terpenuhi pada 2021.

Direktur Utama Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) Abdulbar M. Mansoer menyatakan, khusus untuk sirkuit, tahapan pembangunannya bakal dimulai paling cepat September 2019.

Saat ini, tahapan yang tengah dijalankan adalah homologasi, yakni sinkronisasi desain sirkuit trek sehingga memenuhi standar yang dipasang Federasi Motor Internasional (FIM).

“Jadi desain sudah selesai, sudah di-approve Dorna. Kemudian desainnya akan didetailkan. Selama ini kan desainnya dalam kertas, sekarang penyesuaian langsung dengan lokasi,” kata Barry, sapaan lain Abdulbar, di Kuta Mandalika.

Sejalan dengan proses tersebut, saat ini ITDC juga tengah sibuk mempersiapkan DED (detail engineering design) dengan menyeluruh.

Sebab menurut Barry, persyaratan yang diajukan Dorna sangat tinggi, sehingga ITDC perlu memastikan tidak ada celah kesalahan pada seluruh proses pembangunan.

“Karena desain MotoGP bukan seperti jalan biasa. Kalau hujan, 30 menit harus kering, dan juga harus mulus sekali. Baru September kita mulai bangun. Tapi sirkuit ini bukan pekerjaan sebesar bandara. Sirkuit bisa selesai dalam 12 bulan, jadi masih on time,” tutur Barry.

Salah satu sudut pantai KEK Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Salah satu sudut pantai KEK Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat. | Kris /Biro Pers Sekretariat Presiden

Sementara untuk proses pembangunan infrastruktur besar, Barry tidak bisa menjanjikan banyak hal.

Pihaknya mengaku membutuhkan banyak dukungan dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk mendukung penyelesaian pembangunan di kawasan sekitar KEK Mandalika.

Ada tiga poin yang dipaparkannya. Pertama, pihaknya meminta pemerintah membangun akses jalan langsung dari bandara menuju KEK Mandalika.

Menurutnya, jalan yang sudah ada saat ini tidak mumpuni untuk dijadikan akses saat MotoGP berlangsung. Usulannya adalah pembangunan jalan baru berupa jalur bypass dari bandara menuju arena.

“Setiap kali ada balap, akan ada lebih dari 500 kontainer besar yang membawa alat. Ini tidak bisa dipenuhi dengan jalan existing yang melewati jalan berliku dan gunung-gunung,” kata Barry.

Kedua, sebagai pengelola KEK Mandalika, Barry berharap pemerintah turut mendukung proses pengembangan melalui perluasan Bandara Internasional Lombok.

Salah satunya dengan menambah panjang runway dari saat ini 2.750 kilometer (km) menjadi lebih dari 3.250 km. Selain itu, dibutuhkan juga penambahan apron dan terminal di dalam bandara untuk menampung lonjakan penumpang.

Sebab ITDC menargetkan akan ada 200.000-300.000 wisatawan, baik lokal maupun internasional, bakal menghadiri ajang balap kelas dunia tersebut.

Ketiga, selain bandara, ITDC juga mengharapkan pemerintah menjadikan Pelabuhan Gili Mas, Lombok Barat, sebagai hub penyeberangan yang mampu menampung kapal-kapal dari mulai feri hingga pesiar.

“Setiap kali ada balap MotoGP, di mana saja, pasti ada penggemar yang datang dengan kapal pesiar. Di sini kami berharap Pelabuhan Gili Mas bisa memenuhi kebutuhan wisatawan yang datang ke Mandalika,” tukasnya.

Dengan dukungan Bali

Dalam kunjungan kerjanya ke KEK Mandalika, pada hari yang sama, Presiden Joko “Jokowi” Widodo mengklaim perkembangan yang ada—dari segi fasilitas—di kawasan ini sudah baik.

“Standar tinggi harus dimulai sejak awal,” tutur Jokowi.

Berkenaan dengan permintaan ITDC, Jokowi pun memastikan bahwa pemerintah pusat bakal mendukung seluruh infrastruktur penunjang yang dibutuhkan KEK Mandalika, termasuk perluasan bandara hingga pembangunan jalan.

Oleh karenanya, Jokowi berharap seluruh pembangunan konstruksi bisa dilakukan pada Januari 2020, sehingga satu tahun setelahnya seluruh infrastruktur itu bisa digunakan.

“Memang kita ingin ini segera diselesaikan. Ini tidak hanya untuk MotoGP saja. Tapi akses paling bagus untuk masuk ke Mandalika. Sehingga perkembangan Mandalika kita harapkan bisa jadi Bali baru,” kata Jokowi.

Presiden Joko "Jokowi" Widodo dan Direktur Utama ITDC Abdulbar M. Mansoer saat meninjau pembangunan KEK Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat (17/5/2019).
Presiden Joko "Jokowi" Widodo dan Direktur Utama ITDC Abdulbar M. Mansoer saat meninjau pembangunan KEK Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat (17/5/2019). | Kris /Biro Pers Sekretariat Presiden

Terkait dengan seluruh persiapan yang tengah dikebut, Dirut ITDC Abdulbar M. Mansoer (Barry) turut menyatakan bahwa dalam pelaksanaan MotoGP nanti, pihaknya tetap akan memanfaatkan Bali sebagai salah satu alternatif penginapan pengunjung.

Sebab sampai saat ini, KEK Mandalika baru memiliki satu hotel berbintang 5. Sementara tiga lainnya masih dalam tahap pembangunan.

Dalam rencana besarnya, ITDC menargetkan pembangunan 1.000 kamar hingga akhir 2020. Namun jumlah itu tetap tidak akan cukup. Karena yang akan datang diprediksi bisa mencapai 200 kali lipatnya.

"Nah, di sini kami sangat mengandalkan Bali. Karena Lombok dekat dengan Bali, kita bisa mengandalkan akomodasi dan trafik dari sana," kata Barry.

Salah satu kawasan yang bakal dioptimalkannya adalah Nusa Dua. Komplek yang juga dikelola ITDC itu tercatat memiliki 5.000 kamar dari total 19 hotel yang ada di Nusa Dua.

Sementara untuk akses perjalanannya, Barry memberikan dua opsi. Pertama pesawat terbang dengan estimasi waktu perjalanan 30 menit dan kedua penyeberangan dengan feri atau pesiar yang bisa ditempuh dalam 2 jam perjalanan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR