INVESTASI

Menimbang untung investasi SBR005 atau reksa dana

Direktur Surat Utang Negara pada Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Kemenkeu Loto S. Ginting memperlihatkan informasi tentang Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR005 ketika peluncuran di Jakarta, Kamis (10/1/2019).
Direktur Surat Utang Negara pada Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Kemenkeu Loto S. Ginting memperlihatkan informasi tentang Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR005 ketika peluncuran di Jakarta, Kamis (10/1/2019). | Wahyu Putro A /Antara Foto

Istilah investasi tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Melalui investasi, setiap orang bisa mengantisipasi dampak inflasi yang tidak bisa dilakukan hanya dengan menabung di bank.

Saat ini produk investasi dalam hal keuangan beragam ditemui dalam beberapa jenis, misalnya deposito, emas, atau saham. Yang teranyar, pemerintah semakin gencar mempromosikan produk investasi berupa Surat Berharga Negara (SBN) ritel yang ditujukan bagi para investor muda.

Setelah berhasil merilis saving bond ritel (SBR) seri SBR004 tahun lalu, pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) kembali menerbitkan SBR005. Seri terbaru juga dijual secara daring (online) melalui beberapa mitra distribusi baik bank maupun perusahaan teknologi finansial (fintech). Surat utang tersebut mulai dipasarkan sejak 10 Januari hingga 24 Januari dengan total jumlah Rp5 triliun.

Peluncuran SBR005 dilakukan di tengah kebangkitan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak awal 2019. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), valuasi IHSG mengalami perkembangan dari posisi terendahnya di 13,2 kali pada 18 Oktober 2018 menjadi 14,5 kali saat ini. Sepanjang tahun ini diperkirakan indeks akan bisa menguat sampai dengan 9 persen.

Hal ini tentunya membuat investasi langsung di pasar modal juga menarik. Salah satunya melalui produk reksa dana pasar uang. Sejumlah manajer investasi menilai prospek reksa dana pasar uang tahun ini semakin baik, melanjutkan pencapaian kinerja tahun lalu, seiring dengan masih berlanjutnya tren kenaikan suku bunga.

Chief Executive Officer Maybank Asset Management, Denny R. Thaher, menilai bahwa prospek reksa dana pasar uang pada 2019 cukup menarik karena akan memberikan imbal hasil (return) yang kompetitif dibandingkan dengan hanya menyimpan uang di bank.

Mari kita bandingkan keuntungan dan kerugian berinvestasi di dua jenis instrumen tersebut.

Reksa dana pasar uang

Reksa dana merupakan tempat menghimpun dana secara kolektif. Dana yang terkumpul akan dikelola oleh manajer investasi yang akan diinvestasikan pada jenis investasi lainnya.

Reksa dana terdiri dari beberapa jenis, antara lain: reksa dana pasar uang, saham, pendapatan tetap dan campuran. Jenis risiko yang dimiliki reksa dana pastinya berbeda, tergantung jenis risiko yang dipilih.

Reksa dana pasar uang, adalah reksa dana yang mempunyai kebijakan untuk berinvestasi sebanyak 100 persen pada instrumen pasar uang. Yang dimaksud dengan instrumen pasar uang adalah surat berharga yang jatuh temponya tidak lebih dari satu tahun, termasuk deposito di bank.

Obligasi yang diterbitkan oleh korporasi dan negara seperti Obligasi Ritel (ORI) dan Sukuk Ritel, juga termasuk pasar uang apabila jatuh temponya tidak lebih dari satu tahun.

Reksa dana ini memiliki risiko yang paling rendah karena investasinya di instrumen yang likuid alias mudah dicairkan dan cocok untuk investor yang punya profil risiko sangat konservatif. Namun imbal hasil yang didapatkan dari reksa dana ini juga paling rendah dibandingkan dengan jenis reksa dana lainnya.

Namun, berdasarkan data Infovesta Equity Index, pada 2018 indeks reksa dana pasar uang menjadi satu-satunya yang mencatatkan kinerja positif, yakni sebesar 4,18 persen. Tingginya volatilitas pasar tahun lalu membuat investor memburu produk yang aman dan rendah risiko, seperti reksa dana pasar uang.

Menurut Head of Investment Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, prospek reksa dana pasar uang pada 2019 akan lebih baik dibandingkan dengan 2018. Dia menilai bahwa pada 2019, besaran suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dimulai dengan tingkat yang lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu.

Menurutnya, faktor suku bunga acuan sangat berpengaruh terhadap kinerja reksa dana uang. Dia memprediksi masih berlanjutnya tren kenaikan suku bunga pada tahun ini akan mengerek kinerja reksa dana pasar uang.

"Tahun lalu, pada saat suku bunga acuan BI di level 4,75 persen, imbal hasil reksa dana pasar uang mampu mencapai return hingga 4,2 persen. Sekarang, dengan suku bunga sudah 6 persen, seharusnya return-nya bisa 5-6 persen," ujar Wawan kepada Beritagar.id.

SBR005

SBR005 termasuk ke dalam instrumen investasi karena masyarakat yang membeli akan mendapatkan keuntungan dari kupon (bunga).

Berdasarkan keterangan resmi Kemenkeu, tingkat kupon SBR005 ditetapkan 8,15 persen dengan tenor dua tahun. Tingkat kupon tersebut berasal dari suku bunga acuan yang berlaku pada saat penetapan kupon, yaitu sebesar 6 persen ditambah spread 215 basis poin (bps) atau 2,15 persen.

Kupon SBR005 mengikuti perkembangan suku bunga dengan tingkat kupon minimal 8,15 persen per tahun, dibayarkan setiap bulan selama dua tahun.

Namun, berbeda dengan produk surat utang ritel pemerintah lainnya, SBR005 tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Sehingga membuat SBR005 tidak likuid atau tidak mudah dicairkan.

Akan tetapi, produk investasi SBR005 memiliki fasilitas pencairan lebih awal (early redemption). Jadi, meskipun investor tidak dapat menjualnya di pasar sekunder, apabila investor membutuhkan dana cepat, maka SBR005 investor dapat dicairkan lebih awal sebelum masa jatuh tempo.

Pada SBR005, satu individu bisa membeli produk surat utang ini dalam minimum investasi yang relatif kecil yakni mulai dari Rp1 juta hingga yang paling besar Rp3 miliar.

Dari segi risiko, instrumen investasi ini terbilang cukup aman, mengingat pembayaran kupon dan pokok telah dijamin oleh Undang-Undang.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR