Menjadi wirausahawan, swadaya dengan usaha mandiri

Perajin menyelesaikan kerajinan kertas kokoru di workshop Wahyucraft di Desa Medalsari, Karawang, Jawa Barat, Senin (24/9). Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah pada tahun ini akan memfasilitasi 2.500 UKM dalam hal standarisasi dan sertifikasi meliputi 1.514 merk dagang, 556 hak cipta, 330 produk akan memperoleh PIRT/ISO/HACCP serta 100 produk untuk label halal.
Perajin menyelesaikan kerajinan kertas kokoru di workshop Wahyucraft di Desa Medalsari, Karawang, Jawa Barat, Senin (24/9). Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah pada tahun ini akan memfasilitasi 2.500 UKM dalam hal standarisasi dan sertifikasi meliputi 1.514 merk dagang, 556 hak cipta, 330 produk akan memperoleh PIRT/ISO/HACCP serta 100 produk untuk label halal. | M. Ibnu Chazar /Antara Foto

Tidak bisa dimungkiri, menjadi pengusaha berarti harus mau keluar dari zona nyaman yang selama ini dinikmati. Menjadi wirausahawan dituntut untuk mencoba hal baru dan berjuang dengan serius.

Tapi kenyataannya, tidak sedikit orang yang terlalu nyaman untuk menerima gaji bulanan yang sudah pasti, meskipun harus rela bekerja selama 8 jam dalam sehari, atau bahkan lebih.

Selain itu, menjadi karyawan tanpa sadar juga membuat banyak orang merasa aman, karena alur hidupnya sudah jelas. Mereka tidak perlu repot memikirkan manajemen apalagi jika takut rugi.

Namun tidak ada salahnya jika mencoba. Para wirausahawan di Indonesia sebagian besar mengawali bisnis dari skala kecil, baik dari segi permodalan maupun produksinya.

Tetapi banyak para pelaku bisnis ini yang mampu tumbuh besar dan menciptakan lapangan kerja baru. Dengan bertambahnya lapangan kerja baru, dapat memberi kesempatan kerja bagi masyarakat yang belum terserap perusahaan eksisting.

Keputusan seseorang untuk memulai usaha sendiri dilatarbelakangi oleh motif yang beragam. Di Indonesia, mayoritas keputusan untuk memulai usaha sendiri utamanya dilandasi oleh faktor traditional status.

Ini adalah faktor yang menjadikan seseorang mempunyai sikap dan perilaku sebagai pengusaha; membuka usaha baru atau meneruskan usaha keluarga.

Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan secara sederhana. Kegiatan informal dari penduduk yang bekerja mandiri dapat diidentifikasi berdasarkan tujuh status pekerjaan.

Ketujuh status pekerjaan tersebut adalah; berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap, berusaha dibantu buruh tetap, buruh/karyawan, pekerja bebas di pertanian, pekerja bebas di nonpertanian, dan pekerja keluarga/tidak dibayar.

Tapi kali ini, Lokadata Beritagar.id hanya akan mengulas data untuk kategori pekerja yang berusaha mandiri. Kategori ini adalah seorang entrepreneur yang membuka usaha mandiri, biasanya disebut Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Pekerja kategori ini biasanya rela menanggung risiko ekonomisnya sendiri, seperti merelakan ongkos produksi yang tidak kembali.

Beberapa contoh profesi pada kategori ini adalah sopir lepas (tidak mendapat gaji) dengan sistem setoran, tukang becak, tukang kayu, tukang pijat, tukang gali sumur, agen koran, tukang ojek, pedagang warung, dokter/bidan/dukun yang membuka praktik mandiri dan sebagainya.

Menurut data BPS 2018, terdapat sekitar 28 juta penduduk berusia di atas 10 tahun yang memiliki status pekerjaan berusaha sendiri. Sementara, provinsi Maluku tercatat memiliki persentase penduduk berusaha sendiri tertinggi. Sedangkan persentase terendah berada di provinsi Banten.

Persentase penduduk yang berusaha sendiri beserta alasannya.
Persentase penduduk yang berusaha sendiri beserta alasannya. | Lokadata /Beritagar.id

BPS mensurvei, ada beberapa alasan mengapa seseorang memilih membuka usaha sendiri dan enggan mencari pekerjaan lain atau mempersiapkan usaha baru.

Dari total penduduk yang memilih berusaha sendiri, sebanyak 72,5 persen atau mayoritas penduduk beralasan karena sudah mempunyai usaha. Alasan ini terutama ditujukan kepada seseorang yang telah mempunyai pekerjaan dan usaha yang telah disiapkan sehingga mereka merasa tidak perlu mencari pekerjaan dan usaha lain.

Saat lulus kuliah lima tahun lalu, Aprilla Harso (27) memilih untuk tidak mengikuti jejak teman-temannya yang menyebar portofolio lamaran kerja ke sejumlah korporasi.

Ia mantap memilih melanjutkan usaha penggilingan daging di Purwokerto, Jawa Tengah, yang telah dirintis oleh orangtuanya sejak belasan tahun lalu. Omzet yang menjanjikan, jam kerja yang fleksibel hingga tempat kerja yang dekat dengan rumah menjadi alasannya memilih bertahan membangun bisnis keluarga.

"Sebetulnya ada pikiran untuk cari pekerjaan lain, tapi setelah dipikir-pikir, enggak ada salahnya mengurus bisnis keluarga. Bisnis ini yang sudah menghidupi saya sejak kecil," ujar Aprilla saat berbincang dengan Beritagar.id, Sabtu (23/2/2019).

Selain faktor tradisional, alasan lain orang memulai berusaha sendiri adalah karena merasa sudah cukup. Untuk kasus ini bisa jadi karena seseorang tersebut sudah merasa cukup dengan pendapatan yang bersumber dari pensiunan atau warisan.

Sementara motif berusaha sendiri karena alasan putus asa hanya mencakup 0,87 persen dari total penduduk yang berusaha sendiri .

Sebaran penduduk yang berusaha sendiri menurut sektor lapangan usaha terbanyak, 2018.
Sebaran penduduk yang berusaha sendiri menurut sektor lapangan usaha terbanyak, 2018. | Lokadata /Beritagar.id

Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) BPS 2018, terdapat 26 sektor lapangan usaha yang “digeluti” penduduk berusaha sendiri. Tapi, hanya tiga sektor lapangan usaha yang paling mendominasi di setiap provinsi di Indonesia.

Pertama yakni sektor usaha perdagangan besar dan eceran; reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor. Sektor usaha ini mendominasi di 26 provinsi.

Sektor usaha kedua yakni perkebunan yang tersebar di tujuh provinsi dan selanjutnya adalah sektor usaha pertanian tanaman padi dan palawija. Dua sektor usaha terakhir tersebut sangat mendominasi wilayah Indonesia Timur yang memang masih sangat bergantung dengan ketersediaan sumber daya alam (SDA).

Pemerintah sendiri sangat mendorong terbentuknya wirausaha baru di Indonesia. Bagaimana tidak, menurut data Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) saat ini jumlah pengusaha Indonesia masih jauh di bawah rasio total penduduk.

Pada 2017 jumlah pengusaha muda di Indonesia hanya mencapai 3,7 persen dari total penduduk. Jumlah itu masih tertinggal jauh dibandingkan negara-negara lain seperti Malaysia 5 persen, Singapura 7 persen, dan Thailand 4,5 persen.

"Kalau memulai bisnis, jangan takut dengan risiko. Saya itu sama jatuh bangun, bolak balik enggak sekali dua kali dan bisa. Bisnis itu ada risiko untung dan risiko rugi, itu hal yang biasa," ujar Presiden Joko Widodo dikutip dari CNBC Indonesia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR