KESEHATAN MENTAL

Menumbuhkan empati bagi pengidap gangguan jiwa

EMPATI | Pengidap gejala dan gangguan jiwa tidak butuh dikasihani, melainkan empati dari mereka di sekitar dan orang-orang terdekat. Mari putus segala warisan stigma dan labeling terhadap mereka.

Riset Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan menunjukkan hubungan antara status sosial ekonomi dan kondisi lingkungan permukiman terhadap kesehatan jiwa seseorang.

Faktor-faktor lingkungan sosial seperti kondisi ekonomi, buruknya hubungan dengan pemilik rumah sewa, mahalnya biaya perbaikan tempat tinggal, dan kekhawatiran akan penggusuran bisa memicu gejala dan gangguan jiwa. Riset itu menyimpulkan, masyarakat ekonomi kelas bawah memiliki risiko menderita gangguan jiwa 1,3 kali lebih besar ketimbang masyarakat ekonomi kelas menengah dan atas.

Temuan serupa ada dalam data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018. Secara berurutan persentase gejala dan gangguan jiwa, lebih banyak diderita masyarakat berstatus ekonomi kelas bawah. Baru kemudian kelas menengah dan kelas atas.

Definisi pengidap gangguan jiwa dalam survei BPS adalah orang yang selalu mengalami kesulitan mengendalikan perilaku maupun emosi hingga sama sekali tidak bisa berinteraksi. Sedangkan penderita gejala gangguan jiwa adalah orang yang kadang-kadang kesulitan mengendalikan perilaku maupun emosi. Namun, lebih sering bisa diajak berinteraksi.

Gejala dan gangguan jiwa menurut wilayah, 2018.
Gejala dan gangguan jiwa menurut wilayah, 2018. | Lokadata /Lokadata

Berdasarkan wilayah tempat tinggal, jumlah penderita gejala dan gangguan jiwa hampir merata di wilayah perdesaan dan perkotaan. Meskipun selisih tipis lebih banyak di kawasan perkotaan.

Realitas desa yang identik dengan lahan hijau, udara sejuk, keramahan serta keakraban antar-warga dianggap bisa menentramkan jiwa. Namun, persentase gejala dan gangguan jiwa dalam setahun terakhir patut menjadi perhatian bersama atas kondisi kesehatan jiwa di wilayah perdesaan.

Dari perspektif sosiologis, kebersamaan adalah salah satu makna positif yang melekat di desa. Desa digambarkan sebagai masyarakat dalam suatu lingkungan di mana mereka saling mengenal, punya sifat sederhana dengan ikatan sosial, adat, dan tradisi kuat.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 seperti mengonfirmasi hal ini. Sebanyak 1,7 persen penduduk desa menderita gejala gangguan jiwa. Sama halnya dengan 1,7 persen penduduk kota yang terganggu jiwanya. Bahkan, persentase penduduk pengidap gangguan jiwa di desa (0,6 persen) lebih besar daripada penduduk di kota (0,5 persen).

Menurut dokter spesialis kesehatan jiwa, Eka Viora, empati menjadi penting dalam hal ini. Penderita gangguan jiwa tidak butuh dikasihani, apalagi dihakimi atau dilabeli. Mereka butuh tindakan nyata.

"Jangan menutup jalan emosi yang sedang mereka keluarkan dengan mengatakan kalimat seperti 'Sudahlah, ini takdir', 'Begitu saja cengeng', 'Hidup saya lebih susah', dan lain sebagainya. Beri masukan jika mereka sudah merasa lega dan mampu berpikir jernih," jelas Eka.

Praktik empati bisa dilakukan dengan menunjukkan bahwa kita adalah orang yang bisa dipercaya. Mendengar keluhan tanpa menghakimi. Dari situ akan muncul keterbukaan.

Empati di desa dan kota perlu dipupuk sebelum telanjur luntur. Meminjam sepotong bait lagu Desa milik Iwan Fals, "...Desa adalah kenyataan. Kota adalah pertumbuhan. Desa dan kota tak terpisahkan. Tapi desa harus diutamakan…."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR