Menyoroti foto kucing hutan hasil buruan di Facebook

(Ilustrasi) Leopard Cat.
(Ilustrasi) Leopard Cat. | Kuribo / CC BY-SA 3.0 /Wikimedia Commons

Catatan redaksi: artikel ini memuat gambar yang mengandung unsur kekerasan, mohon disikapi dengan bijak.

Akun Facebook, Ida Tri Susanti jadi bulan-bulanan netizen. Penyulutnya adalah foto-foto yang memamerkan tiga ekor kucing hutan hasil buruan.

"Hasil berburu hari ini... nyam... nyam..." demikian tertulis dalam status Ida Tri Susanti. Dalam beberapa foto, dirinya melempar senyum sambil memegang dua ekor kucing hutan--yang diduga sebagian netizen sudah tak bernyawa.

Sebagai informasi, status itu dibagikan sekitar sebulan silam (12 September 2015). Namun baru menyita perhatian netizen pada Sabtu (17/10/2015).

Di forum KasKus, keriuhan seputar topik ini dimulai pada Sabtu siang (17/10). Bermula dari thread akun andbusss dengan tajuk: bangga bunuh kucing hutan. Dalam posting-nya, akun andbusss juga menyertakan foto-foto tangkapan layar status Ida Tri Susanti.

Hingga artikel ini ditulis (17/10), thread itu telah dibagikan lebih dari 1700 kali di berbagai layanan media sosial lain.

Kehebohan juga terjadi di status Ida Tri Susanti itu. Para pengguna Facebook ramai-ramai mengecamnya di kolom komentar. Beberapa akun lain menyebar foto-foto itu dengan kritikan. Di Twitter, sejumlah tweeps turut membagikan komentar miring.

Setelah kebanjiran kecaman, akun Ida Tri Susanti pun hilang dari Facebook. Besar kemungkinan akun itu dinonaktifkan (sementara) atau dihapus pemiliknya.

Beritagar.id sempat mencermati akun Ida Tri Susanti. Merujuk profilnya, perempuan itu berasal dari Lumajang, Jawa Timur. Dalam salah satu komentar, dirinya juga sempat menyebut "Tunjungrejo".

Dari keterangan itu, agaknya foto kontroversial ini diambil di desa Tunjungrejo, Kecamatan Yosowilangun, Lumajang, Jawa Timur.

Tangkapan layar posting akun Ida Tri Susanti (kiri). Komentar Ida Tri Susanti yang menyebut nama desa Tunjungrejo. 17 Oktober 2015, pukul 13.20 WIB.
Tangkapan layar posting akun Ida Tri Susanti (kiri). Komentar Ida Tri Susanti yang menyebut nama desa Tunjungrejo. 17 Oktober 2015, pukul 13.20 WIB. | Istimewa /Facebook

Sekilas tentang Kucing hutan

Kucing hutan, biasa pula disebut "blacan" atau "meong congkok". Sementara nama latinnya Felis Bengalensis. Kerap juga diistilahkan sebagai Asian Leopard Cat.

Situs Littleleopardcats.com menjelaskannya sebagai kucing liar kecil yang terutama berasal dari Asia Tenggara. Rata-rata seukuran kucing domestik di masing-masing wilayah. Di Indonesia ukuran rata-ratanya 45 cm, ditambah 20 cm ekor.

Organisasi internasional bidang konservasi alam, International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan kucing hutan dalam "daftar merah" (IUCN Red List). Daftar itu kerap disebut sebagai direktori paling komprehensif seputar status konservasi (baca: pemeliharaan dan perlindungan) spesies biologis.

Pemerintah Indonesia juga menggolongkan kucing hutan sebagai satwa yang dilindungi, merujuk PP No. 7/1999.

Ihwal perlakukan tidak wajar terhadap satwa yang dilindungi diatur dalam pasal 21 ayat (2) UU No. 5/1990. Antara lain, peraturan itu melarang setiap orang untuk, "menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup".

Pelanggaran atas peraturan itu, bisa berhadapan dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp100 juta.

Sekadar catatan, laporan Mongabay (30 April 2014) turut menyinggung soal kucing hutan yang kerap menjadi sasaran perburuan, terutama di wilayah Jawa Timur.

Laporan itu juga mengutip pernyataan ProFauna Indonesia. Mereka mencatat adanya tingkat perburuan satwa yang cukup tinggi di Jawa Timur. Wilayah itu juga menjadi penyuplai satwa yang diperdagangkan di Indonesia, khususnya di Jawa.

Satwa yang diperdagangkan diburu dari Taman Nasional di Jawa Timur seperti Meru Betiri, Baluran, juga Gunung Lamongan. Menurut pemantauan ProFauna, satwa yang ditangkap kerap dipusatkan di Lumajang. Selanjutnya didistribusikan ke berbagai daerah, termasuk Surabaya dan Malang.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR