Menyoal #G30SPKI yang memuncaki topik tren Twitter

Warga mengamati Monumen Pancasila Sakti yang terdiri dari tujuh Pahlawan Revolusi, Selasa (29/9).
Warga mengamati Monumen Pancasila Sakti yang terdiri dari tujuh Pahlawan Revolusi, Selasa (29/9). | Hafidz Mubarak A /ANTARA FOTO

Tagar #G30SPKI memuncaki daftar topik tren Twitter Indonesia, Rabu (30/9/2015). Bertepatan dengan peringatan 50 tahun meletusnya Gerakan 30 September (1965).

Kicauan di tagar itu, dipenuhi dengan ajakan untuk mengenang jasa para Pahlawan Revolusi.

Misalnya, termuat dalam kicauan personel JKT48, Aninditha Rahma (@R_AninJKT48), yang mengajak sekitar 113 ribu pengikutnya untuk mengheningkan cipta mengenang para Pahlawan Revolusi.

Sejumlah akun juga berkicau sembari mengingatkan kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI), yang kerap dituding sebagai dalang peristiwa berdarah itu. Kicauan berpengaruh lain datang dari akun @zarryhendrik, @maspiyungan, @JogjaMedia, dan lain-lain.

Tentang istilah G30S/PKI

Di sisi lain, penggunaan istilah G30S/PKI sering menjadi perdebatan. Istilah ini berdasar pada klaim sejarah Orde Baru.

Sebagai catatan, Gerakan 30 September juga menjadi titik tolak pergantian rezim di Indonesia, dari era Orde Lama (Sukarno) ke masa Orde Baru (Soeharto).

Seperti termuat dalam sejarah resmi Indonesia, sejumlah perwira menengah Angkatan Darat (AD) melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap tujuh orang jenderal.

Para pelaku berdalih mengamankan Presiden Soekarno dari upaya penggulingan, yang konon direncanakan Dewan Jenderal--beranggotakan para jenderal yang diculik. Buku-buku sejarah Orde Baru, menuding PKI sebagai dalang di balik aksi itu.

Namun, tak sedikit yang meragukan klaim sejarah Orde Baru itu. Cornell Paper yang ditulis dua Indonesianis, Ben Anderson dan Ruth McVey justru menyebut peristiwa itu sebagai konflik internal angkatan darat.

Pendapat lain, termuat dalam buku Dalih Pembunuhan Massal (2006), yang ditulis sejarawan John Roosa. Ia menyebut keterlibatan Amerika Serikat dan tentara Indonesia yang memang telah bersiap dan menunggu memanasnya kondisi di Indonesia. Meski begitu, ia tidak membantah bahwa ada elemen kecil dalam PKI yang terlibat dalam provokasi.

Versi berbeda itu, membuat istilah G30S/PKI dianggap tak netral. Ben Anderson dan Ruth McVey lebih suka menyebut istilah G30S atau "Gerakan 30 September".

"Rasanya tidak ada ungkapan dalam bidang bidang pendidikan Indonesia yang seheboh istilah G30S," tulis Asvi Warman Adam dalam bukunya Membongkar Manipulasi Sejarah: Kontroversi Pelaku dan Peristiwa.

Di bidang pendidikan, kurikulum 2004 (baca: pasca reformasi) sempat menyebut peristiwa itu sebagai G30S. Namun pada kurikulum 2006, istilah G30S/PKI digunakan kembali. Adapun pada kurikulum 2013, istilah itu juga masih berlaku.

Sebagai pengingat, dampak Gerakan 30 September juga luar biasa. PKI menjadi sasaran penumpasan. Operasi dilakukan oleh Angkatan Darat bergandengan dengan sejumlah ormas.

Perkiraan korban tewas akibat aksi penumpasan PKI punya banyak versi, berkisar antara 78 ribu sampai 2 juta orang. Korban adalah anggota, simpatisan, hingga mereka yang dicap PKI. Itu belum termasuk ribuan lainnya yang menjadi tahanan politik.

Tagar lain

Di luar #G30SPKI, ada juga tagar lain yang mungkin terdengar lebih netral, #50Tahun65.

Kicauan dalam tagar #50Tahun65 lebih banyak melihat perkara ini dalam sudut pandang korban--yang dibantai dan menjadi tahanan politik.

Beberapa akun media seperti BBC Indonesia dan Deutsche Welle Indonesia juga membagikan sejumlah artikel mereka dengan tagar itu. BBC Indonesia turut menurunkan laporan khusus bertajuk Setengah abad pelanggaran HAM 1965/1966.

Meski demikian tagar ini memang kalah populer. Menurut Topsy, dalam sepekan terakhir populasinya hanya mencapai ratusan kicauan.

Padahal keberadaannya sudah cukup lama di linimasa Twitter. #50Tahun65 pertama kali dibagikan akun @KerjaPembebasan, pada 26 Januari 2015.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR