REKLAMASI TELUK BENOA

Menyoal pernyataan Adian Napitupulu soal reklamasi Teluk Benoa

Adian Yunus Yusak Napitupulu, politikus sekaligus aktivis 98, saat ditemui di Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) di kawasan Menteng, Jakarta Pusat (23 Juni 2014).
Adian Yunus Yusak Napitupulu, politikus sekaligus aktivis 98, saat ditemui di Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) di kawasan Menteng, Jakarta Pusat (23 Juni 2014). | Nurdiansah /Tempo

Anggota DPR dari fraksi PDIP, Adian Napitupulu, menuai sentimen negatif di media sosial. Hal tersebut menyusul lontarannya seputar rencana reklamasi Teluk Benoa, Bali.

Lebih kurang, Adian menyebut, saat ini tak ada lagi masalah seputar perizinan reklamasi Teluk Benoa. Pernyataan tersebut disampaikan Adian dalam forum diskusi publik soal evaluasi dan proyeksi pembangunan Bali (2016-2020) di Auditorium Widya Sabha Utama, Universitas Warmadewa, Denpasar, Selasa (2/2/2016).

"Dengan rapat temen-temen Komisi VII no problem, begitu juga pimpinan MPR. Menteri Susi juga kan mensyaratkan agar akses lingkungan diperhatikan, itu kan kewajiban," kata aktivis mahasiswa angkatan 98 itu, seperti dilansir Tribun Bali.

Adian pun menyebut proses reklamasi Teluk Benoa, akan mempertimbangkan aspek kultural dan ekonomi masyarakat.

"Dihitung saja baik buruknya segala macam. Dalam rencana kerja revitalisasi ini, seperti Pulau Pudut, apa yang disebut normalisasi akan mengikuti alur kuno laut itu. Jadi yang pro dan kontra harus duduk bareng," ujar anggota Komisi VII DPR itu --bidang energi sumber daya mineral, riset-teknologi, dan lingkungan hidup.

Kritik datang dari netizen dan aktivis yang selama ini getol menolak reklamasi Teluk Benoa. Mereka menilai pernyataan Adian itu menunjukkan dukungannya terhadap reklamasi Teluk Benoa.

Komentar pedas dibagikan penulis dan peneliti, Made Supriatma. Rabu (3/2), Komentar yang dibagikan lewat Facebook itu, meraih lebih dari seribu tanda suka.

Dalam statusnya, Made menyindir posisi Adian yang kerap dilabeli sebagai aktivis anti-orde baru. Menurut Made dukungan Adian pada reklamasi justru menunjukkan watak "orbais."

Berikut beberapa respons netizen atas pernyataan Adian.

Komentar Adian dinilai janggal

Respons atas pernyataan Adian juga datang dari Wayan Gendo Suardana, Koordinator Umum Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI).

Menurut Gendo, pernyataan Adian soal izin yang sudah beres terdengar aneh. Pasalnya, proses uji publik analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) baru berlangsung beberapa hari silam.

"Dalam uji amdal itu, ada sekitar 240 poin catatan (penolakan) dari masyarakat. Terakhir, disepakati poin-poin itu akan diperbaiki dalam waktu 30 hari. Kok, tiba-tiba Adian bilang kalau semua izin sudah selesai," kata Gendo, kepada Beritagar.id, lewat sambungan telepon.

Gendo juga menyayangkan pernyataan itu keluar dari "seorang anggota dewan berlatar belakang aktivis."

Pengunjuk rasa dari ForBALI, menolak rencana revitalisasi Teluk Benoa dalam aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Jumat (29/1).
Pengunjuk rasa dari ForBALI, menolak rencana revitalisasi Teluk Benoa dalam aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Jumat (29/1). | Nyoman Budhiana /Antara Foto

Adapun proses uji amdal yang disebut Gendo berlangsung pada 29 Januari 2016. Proses tersebut juga disambut aksi demonstrasi ribuan massa ForBALI.

Kepada Beritagar.id, Gendo menyebut saat ini ada 17 desa adat yang bergabung dalam ForBALI, dan menolak rencana reklamasi Teluk Benoa.

"Semua keputusan desa adat, diambil melalui mekanisme rapat adat resmi yang melibatkan masyarakat," kata Gendo. Menurutnya, ForBALI tunduk kepada desa-desa adat itu, yang disebutnya sebagai pemimpin dalam gerakan ini.

Saat ini, ForBALI mendesak pembatalan Perpres 51/2014. Perpres yang diteken Susilo Bambang Yudhoyono itu menjadi landasan reklamasi Teluk Benoa, dengan lahan paling luas 700 hektare.

Secara umum, aspek lingkungan dan budaya menjadi landasan penolakan ForBALI dalam isu ini.

"Reklamasi Teluk Benoa bisa mengubah garis pantai dan alur laut sehingga mengancam kelangsungan hidup biota laut, burung endemik, dan pertumbuhan terumbu karang," demikian kutipan argumen dalam petisi penolakan reklamasi Teluk Benoa di Change.org.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR