MOBIL LISTRIK

Menyoroti dampak vonis Dasep, pencipta mobil listrik

Terdakwa kasus korupsi pengadaan mobil listrik tahun 2013 Dasep Ahmadi berjalan keluar meninggalkan ruang sidang saat sidang pembacaan putusannya di skors di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (14/3/2016).
Terdakwa kasus korupsi pengadaan mobil listrik tahun 2013 Dasep Ahmadi berjalan keluar meninggalkan ruang sidang saat sidang pembacaan putusannya di skors di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (14/3/2016). | Hafidz Mubarak /Antara Foto

Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi menjatuhkan vonis 7 tahun penjara dan membayar uang pengganti Rp17,1 miliar kepada Direktur PT Sarimas Ahmadi Pratama, Dasep Ahmadi. Dalam sidang yang digelar Senin (14/3/2016), Dasep dinilai terbukti memperkaya diri sendiri dan menyebabkan kerugian negara lebih dari Rp28 miliar.

Dasep dinyatakan terbukti melanggar Pasal 2 ayat 1 jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

"Menyatakan terdakwa terbukti sah dan meyakinkan melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi," ujar Ketua Majelis Hakim Tipikor Arif Waluyo dikutip Kompas.com.

Vonis terhadap Dasep ini memunculkan reaksi dari berbagai kalangan. Deputi Bidang Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif, Fadjar Hutomo mengatakan vonis terhadap Dasep dapat membuat ketakutan bagi para pelaku ekonomi kreatif. Apalagi, menurut dia, pemerintah sedang fokus untuk mendorong industri ini semakin berkembang.

"Itu satu hal yang memprihatinkan, di tengah negara kita membutuhkan banyak sosok kreatif seperti dia, ini malah seperti ini. Ini memang tantangan bagi kita," kata Fadjar dikutip Merdeka.com, Rabu (16/3/2016).

Perancang mobil listrik Ricky Elson menyoroti vonis terhadap Dasep. Ricky dan timnya merampungkan supercar yang dinamai Selo dan MPV premium bernama Gendhis. Selo merupakan hasil pengembangan mobil sport listrik Tuxuci yang digagas mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan.

"Sangatlah berat dampaknya kelak pada masa depan negeri ini, pada psikologis anak anak muda kreatif negeri ini," tulis Ricky Elson di laman Facebooknya.

Izin Gaduh Ndan? eh Gan. Saya tahu banyak persoalan yang lebih berat di Negri ini.Namun saya fikir, permasalaha yang...

Posted by Ricky Elson on Tuesday, March 15, 2016

Dasep merupakan wirausaha yang mencoba memproduksi mobil buatan dalam negeri, mobil listrik. Proyek ini diharapkan membangkitkan kembali proyek mobil nasional yang telah lama mati suri. Karya alumni Teknik Mesin ITB angkatan 1984 ini yang pernah dikenalkan ke publik adalah Evina, Electric Vehicle Indonesia.

Kasus mobil listrik yang menjerat Dasep berawal dari permintaan Kementerian BUMN kepada perusahaan BUMN untuk menjadi sponsor pengadaan 16 mobil listrik pada April 2013. Mobil ini diadakan untuk mendukung kegiatan operasional Konferensi Asia-Pasific Economic Cooperation (APEC) di Bali pada Oktober 2013.

Tiga perusahaan BUMN yang berpartisipasi yaitu PT BRI (Persero) Tbk, PT PGN, dan PT Pertamina (Persero). Mereka mengucurkan dana sekitar Rp32 miliar untuk pengadaan mobil listrik melalui PT Sarimas Ahmadi Pratama.

Persoalan muncul karena mobil listrik gagal berfungsi. Mobil listrik pun tak bisa digunakan karena tak sesuai pernjanjian.

Kejaksaan mulai menyidik kasus mobil listrik ini pada Maret 2015. Penyidik telah memeriksa Sofyan Basir, mantan Dirut BRI; Ahmad Baiquni, mantan Direktur Keuangan BRI; dan Santiaji Gunawan, Kepala Departemen Hubungan Kelembagaan PT PGN.

Pada Juni 2015, kejaksaan menetapkan Dasep dan Agus Suherman, eks petinggi di Kementerian BUMN sebagai tersangka. Keduanya dijerat Pasal 2 dan 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi soal perbuatan melawan hukum dan penyalahgunaan wewenang. Agus disebut menunjuk Dasep sebagai pelaku pembuatan mobil listrik tanpa mekanisme lelang.

Kepala Subdirektorat Penyidik Tindak Pidana Korupsi Jaksa Agung Muda Pidana Khusus, Sarjono Turin, dikutip Tempo.co, mengatakan Dasep disebut mengingkari kontrak kerja sama dengan Kementerian BUMN. Sarjono mengatakan Dasep telah menerima pembayaran 92 persen dari total Rp32 miliar.

Kejaksaan Agung menuntut Dasep 12 tahun penjara dan denda sebesar kerugian negara yang ditimbulkan, yakni lebih dari Rp28 miliar.

Dalam surat dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Agung membeberkan bahwa Dasep tidak memproduksi mobil listrik tetapi hanya memodifikasi mobil tersebut. Dasep juga disebut tidak memiliki Agen Tunggal Pemegang Merek (APTM).

Menurut Jaksa, dari total kendaraan listrik yang direncanakan yaitu sejumlah 16 unit, Dasep hanya membuat tiga unit, yaitu satu unit elektrik bus dan dua unit mobil listrik eksekutif. Kendaraan lain telah dirakit tapi tidak dapat beroperasi karena komponennya tak lengkap.

Dasep memodifikasi bodi bus yang dibuat PT Aska Bogor dan PT Delma Bogor. Sedangkan untuk bus listrik, Dasep membeli bus merek HINO kemudian untuk mobil listrik Dasep memodifikasi mobil Toyota Alphard.

Majelis pengadilan Tipikor akhirnya menjatuhkan hukuman penjara 7 tahun bagi Dasep. Dalam perkara ini, hakim yang diketuai Arifin menghilangkan peran turut serta mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan. Majelis menganggap Dasep tidak terbukti melakukan tindak pidana korupsi bersama-sama Dahlan.

"Majelis belum mendapat bukti cukup atas fakta hukum untuk menyebutkan saksi Dahlan Iskan sebagai melakukan perbuatan melawan hukum secara bersama-sama terdakwa, memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi yang mengakibatkan kerugian negara," kata Arifin dilansir Hukumonline.

Menanggapi vonis ini, Dasep mengatakan akan mengajukan banding. Dasep tidak terima jika upayanya untuk mengembangkan prototipe mobil listrik dianggap sebagai kejahatan. Kalaupun ada kekurangan dari pekerjaannya, Dasep menganggap hal itu bukan masuk ranah pidana.

"Kita melakukan yang terbaik, kalau masih ada kekurangan, ya itu wajar. Tapi, kalau ini disebut perbuatan kejahatan, saya tidak terima," katanya dikutip Liputan6.com. "Makanya, teman-teman saya di ITB mendesak saya supaya melakukan banding."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR