PENGELOLAAN SAMPAH

Meracuni kampung dan anak-anak dengan limbah baterai

| Tito Sigilipoe /Beritagar.id

RACUN! | Peleburan aki bekas, untuk mengambil kandungan timbal, terus berlangsung. The Jakarta Post kemarin (4/12/2018) mengutip data Komite Penghapusan Bensin Bertimbal: peracunan berlangsung sejak 2016 terjadi di delapan wilayah Jabodetabek. Sejumlah anak terganggu kesehatannya. Bahkan ada yang cacat.

Pada 2014, detikcom melaporkan 17 titik peleburan aki bekas di Jabodetabek. Asam sulfat (H2SO4) dalam cairan aki mencemari sumber air. Asap bakaran membawa pertikel logam berat termasuk Pb.

Perlu kejelasan dan ketegasan dalam pengelolaan limbah baterai dalam bentuk apa pun, dari baterai kancing sampai aki. Temuan bocah SMP di Jakarta, Rafa Jafar, berupa kotak sampah barang elektronik, perlu dikembangkan dan hasilnya diterapkan luas.

Ingat, dalam produk elektronik bukan hanya ada baterai yang beracun, tetapi juga lempeng sirkuit yang mengandung timbal dan logam lain – termasuk emas.

Haruskah kita seperti tak beranjak dari zaman dulu, sampai tahun 1970-an (tentu, abad lalu itu), ketika tukang gergaji kayu memanfaatkan cairan baterai untuk menggarisi batang pohon yang akan mereka belah dan potong?

Cairan hitam baterai radio transistor dan lampu senter itu masuk ke kuku mereka. Ketidaktahuan membuat mereka abai. Dan berisiko.

BACA JUGA