MITIGASI BENCANA

Merapi bentuk kubah baru, intensitas guguran lava meningkat

Guguran lava pijar gunung Merapi terlihat dari Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (29/12/2018) dini hari. Berdasarkan data pengamatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), pada tanggal (29/12/2018) pukul 00.13 WIB terjadi guguran lava pijar gunung Merapi dengan jarak luncur 400 M kearah hulu Kali Gendol.
Guguran lava pijar gunung Merapi terlihat dari Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (29/12/2018) dini hari. Berdasarkan data pengamatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), pada tanggal (29/12/2018) pukul 00.13 WIB terjadi guguran lava pijar gunung Merapi dengan jarak luncur 400 M kearah hulu Kali Gendol. | Aloysius Jarot Nugroho /AntaraFoto

Intensitas guguran lava Gunung Merapi meningkat dalam sepekan terakhir. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta mencatat guguran lava sepanjang Senin (7/1/2019), mencapai 30 kali dengan jarak luncuran antara 200 hingga 600 meter.

Jarak luncuran tergolong masih aman, meski pada Jumat (4/1/2019), lava Merapi sempat meluncur 1.200 meter hingga mencapai hulu Sungai Gendol, Sleman, Yogyakarta.

Kasi Gunung Merapi BPPTKG DIY Agus Budi Santoso menjelaskan, jarak luncuran lava yang tidak lebih dari satu kilometer (km) biasanya hanya akan membawa material ke seputar kawah, bahkan terkadang hanya berada di dalam kawah.

Sebaliknya, sambung Agus, jika luncuran melebihi 1 km ada kemungkinan material akan sampai ke hulu sungai yang menjadi aliran lava.

Kendati demikian, Agus memastikan aktivitas Merapi saat ini belum menimbulkan ancaman bahaya. Sepekan terakhir, rerata guguran mencapai 30 kali per hari, namun tidak seluruhnya dapat terpantau karena bergantung pada kondisi cuaca.

"Seringnya sih jarak luncuran guguran hanya 200 sampai 300 meter," sambungnya dalam Bisnis.com, Selasa (8/1/2019).

Secara total, aktivitas kegempaan Merapi selama sepekan terakhir yakni 221 kali gempa guguran, 11 kali gempa tektonik, dan 6 kali gempa dengan frekuensi rendah. Gempa embusan tercatat 10 kali, gempa vulkanik dangkal 6 kali, dan 10 kali gempa fase banyak.

Berdasarkan pemantauan deformasi menggunakan electronic distance measurement (EDM) dan global positioning system (GPS) terpantau adanya perubahan morfologi Merapi berupa pertumbuhan kubah lava.

Volume kubah lava per 3 Januari 2019 mencapai 415.000 meter kubik dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 3.800 meter kubik per hari. Pertumbuhan itu masih tergolong rendah dan stabil karena di bawah 20.000 meter kubik per hari.

Berdasarkan pantauan di Pos Pengamatan Gunung Merapi di Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, hujan turun intensif sepanjang pekan ini. Curah hujan tertinggi sebesar 85 milimeter per jam selama 12 menit.

Tidak dilaporkan terjadi lahar maupun penambahan aliran di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi akibat hujan tersebut.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) Ngepos, Heru Suparwaka melaporkan, untuk meteorologi secara umum Gunung Merapi cerah, berawan, dan mendung. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara.

"Suhu udara 19-30 derajat Celcius, kelembapan udara 27,83 persen, dan tekanan udara 839,4-946 milimeter raksa," kata Heru, dalam laporan Republika.

Secara visual, Merapi masih tampak jelas. Kabut yang ada masuk kategori 01, 0-II dan 0-III. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang dan tinggi 10-20 meter di atas puncak.

Masyarakat diminta untuk tidak panik dan tetap beraktivitas seperti biasa. Sebab, erupsi Merapi saat ini cenderung lebih lemah ketimbang tahun lalu.

Foto kolase luncuran lava pijar Gunung Merapi terlihat dari Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Senin (7/1/2019) pagi.
Foto kolase luncuran lava pijar Gunung Merapi terlihat dari Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Senin (7/1/2019) pagi. | Aloysius Jarot Nugroho /AntaraFoto

Aktivitas penerbangan dari dan menuju Yogyakarta masih berlangsung normal. Peringatan penerbangan akibat erupsi Merapi (Volcano Observatory Notice for Aviation/VONA) masih berwarna hijau alias aman untuk terbang.

Rekomendasi yang dikeluarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigas Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di radius 3 km dari puncak Merapi.

Kegiatan pendakian untuk sementara juga tidak direkomendasikan, kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.

Jika terjadi perubahan aktivitas Merapi yang signifikan, maka statusnya akan segera ditinjau kembali. Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR