PELESTARIAN LINGKUNGAN

Merawat bumi untuk generasi selanjutnya

Eva Bande dan Gunarto mewakili Sedulur Sikep (yang membawa hand bouquet) menerima penghargaan Yap Thiam Hien 2018 di Perpustakaan Nasional Indonesia.
Eva Bande dan Gunarto mewakili Sedulur Sikep (yang membawa hand bouquet) menerima penghargaan Yap Thiam Hien 2018 di Perpustakaan Nasional Indonesia. | Agustina Rasyida /Beritagar.id

Bukan perkara mudah merawat lingkungan di Indonesia. Setidaknya hal tersebut dialami oleh Sedulur Sikep di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Penolakan komunitas Sedulur Sikep atas rencana pembangunan pabrik semen telah berlangsung lama, medio 2000. Bermula ketika PT Semen Gresik (sekarang PT Semen Indonesia) berencana membangun pabrik di Kabupaten Sukolilo, Pati, yang saat itu menjadi lahan pertanian warga desa. Selain itu, PT Semen Gresik juga akan dibangun di Rembang, PT Vanda Prima Lisri di Grobogan, dan PT Imasco Tambang Raya di Blora.

Penolakan pabrik semen

Penolakan warga diwujudkan melalui jalur hukum hingga ke tingkat Mahkamah Agung (MA) dan menjalankan protes di depan Istana Negara, Jakarta. Sukinah, Muntiwi, Sutini, Kastuti, dan Surani dari Rembang; Giyem, Ambarwati, dan Ngadinah dari Pati; serta Deni Yuliati dari Grobogan memasung kaki mereka masing-masing di adonan semen.

Kesembilan perempuan ini memprotes pabrik semen yang akan beroperasi di wilayah mereka. Karena pabrik memiliki dampak buruk terhadap lingkungan, kesehatan, dan ekonomi. Sampai saat ini, mereka dan komunitas Sedulur Sikep berjuang agar pembangunan pabrik dibatalkan.

Kawasan Pegunungan Karst Kendeng membentang dari Kabupaten Pati hingga Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, memiliki Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih. CAT tersebut adalah sumber air yang mampu mengalirkan air ke sawah petani yang ada di Kabupaten Rembang, Blora, Pati, dan Grobogan.

Jika pabrik semen berdiri di kawasan Kendeng, dikhawatirkan pabrik akan menggunakan sumber air dan menambang kapur (kapur adalah salah satu bahan baku semen) secara besar-besaran. Akibatnya sumber mata air kering, sawah yang membutuhkan air juga akan kering dan gagal panen, petani akan kehilangan pekerjaan, banjir (batuan kapur yang memfilter air hujan lenyap), dan dampak kesehatan (residu penambangan bisa memperburuk pernapasan sekaligus polusi udara).

Gunarto mewakili Sedulur Sikep mengatakan perjuangan mereka belum selesai. Mereka akan terus berjuang untuk menyelamatkan anak cucu dari kerusakan lingkungan.
Gunarto mewakili Sedulur Sikep mengatakan perjuangan mereka belum selesai. Mereka akan terus berjuang untuk menyelamatkan anak cucu dari kerusakan lingkungan. | Agustina Rasyida /Beritagar.id

Memperjuangkan hak tanah

Selain Sedulur Sikep, ada pula Eva Susanti Hanafi Bande (Eva Bande) yang memperjuangkan hak tanah para petani di Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Eva merupakan aktivis yang membantu petani dalam memperjuangkan lahannya, bahkan ia dan 23 petani dipenjara karena memperjuangkan lahan yang telah dirampas oleh PT Kurnia Luwuk Sejahtera.

Kegiatan Eva tak hanya pada isu agraria. Ia juga aktif dalam pergerakan perempuan. Menurut ibu tiga anak ini, perempuan dan anak adalah kelompok yang paling rentan ketika terjadi konflik dalam bentuk apapun, termasuk konflik agraria. Sehingga ia ingin negara memberdayakan perempuan dan meminta presiden mereformasi agraria.

Atas desakan untuk mengurangi konflik lahan, pemerintah tengah menyiapkan 12,7 juta hektar redistribusi lahan kepada petani, kelompok masyarakat adat, maupun warga di sekitar hutan dalam bentuk TORA (Tanah Obyek Reforma Agraria) dan perhutanan sosial. Pemerintah menargetkan semua tanah di Indonesia sudah bersertifikat pada 2025.

“Keadilan atas tanah adalah hak asasi manusia paling dasar. Dari sanalah segala yang hidup berasal dan kembali,” ujar Eva, Selasa (21/01/2019), Aula Perpustakaan Nasional Indonesia, Jakarta.

Penghargaan Yap Thiam Hien

Perjuangan dalam bidang lingkungan dan agraria tidak bisa dianggap sebelah mata. Untuk itu, Yayasan Yap Thiam Hien memberikan Yap Thiam Hien Award 2018 kepada komunitas Sedulur Sikep dan Eva Bande.

“Keduanya dianggap sebagai sosok yang menjaga dan merawat Bumi Nusantara. Mempertahankan tanah adat dari kerusakan lingkungan serta memiliki keyakinan bahwa tugas manusia menjaga, merawat, dan memanfaatkan alam. Bukan malah merusak apalagi mengubah bentang alam,” kata Yosef Adi Prasetyo, salah satu Dewan Juri Yap Thiam Hien dalam malam penghargaan.

Makarim Wibisono, salah satu Dewan Juri, menambahkan penghargaan ini dapat memberikan energi kepada Sedulur Sikep dan Eva Bande dalam merawat Bumi Nusantara untuk generasi selanjutnya.

Catatan redaksi: Beritagar.id merupakan mitra media acara Yap Thiam Hien 2019
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR