PILPRES 2019

Merebut suara di Medan, menantu jadi jualan

Presiden Joko Widodo berbincang usai menyantap durian di Sibolang Durian, Medan, Sumatera Utara, Sabtu (16/3/2019).
Presiden Joko Widodo berbincang usai menyantap durian di Sibolang Durian, Medan, Sumatera Utara, Sabtu (16/3/2019). | Akbar Nugroho Gumay /Antara Foto

Alunan nada yang dibawakan Daniel di warung durian Si Bolang, Jalan Iskandar Muda, Kota Medan, Sumatra Utara, di luar kendali.

Pengunjung dan warga sekitar yang mendengarnya sontak ramai, ketika lirik dalam sejumlah lagu populer itu diganti dengan kalimat puja-puji. Seperti misalnya lagu "Sayur Kol" yang beberapa liriknya diganti dengan bandara dan jalan tol. Atau kalimat "satu periode lagi" yang diselipkan pada lagu "Anak Medan".

Empat perempuan pramusaji di warung durian tersebut bahkan sempat menari sambil berkeliling dengan durian yang diayun-ayunkan di tangan mereka. Warga bersorak. Pengunjung tak kuasa menahan tawa, termasuk salah satunya calon presiden petahana Joko"Jokowi" Widodo.

Mukanya memerah. Berulang kali Jokowi menunduk menahan tawa sambil menghapus air kegelian di matanya. Begitu juga Iriana Jokowi. Meski, pada saat lagu "Maumere" dimainkan, Iriana tak sungkan menggoyangkan tangannya bersama besan dan ibu-ibu lainnya.

Hiburan ini tak masuk agenda, sebut salah seorang protokol kepresidenan. Namun, Daniel tetap dibiarkan bernyanyi. Pasukan pengaman presiden (paspampres) pun tak bisa membendung keramaian Sabtu (16/3/2019) sore itu. Malah, beberapa di antara mereka tak segan bernyanyi pun ikut berjoget.

Sore itu adalah hari pertama safari politik Jokowi di Medan. Orang-orang di sekitarnya mafhum, kalau mampir ke Medan, Jokowi pasti menyempatkan diri makan bersama di warung durian. Warung durian "Ucok" biasanya jadi tujuan utama Jokowi. Sayang, ketika itu persediaan durian di Ucok sedang habis, maka tujuan dialihkan ke "Si Bolang".

Selain makan durian, sepanjang hari itu, Jokowi juga dikawal menantu keduanya, Muhammad Bobby Afif Nasution. Padahal beberapa petinggi Tim Kampanye Nasional (TKN) turut hadir di Medan, seperti Moeldoko dan Abdul Karding. Tapi, hanya Bobby yang selalu berada di samping Jokowi.

Bobby jadi modal Jokowi selama di Medan. Saat menghadiri agenda deklarasi Relawan "belUSUkan" Sumut di gedung serbaguna T Rizal Noordin di Medan, Jokowi secara blak-blakan memperkenalkan Bobby kepada para pendukungnya.

"Saya ini sudah menjadi keluarga besar Sumatra Utara, saya kenalkan Bobby. Sini, Bob," kata Jokowi.

Bobby tak menyampaikan sepatah kata pun dalam orasi ayah mertuanya. Pria yang menikahi putri satu-satunya Jokowi itu hanya tersenyum ke arah pendukung. Lamun, reaksi Bobby sepertinya sudah cukup bagi Jokowi.

Pesan yang hendak disampaikannya sudah jelas. "Saya ini sudah jadi keluarga besar Sumut. Kebangetan kalau nanti 17 April 2019 kita kalah, awas, Sumatra Utara," teriaknya.

Sumatra Utara memang basis kemenangan Jokowi. Survei Indo Barometer 26 Mei-2 Juni 2018 menunjukkan bahwa nama presiden yang paling banyak dipilih di provinsi ini adalah Jokowi, dengan 53,9 persen. Sementara Prabowo Subianto hanya 16,5 persen.

Tetapi, jika melongok pada persentase 2014, kemenangan itu tipis. Ketika itu, pasangan Jokowi-Jusuf Kalla berhasil meraih 3.494.835 suara berbanding 2.831.514 suara untuk Prabowo-Hatta Rajasa.

Jika ditelusur dari kabupaten/kota, maka sebenarnya Jokowi tak berhasil merebut suara mayoritas di Medan saat itu. Merujuk hasil rekapitulasi penghitungan suara KPU, pasangan Prabowo-Hatta unggul di Kota Medan dengan 530.243 suara (Jokowi-JK 486.395 suara).

Sementara, ladang suara Jokowi dominan di 20 kabupaten lainnya seperti Tapanuli Tengah, Labuhan Batu Selatan, Nias, Toba Samosir, Humbang Hasundutan, Samosir, dan seterusnya.

Calon presiden Joko Widodo berpidato dalam acara Doa Satukan Negeri di Gedung Serbaguna T Rizal Noordin, Deli Serdang, Sumatera Utara, Jumat (15/3/2019).
Calon presiden Joko Widodo berpidato dalam acara Doa Satukan Negeri di Gedung Serbaguna T Rizal Noordin, Deli Serdang, Sumatera Utara, Jumat (15/3/2019). | Akbar Nugroho Gumay /Antara Foto

Maka Jokowi pun menginstruksikan kader-kadernya untuk bisa "menang tebal", baik di Medan maupun Sumatra Utara secara keseluruhan. "Kita akan menang tebal di Sumatra Utara, tetapi harus kerja keras. Kampanye door to door, karena baliho dan spanduk itu sudah tidak efektif," seru Jokowi disambut yel-yel dari para relawan.

Melawan fitnah masih menjadi andalan dalam narasi kampanyenya. Menurutnya, fitnah-fitnah tersebut menjadi ganjalan terbesar baginya dalam meraih suara mayoritas. Apalagi, survei-survei menunjukkan sebanyak 9 juta pemilih percaya pada hoaks yang bertebaran semasa masa pemilu ini.

Jokowi turut meminta kadernya bergerak lebih agresif dalam memberangus hoaks. Beberapa hoaks yang mengganggunya seperti anggapan penghapusan pendidikan agama di sekolah, larangan azan, hingga melegalkan pernikahan sesama jenis.

Padahal menurutnya, Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia. Oleh karenanya, tiga hal itu tidak mungkin dibiarkan terjadi oleh siapapun presiden yang menjabat kelak.

Menurutnya tak ada cara lain selain menjelaskan langsung kepada masyarakat bahwa hal-hal semacam itu hanyalah hoaks belaka. Sebab jika tidak, bukan tidak mungkin suara untuk calon legislatif, partai, dan calon presiden bisa tergerus akibat hal ini.

"Hoaks, kabar fitnah ini bukan saja di medsos tapi dari door to door. Hati-hati. Saudara tahu ada emak-emak yang hoaks dari pintu ke pintu? Hati-hati. Ini yang harus dilawan, dilawan, dilawan, dilawan, dilawan," tukas Jokowi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR