Mereka yang menunggu kematian di tangan regu tembak

Petugas membawa peti jenazah terpidana mati Raheem Agbaje Salami untuk dimakamkan di TPU Serayu, Kelurahan Pandean, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Jawa Timur, Rabu, 29 April 2015.
Petugas membawa peti jenazah terpidana mati Raheem Agbaje Salami untuk dimakamkan di TPU Serayu, Kelurahan Pandean, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Jawa Timur, Rabu, 29 April 2015. | Nofika Dian Nugroho /Tempo

Kejaksaan Agung bakal kembali menggelar eksekusi mati terhadap sejumlah terpidana yang sudah divonis mati tidak mengajukan upaya hukum lain. Meski belum ditentukan waktunya, namun disebut pelaksanaan bakal digelar dalam waktu dekat ini. Pelaksanaan eksekusi tahap tiga ini sempat diundur dengan alasan kondisi perekonomian sedang buruk. Menurut Jaksa Agung Prasetyo, eksekusi bakal kembali digelar jika kondisi perekonomian sudah membaik.

Dan kini, Prasetyo memberi sinyal eksekusi tahap tiga itu bakal dilaksanakan. Kata dia, "Persiapan dan koordinasi sudah kita lakukan, tinggal penentuannya hari H-nya. Itu yang belum bisa putuskan."

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar mengungkapkan, regu tembak yang akan bertugas dalam eksekusi mati terpidana mati kasus narkotika jilid III telah disiapkan Mabes Polri sejak sebulan yang lalu.

Menurut Prasetyo, eksekusi mati tahun ini hanya akan dilakukan terhadap para terpidana mati yang sudah punya status hukum tetap. Keputusan ini diambil karena Kejagung hendak menghindari kesalahan atas pelaksanaan eksekusi nantinya.

Beberapa terpidana mati yang sudah mendapat kepastian hukum di antaranya adalah anggota 'Tangerang Nine', gembong narkotik pemilik dan pengusaha pabrik barang terlarang terbesar ketiga di dunia yang berlokasi di Tangerang.

JPNN.com menulis, Mahkamah Agung, Kamis (28/4/2016), menolak peninjauan kembali lima anggota "Tangerang Nine", asal Tiongkok yakni Zhang Manquan, Chen Hongxin, Jian Yuxin, Gan Chunyi dan Zhu Xuxiong.

Terpidana lain yang diduga bakal dieksekusi adalah Suud Rusli. Mantan anggota Marinir yang membunuh Budyharto (Dirut PT Asaba) dan pengawalnya Edy Siyep pada 2003. Juga ada nama Ola Beken. Ola yang mendapat julukan "Ratu Narkoba" ini diduga juga bakal dieksekusi meski pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ia sempat mendapat pengampunan.

Untuk daftar lengkap terpidana mati yang bakal menjalani eksekusi tahap 3 ini, kata Prasetyo, "tunggu dari kami dulu."

Prasetyo hanya memastikan Freddy Budiman dan Mary Jane tidak bakal menjalani eksekusi pada tahap III ini. Freddy tak masuk daftar karena saat ini dia sedang melakukan peninjauan kembali. Sedangkan Mary tidak masuk karena masih dijadikan saksi polisi Filipina atas penipuan, perekrutan tenaga ilegal dan perdagangan manusia di Filipina.

Menurut Prasetyo sepanjang 2015 pihaknya telah mengeksekusi 14 terpidana mati. Tahap pertama dilakukan pada Minggu, 18 Januari 2015. Pada tahap ini ada enam terpidana mati di Nusakambangan dan Markas Komando Brigade Mobil (Mako Brimob) Boyolali, Jawa Tengah.

Keenam terpidana adalah Tommi Wijaya (warga negara Belanda), Rani Andriani (Indonesia), Namaona Denis (Malawi), dan Marcho Archer Cardoso Moreira (Brasil), Tran Thi Bich Hanh (Vietnam) dan Daniel Enemuo alias Diarrsaouba (Nigeria).

Sedangkan eksekusi tahap II dilakukan pada Rabu, 29 April 2015. Ada delapan terpidana mati yang dieksekusi . Mereka adalah Rodrigo Gularte (Brasil), Sylvester Obiekwe Nwolise (Nigeria), Okwudili Oyatanze (Nigeria) dan Martin Anderson alias Belo (Ghana). Selain itu, MGS Zainal Abidin bin MGS Mahmud Badarudin (Indonesia), Rahem Agbaje Salami Cardova (Cardova), Myuran Sukumaran (Australia) dan Andrew Chan (Australia).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR