Merger kampus paceklik mahasiswa

Mentristekdikti Mohammad Nasir (ketiga kiri) meninjau bangunan gedung kampus Universitas Fajar (Unifa), Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (10/8/2017).
Mentristekdikti Mohammad Nasir (ketiga kiri) meninjau bangunan gedung kampus Universitas Fajar (Unifa), Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (10/8/2017). | Dewi Fajriani /Antara Foto

Istilah merger lazim dipakai untuk penggabungan dua atau lebih perusahaan di bawah satu pemilikan. Merger ternyata dapat berlaku dalam dunia perguruan tinggi di Indonesia, khusus bagi kampus yang paceklik mahasiswa.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir meminta agar perguruan tinggi atau kampus dengan jumlah mahasiswa kurang dari 1.000 untuk menggabungkan diri atau merger dengan kampus lain. Kemristekdikti menargetkan pada 2019, bisa menggabungkan setidaknya 1.000 perguruan tinggi.

"Kampus yang jumlah mahasiswanya kurang dari 1.000 wajib merger dengan kampus lainnya," ujar Nasir melalui Antaranews usai memberi kuliah perdana di Universitas Nadhlatul Ulama Surabaya, Surabaya, Senin (4/9/2017).

Nasir mengatakan ada lebih dari 2.000 perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki mahasiswa kurang dari seribu. Kemristekdikti mendorong agar kampus tersebut untuk bergabung dengan kampus lainnya, agar lebih solid dan mampu mewujudkan perguruan tinggi yang berkualitas.

Nasir mengatakan penggabungan itu bertujuan agar perguruan tinggi itu menjadi sehat, karena sebagian besar kampus kecil itu tidak sehat keuangannya.

Sebelum dilakukan merger, kata Nasir, yayasan yang menaungi perguruan tinggi tersebut harus digabung dahulu. Dia memberi contoh perguruan tinggi dibawah naungan Muhammadiyah cukup banyak, namun ternyata tidak satu yayasan.

"Kami juga meminta agar tidak ada konflik yayasan di perguruan tinggi itu, karena berdampak pada kualitas perguruan tinggi itu," kata dia.

Berdasarkan data Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi, total perguruan tinggi yang terdaftar mencapai pada 2017 mencapai 4.529. Dari jumlah itu, mayoritas adalah swasta dan jumlah mahasiswanya kecil.

Direktur Jenderal Kelembagaan Kemristekdikti, Patdono Suwignjo, mengatakan banyaknya perguruan tinggi yang kecil berdampak pada angka partisipasi kasar (APK) perguruan tinggi yang hanya 45 persen.

Angka partisipasi kasar adalah proporsi anak sekolah pada suatu jenjang tertentu terhadap penduduk pada kelompok usia tertentu. Sejak tahun 2007 pendidikan non formal (Paket A, Paket B, dan Paket C) turut diperhitungkan.

Tiongkok memiliki perguruan tinggi lebih sedikit ketimbang dengan Indonesia. Ada 2.824 kampus di Tiongkok yang memiliki jumlah penduduk 1,4 miliar. Meski kampusnya sedikit, angka partisipasi kasar Tiongkok lebih besar daripada Indonesia.

"Perguruan tinggi banyak tapi APK rendah. Salah satunya adalah perguruan tinggi kita banyak yang kecil sekitar 70 persen," kata Patdono. Oleh karena itu, Kemristekdikti mendorong agar perguruan tinggi melakukan penggabungan atau merger, agar menjadi efisien.

Pada 17 Agustus lalu, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi telah melakukan pengelompokan atau klasterisasi perguruan tinggi di Indonesia. Tahun ini ada empat komponen penilaian, yaitu kualitas SDM, kualitas kelembagaan, kualitas kegiatan kemahasiswaan, dan kualitas penelitian dan publikasi ilmiah.

Pengelompokan dilakukan untuk memetakan perguruan tinggi Indonesia sehingga dapat meningkatkan mutu perguruan tinggi. Hasil pengelompokan/klasterisasi itu juga dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk merancang program-program pembinaan dan penguatan perguruan tinggi Indonesia.

Perguruan tinggi dikelompokkan dalam klaster 1 sampai 5. Saat ini telah ada tiga perguruan tinggi Indonesia yang masuk 500 besar dunia yakni Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Indonesia. Ketiga perguruan tinggi tersebut masuk dalam klaster 1 perguruan tinggi Indonesia.

Perguruan tinggi lain yang masuk klaster 1 adalah Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Diponegoro, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Universitas Hasanuddin, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Sebelas Maret, Universitas Andalas, Universitas Pendidikan Indonesia, dan Universitas Padjajaran.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR