Meriam meledak, empat anggota TNI AD tewas

Ribuan prajurit TNI AD berbaris sebelum naik Kapal Republik Indonesia (KRI) Banda Aceh 593 yang akan tinggalkan pelabuhan utama Kota Jayapura, Papua, Rabu (17/5).
Ribuan prajurit TNI AD berbaris sebelum naik Kapal Republik Indonesia (KRI) Banda Aceh 593 yang akan tinggalkan pelabuhan utama Kota Jayapura, Papua, Rabu (17/5).
© Indrayadi TH /ANTARA FOTO

Musibah menimpa satuan Batalyon Artileri Pertahanan Udara Ringan 1/Divisi Infanteri 1 Komando Strategis Angkatan Darat (Yon Arhanud 1/Divisi Infateri 1 Kostrad) TNI yang sedang mengikuti latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Natuna, Kepulauan Riau. Empat anggota TNI Angkatan Darat tewas dan delapan lainnya luka saat mereka melakukan latihan menembak meriam pada Rabu (17/5/2017).

Ledakan terjadi diduga karena kesalahan pada alat di meriam, terjadi kecelakaan yang menyebabkan sejumlah prajurit tadi tewas dan terluka.

Mengutip Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat Brigjen Alfret Denny Tuejeh, JPNN.com menulis peristiwa ledakan itu terjadi sekitar pukul 11.21 WIB. Saat itu meriam giant bow milik Yon Arhanud 1/Divisi Infateri 1 Kostrad yang tengah dipakai untuk latihan menembak mengalami gangguan pada bagian alat pembatas elevasi.

Giant Bow adalah salah satu senjata penangkis serangan udara jarak sedang milik TNI AD. Giant Bow merupakan meriam buatan Tiongkok yang dibeli Indonesia pada 2008.

"Penyebabnya di meriam itu ada pembatas kan, meriam itu kan bisa putar ya. Nah, itu pembatasnya tidak berfungsi," kata Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat Brigjen Alfret Denny Tuejeh seperti dilansir Kompas.com.

Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Mulyono mengatakan, pihaknya saat ini sedang menginvestigasi peristiwa itu. Ia membeberkan, Giant Bow merupakan meriam buatan Tiongkok yang dibeli Indonesia pada 2008. Karena itu, Mulyono mengaku akan mencari tahu penyebab senjata itu macet sehingga menyerang prajuritnya.

"Kan yang lain tidak, yang ini macet. Itu yang sedang kami selidiki. Itu yang kita investigasi," katanya.

Mulyono menambahkan, pihaknya juga akan memeriksa sejumlah saksi yang ada pada kejadian tersebut. Termasuk, prajurit yang mengendalikan senjata.

Berdasar data yang berhasil dihimpun Dinas Penerangan Angkatan Darat, empat prajurit TNI AD yang tewas itu adalah Komandan Baterai (Danrei) Kapten Arh Heru Bayu, Pratu Ibnu Hidayat, Pratu Marwan, dan Praka Edy. Keempatnya meninggal dunia pasca dievakuasi dari lokasi kejadian ke RSUD Natuna.

Sementara delapan prajurit yang terluka dievakuasi ke rumah sakit di Pontianak, Kalimantan Barat. Mereka adalah Serda Alfredo Siahaan, Sertu Blego, Prada Wahyu Danar, dan Pratu Bayu Agung, Pratu Ridai, Pratu Didik, Praka Edi Sugianto, dan serta Pelda Dawid.

Anggota Komisi I DPR TB Hasanuddin mempertanyakan insiden itu. Sebab, kata dia, Giant Bow pabrikan Tiongkok itu masih tergolong baru. "Kita akan meminta TNI untuk menjelaskan di Komisi I, mengapa sebab-sebab itu, nanti hasilnya seperti apa kita lakukan sebuah keputusan yang terbaik," kata Hasanuddin.

Latihan PPRC ini merupakan latihan gladi ke dua. Acara puncak rencananya akan diselenggarakan pada tanggal 19 Mei 2017 mendatang.

Latihan ini disebut gabungan tiga matra dari Angkatan Darat, Laut dan Udara. Presiden Joko Widodo bersama Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dijadwalkan bakal menghadiri puncak acara latihan itu.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.