E-COMMERCE

Milenial pilih Go-Jek walau Grab lebih ramah kantong

Ilustrasi Go-Jek dan Grab.
Ilustrasi Go-Jek dan Grab. | Findracadabra /Shutterstock

Aspek finansial bukan satu-satunya penentu kaum milenial di Indonesia dalam memilih layanan e-commerce berbasis aplikasi. Buktinya, para milenial lebih memilih Go-Jek, walaupun dalam persepsi milenial Grab merupakan aplikasi termurah dengan promosi banyak.

Hal ini terungkap dalam riset “Perilaku dan Preferensi Konsumen Milenial Indonesia terhadap Aplikasi E-Commerce 2019” yang dihelat Alvara Research. Riset dilakukan pada 3 hingga 20 April 2019, menggunakan metode wawancara tatap muka.

Sampel mereka adalah 1.204 orang, lahir pada kurun 1981-1997, tinggal di Jabodetabek, Bali, Padang, DI Yogyakarta, dan Manado.

Go-Jek unggul dalam tiga dari lima kategori mobile e-commerce yang paling diminati milenial, yaitu transportasi, pesan antar makanan, dan pembayaran.

Dalam memberikan layanan transportasi, Go-Jek lebih dikenal. Responden punya kecenderungan untuk menggunakannya lagi.

Di kalangan milenial, Go-Jek sedikit lebih unggul dibanding Grab. Aplikasi karya anak bangsa ini menang dalam hal aspek awareness, penggunaan, dan kesetiaan pelanggan.

Saat para responden ditanya "Hal apa sajakah yang terlintas di benak bila mendengar Aplikasi Go-Jek dan Grab?" jawabannya memperlihatkan fakta menarik.

Grab dianggap sebagai aplikasi yang memiliki banyak promosi (12,1 persen). Sementara, Gojek lebih dianggap sebagai aplikasi yang terkenal (6,5 persen).

Soal persepsi kecepatan dan kemudahan penggunaan, Go-Jek juga mengungguli Grab. Bahkan, menurut mayoritas pengguna kedua aplikasi tersebut, Go-Jek lebih bisa diandalkan daripada Grab.

"Di survei Go-Jek lebih tepercaya dibandingkan Grab dengan angka 44,2 persen, sedangkan Grab 21,4 persen," kata CEO dan Founder Alvara Research, Hasanuddin Ali.

Mayoritas responden (73,7 persen) menganggap Go-Jek adalah pelopor aplikasi pesan antar makanan. Sementara GrabFood hanya 19 persen.

Survei juga menunjukkan, responden berminat menggunakan Go-Food karena mudah digunakan (13,9 persen), lebih cepat (11,2 persen), dan aplikasi termurah (8,8 persen).

Di sisi lain, GrabFood jadi pilihan karena aplikasi termurah (13,3 persen), promosi terbanyak (12,1 persen), dan mudah digunakan (11,7 persen).

Seperti di transportasi, mayoritas milenial juga memilih Gofood karena aspek kualitas layanan. Sementara itu Grabfood Iebih diasosiasikan dengan harga dan promo murah.

Riset ini juga mengungkap Go-Pay adalah aplikasi pembayaran digital yang paling populer. Selain itu ada OVO yang digunakan Grab, Dana, PayTren, dan Link Aja.

Dari aspek awareness, Go-Pay dan OVO hanya terpaut 3,8 persen. Namun, soal top of mind, dan niat menggunakan lagi, Go-Pay dua kali lebih unggul.

OVO lebih dipersepsikan milenial sebagai aplikasi pembayaran (18,8 persen) dibandingkan Go-Pay. Selain itu, OVO juga dipersepsikan lebih mudah digunakan (8,7 persen) dan menawarkan promo (21,7 persen) lebih banyak dibandingkan Go-Pay (12,1 persen). Namun, dalam hal kecepatan dan keamanan, Go-Pay lebih unggul.

Bicara aplikasi belanja, Lazada, Shopee, Bukalapak, dan Tokopedia adalah yang paling populer. Untuk aplikasi pesan tiket dan hotel, Traveloka lah yang paling populer karena dipersepsikan banyak promosi, sementara Tiket.com dipersepsikan mudah digunakan.

"Momentum para milenial--yang notabene digital natives--lebih memilih aplikasi e-commerce buatan Indonesia harus dijaga supaya Indonesia bisa menjadi pemain utama di era ekonomi digital, tidak hanya menjadi pasar. Apalagi, berbagai outlook ekonomi menyebutkan bahwa potensi transaksi e-commerce di Indonesia sangat besar," terang Hasan.

Menurut penelitian ini, perusahaan layanan digital berbasis aplikasi Indonesia mendominasi hampir seluruh kategori layanan ekonomi digital. Dari kategori transportasi, pesan antar makanan, dan belanja, hanya dalam kategori aplikasi belanja saja Indonesia kalah unggul.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR