Milenial pintar kelola uang, tapi tak paham investasi

Petugas melayani pembelian emas logam mulia di Gedung Aneka Tambang, Jakarta, Selasa (8/1/2019). Kamar Dagang dan Industri Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun 2019 bakal membaik dengan kisaran 5,2 persen sampai 5,3 persen seiring dengan upaya peningkatan investasi.
Petugas melayani pembelian emas logam mulia di Gedung Aneka Tambang, Jakarta, Selasa (8/1/2019). Kamar Dagang dan Industri Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun 2019 bakal membaik dengan kisaran 5,2 persen sampai 5,3 persen seiring dengan upaya peningkatan investasi. | Sigid Kurniawan /ANTARA FOTO

Sebanyak 69 persen milenial Indonesia membiarkan uang mereka mengendap di rekening bank alih-alih berstrategi menginvestasikannya demi keuntungan lebih.

Padahal, hampir 80 persen milenial punya rencana anggaran keuangan dan sebagian besar mereka konsisten menabung demi mewujudkannya. Demikian salah satu temuan utama survei Luno, suatu perusahaan global pertukaran aset.

"Temuan survei ini mengindikasikan bahwa kaum milenial Indonesia sebenarnya cukup disiplin dalam rancangan anggaran keuangan mereka. Namun mereka tidak mengetahui bagaimana cara menggunakan uangnya untuk berinvestasi,” ungkap Community Event Lead Luno Indonesia, Debora Valentino Ginting, (11/7).

Survei bertajuk 'The Future of Money' ini menyasar 7.000 responden di sejumlah negara di Eropa, Asia Tenggara dan Afrika dengan 15 persen responden berasal dari Indonesia.

Survei dihelat guna mempelajari sikap terhadap uang. Pun menganalisis perilaku kelompok milenial (23-38 tahun) dalam hal manajemen keuangan, investasi, dan tabungan.

Menurut survei, sebanyak 79 persen kaum milenial Indonesia telah menetapkan anggaran bulanan, dan sekitar 70 persen di antaranya cenderung disiplin mengikuti rencana anggaran tersebut.

Di sisi lain, 20 persen responden tidak berinvestasi sama sekali lantaran sekitar 50 persen milenial mengaku tidak memiliki cukup informasi mengenai cara menggunakan uang mereka.

Meski begitu, survei mencatat terdapat 44 persen kaum milenial berinvestasi, meskipun hanya sekali setiap satu atau dua tahun. Ini menunjukkan milenial Indonesia sebetulnya ingin berinvestasi, tapi bingung memutuskan.

“Keinginan sudah ada, tapi mendapatkannya belum. Jadi mereka enggak tahu harus investasi apa, karena kan di luar sana banyak aset yang bisa dijadikan investasi," jelas Debora.

Selain kurang informasi, kekhawatiran akan sistem perlindungan keamanan dan kurang memanfaatkan teknologi turut mendorong minimnya investasi terutama di platform digital.

Secara global, survei ini membuktikan responden di negara berkembang termasuk Indonesia jauh lebih sadar dan berhati-hati, pun lebih kreatif dalam mengelola, melindungi, dan mengoptimalkan keuangan dibanding responden di negara maju macam Inggris.

Sebanyak 66 persen masyarakat di negara berkembang menabung demi menjaga kesejahteraan keluarga, atau mengamankan dana pendidikan.

Namun, ironisnya, tiga negara Eropa yaitu Prancis, Inggris, dan Italia justru memiliki persentase investasi individu tertinggi. Terutama untuk produk investasi konvensional seperti reksa dana dan saham.

Terlepas dari pasar negara maju memiliki akses langsung terhadap kekayaan, ternyata responden di 3 negara tersebut mengaku berinvestasi lebih didorong keinginan memanfaatkan kemajuan teknologi ketimbang meningkatkan keuntungan.

Fakta itu, kata Marcus Swanepoel, CEO Luno, menunjukkan teknologi juga berperan penting dalam berinvestasi.

Apalagi, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2017 yang diolah laman Kemenpppa, populasi kaum milenial dominan dibanding generasi lain. Yakni mencapai sekitar 88 juta jiwa atau 33,75 persen dari total penduduk Indonesia, dengan jumlah hampir berimbang antara laki-laki dan perempuan.

Sementara itu, hasil proyeksi penduduk Indonesia berdasarkan data BPS tahun 2013, memperlihatkan kenaikan jumlah penduduk dari tahun ke tahun sejak 2010.

BPS menunjukkan milenial di rentang usia 20-34 tahun pada 2019 menyumbang 23,77 persen dari total populasi sebesar 268 juta jiwa. Artinya, hampir seperlima penduduk di Indonesia tahun ini adalah kelompok milenial.

Pada 2020, tahun dimulainya bonus demografi, generasi millennial berada pada rentang usia 20-40 tahun.

Artinya, jika merujuk data BPS dan United Population Fund (UNFPA) yang memprediksi kenaikan jumlah total penduduk Indonesia mencapai 271 juta jiwa di 2020, maka milenial Indonesia tahun depan bakal menempati proporsi terbesar untuk angkatan kerja usia produktif maupun populasi secara menyeluruh. Mereka akan menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.

Menanggapi hal itu, David Low, General Manager Luno untuk wilayah Asia Tenggara, mengatakan sangat penting bagi milenial Indonesia untuk mulai mencari cara menginvestasikan uangnya.

Pun mempelajari lebih lanjut kelebihan dan manfaat dari strategi investasi terstruktur.

"Tidak hanya uang tambahan, melalui investasi mereka juga akan memperoleh kebebasan finansial dalam jangka panjang," ujar David.

Menyoal jenis investasi kekinian yang aman, Debora menyebut mata uang kripto seperti bitcoin merupakan alternatif selain emas atau produk konvensional lain. Ia membantah desas-desus mata uang kripto rawan diretas dan nilainya cenderung tidak stabil.

David menegaskan, beda halnya dengan alat atau platform pertukaran jual beli bitcoin yang rawan diretas, "Sebagai bagian dari teknologi, bitcoin sangat aman, tidak pernah ada cerita di mana bitcoin mengalami peretasan. Karena itulah kita membutuhkan edukasi. Edukasi ke masyarakat untuk memilih wallet atau alat pembayaran, pembelian dan penyimpanan aset kripto yang tepat,” pungkas David.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR