PERANG DAGANG

Minyak mentah AS akhirnya jadi sasaran perang dagang

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam pertemuan di Beijing, Tiongkok, 9 November 2017.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam pertemuan di Beijing, Tiongkok, 9 November 2017. | Roman Pilipey /EPA-EFE

Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok makin jauh dari sabda damai. Mulai hari ini, Minggu (1/9/2019), keduanya sepakat mengenakan tarif tambahan bagi produk-produk yang diimpor dari masing-masing negara.

Tiongkok memutuskan untuk memberlakukan tarif 5 persen atas minyak mentah AS. Pengenaan tarif ini adalah pukulan telak. Sebab, ini pertama kalinya minyak mentah Negeri Paman Sam ini jadi sasaran dari tensi dagang yang berkecamuk sejak setahun silam.

Selain minyak, Tiongkok juga akan mengenakan tarif tambahan sebesar 5 persen dan 10 persen pada 1.717 produk—dari total 5.078 produk—dengan nilai total mencapai AS$75 miliar.

“Amerika Serikat harus belajar bagaimana caranya bertanggung jawab dan berhenti bersikap seperti perisak di sekolah,” sebut pernyataan media Tiongkok, Xinhua.

AS lalu membalas dengan mengenakan tarif 15 persen atas impor produk Tiongkok yang bernilai lebih dari AS$125 miliar, termasuk di dalamnya pengeras suara pintar, headphone bluetooth, dan alas kaki.

Sementara, tarif tambahan 15 persen untuk telepon seluler, komputer, mainan, dan pakaian akan diberlakukan pada 15 Desember 2019.

Besaran bea yang dikenakan ke Tiongkok ini jauh lebih tinggi dari ancaman Presiden Donald Trump yang menyebut akan mengenakan tarif tambahan sebesar 5 persen terhadap produk-produk yang bernilai sekitar AS$550 miliar, bulan lalu.

AS tak berencana berhenti sampai di situ. Kantor Perwakilan Dagang AS, mengutip Reuters, mengaku masih menunggu respons publik atas rencana kenaikan tarif hingga 30 persen atas sejumlah produk Tiongkok dengan bernilai total AS$250 miliar yang saat ini masih dikenakan bea 25 persen.

Pengumpulan respons publik direncanakan berlangsung hingga 15 September 2019.

Trump juga punya gol besar lainnya, yakni mengenakan tarif 15 persen pada seluruh produk impor dari Tiongkok dengan nilai total AS$300 miliar.

Jika golnya berhasil ditembus, maka sejak perang dagang berkecamuk, AS telah mengenakan tarif tambahan kepada produk Tiongkok yang bernilai total AS$550 miliar.

Sejauh ini, Washington telah mengenakan tarif kepada produk-produk Tiongkok yang benrilai total AS$250 miliar demi menekan Beijing agar mengubah kebijakannya dalam memperlakukan kekayaan intelektual, subsidi industri, akses pasar, dan pemaksaan transfer teknologi dari perusahaan AS ke Tiongkok.

Beijing tetap bersikeras bahwa caranya berdagang tak menyalahi norma-norma yang berlaku global. Dalam hal balasan kepada AS, Tiongkok sejauh ini baru mengenakan bea masuk tambahan bagi produk-produk AS yang bernilai total AS$110 miliar.

“Pada tahapan ini sudah sulit untuk melihat apakah akan ada kesepakatan lain, yang baik sekali pun. Hubungan keduanya sudah terlalu kompleks, mulai dari pelarangan Huawei hingga protes Hong Kong,” ucap Julian Evans-Pritchard, ekonom senior di Capital Economics, kepada BBC.

Ketegangan dua negara juga memaksa perusahaan-perusahaan AS untuk mencari perlindungan. Paling baru, Google, merelokasi pabrik ponsel Pixel dari Tiongkok ke Vietnam.

Hal itu dilakukan induk usaha Google, Alphabet Inc., demi menghindari tingginya biaya produksi ponsel di Tiongkok.

Google dengan beberapa mitra perusahaan akan mengalihkan beberapa produksi ponsel Pixel ke pabrik lama Nokia di Vietnam, tepatnya di daerah Bac Ninh. Lokasi itu satu provinsi dengan pabrik Samsung yang beroperasi sejak 10 tahun lalu.

Melalui perpindahan produksi ini Google dapat membangun rantai pasokan yang lebih murah, khususnya di Asia Tenggara. Perpindahan pabrik ini menghindari pajak impor terhadap produk buatan Tiongkok yang bakal ditarik oleh Trump.

Kontras dengan pengenaan tarif, upaya-upaya untuk mencapai kesepakatan yang diinginkan masih akan terus dirajut. Agenda lanjutan pertemuan tim perdagangan dari dua negara dijadwalkan berlangsung pada pertengahan bulan ini.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR