PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Minyak sawit ke Rusia, bebas pajak ke AS

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Joko "Jokowi" Widodo berjabat tangan dalam pertemuan di KTT ASEAN ke-33, Singapura, 14 November 2018.
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Joko "Jokowi" Widodo berjabat tangan dalam pertemuan di KTT ASEAN ke-33, Singapura, 14 November 2018. | Alexei Druzhinin /EPA-EFE

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-33 di Singapura jadi agenda strategis bagi Presiden Joko “Jokowi” Widodo untuk membahas penguatan kerja sama bilateral dengan para kepala negara yang hadir.

Selain dengan kepala negara anggota ASEAN, Jokowi juga menyempatkan berbincang dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence secara terpisah.

Kepada Rusia, Jokowi secara langsung meminta Putin untuk membantu Indonesia mengatasi kampanye hitam terhadap produk minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) yang marak terjadi di Eropa.

“Kami memohon dukungan dan promosi kampanye positif CPO Indonesia,” tutur Jokowi, dikutip dari laman resmi Sekretariat Kabinet RI, Rabu (14/11/2018).

Tidak diketahui respons dari Putin terhadap permintaan tersebut. Namun, Rusia memang memiliki ketergantungan sawit dengan Indonesia. Agustus 2017, Indonesia dan Rusia menandatangani nota kesepahaman terkait pertukaran sebelas pesawat Sukhoi SU-35 dengan sejumlah komoditas perkebunan Indonesia seperti kopi, teh, karet, hingga kelapa sawit.

Nota kesepahaman sebagai tindak lanjut dari kunjungan Jokowi ke Rusia, 2016. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyebut pertukaran ini sebagai misi dagang yang mendukung keberlangsungan diplomasi minyak sawit.

Diplomasi minyak sawit semakin gencar dilakukan pemerintah setelah Uni Eropa melakukan kampanye penghapusan biodesel yang berasal dari kelapa sawit dengan target sampai 2021.

Kendati berpihak energi ramah lingkungan, kampanye ini tetap merugikan Indonesia sebagai salah satu penghasil minyak sawit terbesar di dunia.

Permintaan promosi kampanye positif CPO ini disampaikan Jokowi sebagai bagian dari upaya pemenuhan target perdagangan $5 miliar AS dengan Rusia pada 2020. Angka tersebut meningkat dua kali lipat dibanding nilai perdagangan per 2017 yang mencapai $2,52 miliar AS.

Dari data yang dimiliki Jokowi, perdagangan bilateral Indonesia-Rusia meningkat 14,37 persen pada tahun 2017.

Selain sawit, Jokowi berharap Rusia membantu perundingan dagang Indonesia dengan negara Eropa Timur lainnya. Hal ini lantaran dikarenakan Rusia adalah Ketua Negara-Negara Eropa Timur dan Asia Tengah (EAEU). Jika proposal disetujui, Indonesia menawarkan ekspor produk-produk perikanan dan buah tropis.

“Saya harap Rusia dapat membantu mempercepat keputusan kolektif bagi dimulainya perundingan FTA (free trade agreement) antara Indonesia dengan EAEU. Ini juga menanggapi prosedur pengajuan yang telah kami sampaikan sejak 2017,” sebut Jokowi.

Mitra strategis Asia Tenggara

Pertemuan dengan AS sebenarnya tak ada dalam agenda Jokowi. Merujuk laporan KOMPAS.com, pertemuan Mike Pence dengan Jokowi terjadi atas permintaan mendadak negara adidaya itu.

Merujuk pernyataan Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, permintaan pertemuan ini dilakukan demi memperkuat kerja sama dua negara menyusul peringatan 70 tahun hubungan bilateral dua negara.

“AS juga mengatakan Indonesia adalah teman serta mitra strategis di kawasan Asia Tenggara,” tutur Retno dalam pers rilisnya.

Kesempatan pertemuan itu pun tak disia-siakan. Indonesia kembali meminta AS untuk memberikan fasilitas generalized system of preferences (GSP) bagi produk-produk Indonesia.

GSP merupakan kebijakan pemerintah AS dalam memberikan peluang kepada negara-negara miskin untuk membangun perekonomian di dalam negeri mereka melalui kerja sama perdagangan.

Fasilitas ini termuat dalam Undang-Undang (UU) Perdagangan AS tahun 1974, GSP mendukung pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut melalui pemangkasan tarif masuk produk-produk yang diekspor ke AS.

Presiden Indonesia Joko Widodo (ke-4 kanan) dan Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence (ke-3 kiri) mengadakan pertemuan bilateral di sela-sela KTT ASEAN di Singapura, Rabu (14/11/2018).
Presiden Indonesia Joko Widodo (ke-4 kanan) dan Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence (ke-3 kiri) mengadakan pertemuan bilateral di sela-sela KTT ASEAN di Singapura, Rabu (14/11/2018). | Athit Perawongmetha /AntaraFoto/Reuters

Dengan kata lain, negosiasi ini adalah bentuk lain dari negosiasi Jokowi kepada AS agar tetap memberikan pemotongan tarif impor bagi produk Indonesia. Namun, cara ini dianggap sebagai pendekatan yang tidak akan menimbulkan resistensi bagi AS.

“Presiden menekankan kalau kita memakai pendekatan yang serius mungkin malah akan justru menjadikan situasi yang lebih buruk,” kata Retno.

Klaim Retno, Pence merespons baik permintaan Jokowi ini. Meski tidak langsung menyetujui, namun Pence menyatakan komitmennya dalam hal perdagangan Indonesia-AS yang harus saling melengkapi dan menguntungkan.

“Saya kira pesan bahwa sebuah hubungan perdagangan yang saling menguntungkan itu sangat di-share oleh AS,” sambungnya.

Permohonan pemangkasan tarif impor erat berhubungan dengan ketegangan dagang yang saat ini terjadi di antara AS-Tiongkok. Indonesia turut kena imbasnya. Selain nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus melemah, neraca dagang Indonesia juga terbebani akibat ekspor yang tak optimal.

Diplomasi dagang tak hanya dilakukan Indonesia kepada AS, tapi juga kepada Tiongkok. Sebagai Ketua KTT ASEAN kali ini, Indonesia juga mengajak Tiongkok untuk memperkuat kerja sama di kawasan Indo-Pasifik. ASEAN memandang Tiongkok sebagai mitra potensial bagi peningkatan kerja sama Indo-Pasifik.

“Saya berharap RRT dapat menjadi mitra ASEAN dalam kerja sama sektor maritim di kawasan Indo-Pasifik, termasuk dalam mengatasi keamanan laut di Samudra Pasifik dan Hindia, mengatasi polusi laut, dan mengembangkan kapasitas search and rescue di laut,” sebut Jokowi, dalam lansiran Bisnis Indonesia.

Untuk diketahui, setelah Protocol to Amend the Framework Agreement under ASEAN-China FTA (ACFTA) diteken pada 2002, investasi Tiongkok di ASEAN semakin tumbuh, begitu juga sebaliknya.

Pada 2015, investasi Tiongkok mencapai $8,3 miliar AS atau meningkat 27 kali lipat dibandingkan 2006. Sementara investasi ASEAN di Tiongkok mencapai $7,6 miliar AS, melonjak 123 persen dibandingkan 2006.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR