KECELAKAAN TRANSPORTASI

Misteri penemuan 11 jenazah di Selat Malaka

Kabiddokkes Polda Riau Kombes Pol dr Asmarahadi (tengah) didampingi Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto (kiri) dan Karumkit RS Bhayangkara Polda Riau AKBP drg Fitri Yeni (kanan) menjelaskan perkembangan terkait penemuan sejumlah mayat yang diduga menjadi korban kapal tenggelam di Selat Malaka di wilayah perairan Bengkalis ketika konfrensi pers di Pekanbaru, Riau, Selasa (4/12/2018).
Kabiddokkes Polda Riau Kombes Pol dr Asmarahadi (tengah) didampingi Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto (kiri) dan Karumkit RS Bhayangkara Polda Riau AKBP drg Fitri Yeni (kanan) menjelaskan perkembangan terkait penemuan sejumlah mayat yang diduga menjadi korban kapal tenggelam di Selat Malaka di wilayah perairan Bengkalis ketika konfrensi pers di Pekanbaru, Riau, Selasa (4/12/2018). | Rony Muharrman /AntaraFoto

Tim Disaster Victim Investigation (DVI) bekerja sama dengan INAFIS Rumah Sakit Bhayangkara Kepolisian Daerah (Polda) Riau berhasil mengidentifikasi empat dari 11 jenazah yang ditemukan di perairan Bengkalis, Selat Malaka, Bengkalis, Riau, Jumat (7/12/2018).

Mengutip KOMPAS.com, keempat jenazah diketahui bernama Mimi Dewi (32), Ujang Chaniago (48), Marian Suhadi (24), dan Faisal Ardiyanto (24). Keempatnya sudah diserahkan kepada pihak keluarga.

Penyebab mengapungnya 11 jenazah di perairan Selat Malaka ini masih belum diketahui. Salah satu spekulasi yang dibuat Polda Riau adalah keseluruhan korban merupakan buruh migran ilegal. Kapal yang mereka tumpangi kemungkinan terhempas badai sehingga terguling ke laut.

Spekulasi itu menyasar pada penemuan dua korban selamat, Jamal dan Hamid, pada 22 November 2018. Keduanya ditengarai berada pada kapal yang sama dengan 11 jenazah lainnnya. Keduanya berhasil diselamatkan oleh kapal feri Indomal.

Dua orang ini kemudian dibawa ke Malaysia terlebih dahulu lantaran kapal itu memang tengah menuju ke sana. Setibanya di Malaysia, kapal feri itu kemudian membawa dua orang ini kembali ke Riau, Kamis, 22 November 2018.

Kepada nahkoda Indomal, Jamal dan Hamid mengaku sebagai nelayan yang perahunya karam dihantam oleh gelombang. Mereka juga tidak menjelaskan bahwa adanya korban lain yang turut tenggelam.

Setelah tiba di Dumai, Riau, Jamal dan Hamid kemudian menghilang. Kepolisian pun tengah mencari keduanya untuk mengungkap apakah alibi mereka memiliki keterkaitan dengan temuan jenazah di Selat Malaka.

Hingga kini aparat keamanan juga belum menemukan kapal yang karam, baik milik Jamal dan Hamid maupun yang dinaiki para korban. Di sisi lain, Polda Riau mengaku telah berkoordinasi dengan Polisi Diraja Malaysia terkait kasus ini.

Selain pengakuan Jamal dan Hamid, salah satu keluarga korban juga mengungkap bahwa jenazah yang mengapung di Selat Malaka itu adalah buruh migran ilegal yang hendak kabur dari Malaysia melalui pelabuhan Malaka untuk kembali ke Indonesia.

"Dia (Mimi--korban) cerita ada 19 orang di kapal itu. Perempuannya hanya dua, dia dan anaknya. Kapal itu rencana berangkat jam 12 malam (22 November 2018). Tidak lama kami bercakap-cakap, karena dia takut ketahuan kalau menelepon," kata Anto, abang ipar dari korban bernama Mimi Dewi asal Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, dinukil dari AntaraNews.

Penemuan berawal pada 24 November lalu. Ketika itu, satuan patroli laut menemukan satu jenazah mengapung di lokasi perairan serupa.

Tidak ada identitas yang menyertai dalam penemuan jenazah itu. Jasad kemudian dievakuasi dan dilakukan otopsi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dumai. Hasil visum et revertum menyimpulkan tidak ada tanda kekerasan pada jenazah.

Petugas kemudian berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kota Dumai, lantaran empat hari sejak ditemukan, jenazah itu tak kunjung dijemput oleh pihak keluarga.

Akhirnya mayat dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Dumai.

Berselang satu hari setelah pemakaman, atau tepatnya pada 29 November 2018, Kepolisian Resor (Polres) Bengkalis mendapatkan laporan dari masyarakat terkait penemuan tiga jenazah oleh para nelayan di perairan Bantan, masih di wilayah Selat Malaka.

"Petugas kemudian berkoordinasi dengan Basarnas melakukan evakuasi terhadap mayat tersebut. Dua berjenis kelamin laki-laki dan satu orang perempuan," sebut Kabid Humas Polda Riau Kombes Sunarto, dalam jumpa pers yang dilaporkan Gatra, Selasa (4/12/2018).

Penemuan jenazah kembali terjadi pada Jumat (30/11/2018) siang. Ketika itu satu mayat berjenis kelamin perempuan ditemukan oleh nelayan.

Rangkaian penemuan jenazah di perairan Selat Malaka membuat pihak kepolisian dan Basarnas memutuskan untuk melakukan pencarian lebih lanjut. Hasilnya, pada Sabtu (1/12/2018), ditemukan kembali empat mayat lainnya dengan perincian tiga laki-laki dan satu perempuan.

Pada jasad perempuan turut ditemukan KTP dan paspor dengan nama Maya Karina (37), warga Mentikan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Kendati menemukan kartu identitas, polisi tidak ingin berspekulasi bahwa jenazah itu benar milik Maya. Sebab, setelah dilakukan pengecekan, ternyata alamat yang tertera pada kartu tersebut adalah salah.

Di sisi lain, petugas medis mengaku kesulitan mengidentifikasi jenazah karena jasad yang sudah rusak dan membusuk. Bahkan, ada jenazah yang terhitung sudah 21 hari meninggal dunia. Fakta ini menimbulkan dugaan baru terkait waktu kejadian kecelakaan.

Polda Riau saat ini membuka posko pengaduan orang hilang di RSUD Bengkalis dan RS Bhayangkara Polda Riau untuk memastikan identitas jenazah yang ditemukan cocok dengan kerabat yang mencarinya.

"Jika merasa kehilangan anggota keluarganya untuk dapat segera melapor. Karena lebih cepat lebih baik agar para jenazah dapat teridentifikasi dan segera dikebumikan," sambung Sunarto.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR