PENIPUAN FIRST TRAVEL

Misteri raibnya uang di rekening First Travel

Terdakwa kasus dugaan penipuan dan penggelapan biro perjalanan umrah First Travel, Direktur Utama Andika Surachman (kedua kanan), Direktur Anniesa Hasibuan (kedua kiri), dan Direktur Keuangan Kiki Hasibuan (kiri) menjalani sidang dengan agenda keterangan saksi dari JPU di Pengadilan Negeri Kota Depok, Jawa Barat, Rabu (21/3/2018).
Terdakwa kasus dugaan penipuan dan penggelapan biro perjalanan umrah First Travel, Direktur Utama Andika Surachman (kedua kanan), Direktur Anniesa Hasibuan (kedua kiri), dan Direktur Keuangan Kiki Hasibuan (kiri) menjalani sidang dengan agenda keterangan saksi dari JPU di Pengadilan Negeri Kota Depok, Jawa Barat, Rabu (21/3/2018). | Indrianto Eko Suwarso /ANTARAFOTO

Kasus penipuan dan penggelapan agen perjalanan umrah First Travel menyisakan satu tanya besar tentang aset tersisa yang dimiliki perusahaan itu.

Pasalnya rekening First Travel saat pertama kali dibekukan mencapai Rp7 miliar, namun pada persidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyebut sisa saldo pada rekening perusahaan itu hanya bersisa Rp1,3 juta.

Rasa penasaran itu pun yang membuat Komisi III DPR RI memanggil Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Kiagus Badaruddin, dalam rapat dengar pendapat di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (18/4/2018).

"Ternyata di rekening First Travel itu hanya tinggal Rp1 juta saldonya. Ada beberapa rekening yang Rp300 ribu, Rp500 ribu, tidak ada di atas Rp1 juta. Ini harusnya PPATK dapat berperan memberi informasi ke mana duitnya?" tanya anggota Komisi III DPR, John Kenedy Aziz, dalam detikcom.

Kiagus menjelaskan pihaknya melakukan penelusuran rekening milik First Travel saat laporan penipuan muncul. Saat itu, pihaknya menemukan jumlah uang yang ada pada rekening First Travel sebesar Rp7 miliar.

Dalam prosedur pemeriksaan, PPATK akan mengirimkan notifikasi ke bank terkait untuk melakukan penghentian sementara transaksi selama 5 sampai 15 hari. Setelahnya, hasil penelusuran akan diserahkan kepada penyidik kepolisian.

"Oleh penyidik, rekening (First Travel) itu dibekukan untuk dijadikan bukti oleh pengadilan," ungkap Kiagus.

Kiagus pun menegaskan pihaknya tidak mengetahui jika setelah dibekukan, uang dalam rekening First Travel berkurang secara drastis. Kiagus hanya menambahkan, rekening First Travel yang ditelusuri pihaknya bercampur dengan rekening pribadi, sehingga bisa saja berkurang ketika dipisahkan.

"Makanya tanya ke sana (penyidik) karena yang membuka atau membekukan itu teman-teman di sana. Kami enggak tahu itu Rp7 miliar diapakan," sambung Kiagus.

Isi rekening First Travel menjadi pusat perhatian lantaran di sanalah seharusnya uang dari 63.310 calon jemaah yang batal berangkat ke Tanah Suci berada. Jika setiap orang membayar paket umrah (promo) senilai Rp14,3 juta, maka seharusnya uang di rekening First Travel berjumlah minimal Rp905,33 miliar.

Persoalannya, pada pemeriksaan-pemeriksaan sebelumnya, trio terdakwa penipuan--yang juga bos First Travel--selalu mengaku lupa ke mana saja uang di rekening itu digunakan.

Transaksi Rp6 triliun

Pada salah satu sesi persidangan terhadap trio bos First Travel awal April 2018 lalu, Ernawati, seorang saksi yang berprofesi sebagai Kepala Cabang Bank Mandiri Margonda, Depok, Jawa Barat, mengungkapkan perusahaan itu memiliki 26 rekening di salah satu bank pelat merah itu.

Dua rekening atas nama terdakwa Andika Surachman, yang juga menjabat sebagai Direktur Utama First Travel. Sementara 24 lainnya atas nama PT First Anugerah Karyawa Wisata.

Pada periode 1 Januari 2015 sampai 31 Juli 2017, total transaksi keuangan yang tercatat pada 26 rekening itu mencapai Rp6,3 triliun, dengan perincian dana yang masuk (kredit) Rp3,1 triliun dan aliran dana keluar (debit) sebesar Rp3,2 triliun.

Dari keterangan Ernawati di persidangan, terungkap bahwa Andika memiliki akses tak terbatas dalam menggunakan semua rekening itu. Andika cukup mengirimkan karyawannya ke bank untuk melakukan segala macam transaksi. Transaksi pemindahbukuan bahkan tercatat terjadi setiap hari.

"Dia punya akses prioritas," sebut Ernawati.

Ernawati cukup optimistis menyebut uang yang masuk dalam 26 rekening itu berasal dari setoran calon jemaah.

Selain transaksi harian, Ernawati juga menyebut adanya transfer sebanyak 11 kali dari rekening First Travel kepada Usya Soemiarti Soeharjono yang menetap di London, Inggris, dengan total Rp14,7 miliar pada 9 Juni 2016 hingga 6 Januari 2016.

Belakangan diketahui, Usya adalah seorang rekan kerja First Travel di London, Inggris. Usya pernah hadir dalam persidangan untuk mengonfirmasi soal pembelian Restoran Golden Day oleh Andika dan sang istri, Anniesa Hasibuan.

Masuk pidana pencucian uang

Muhammad Novian, seorang saksi ahli dari PPATK yang dihadirkan JPU pada persidangan Rabu (11/4/2018) menyebut, polah Andika yang sering memindahkan uang dari rekening perusahaan ke rekening pribadinya sudah masuk dalam tindak pidana pencucian uang.

Sebab menurutnya, unsur menyamarkan dan menyembunyikan asal usul kekayaan telah terpenuhi ketika perusahaan menampung dana dalam rekening perusahaan dan memindahkannya ke pribadi.

"Pemindahan ke rekening pribadi semakin menambah kuat motif tindak pidana pencucian uang oleh pelaku. Masyarakat juga akan terkecoh karena upaya menghilangkan jejak asal usul uang tersebut," sebut Novian, dalam KOMPAS.com.

Selain itu, modus ini juga bisa membuat aparat penegak hukum sulit untuk melakukan penyitaan harta kekayaan pelaku. Pada akhirnya, fungsi rekening perusahaan hanya sebagai perlintasan uang nasabah sebelum masuk rekening pribadi.

Tindakan menyembunyikan dan menyamarkan uang hasil kejahatan juga bisa dilakukan dengan membelanjakannya atas nama orang lain. Dalam dakwaannya, JPU menyebut uang para jamaah di rekening First Travel mengalir ke sejumlah rekening pribadi terdakwa.

Beberapa aliran uang rekening First Travel di antaranya untuk membayar gaji karyawan, perjalanan wisata keliling Eropa, membiayai acara Anniesa di London, pembelian hak berusaha restoran di Inggris, pembelian sejumlah kendaraan, dan pembelian sejumlah tas mewah.

BACA JUGA