KEBAKARAN HUTAN

Mitigasi asap jelang Asian Games 2018

Helikopter MI-172 milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan pemadaman kebakaran lahan dari udara ''water boombing'' di Tulung Selapan, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Minggu (22/7/2018).
Helikopter MI-172 milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan pemadaman kebakaran lahan dari udara ''water boombing'' di Tulung Selapan, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Minggu (22/7/2018). | Nova Wahyudi /ANTARAFOTO

Sebanyak enam unit helikopter dikerahkan untuk menjatuhkan bom air di atas lahan seluas 10 hektare (ha) di Kabupaten Rokan Hilir, Riau, Minggu (22/7/2018).

Helikopter dengan tipe MI-172 itu adalah milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang ditugaskan khusus untuk memadamkan lima titik api yang terdeteksi di wilayah tersebut.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru dalam sepekan terakhir mendeteksi adanya 17 titik panas yang mengindikasikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala BMKG Pekanbaru Sukisno mengatakan, 17 titik panas tersebut terdeteksi di enam kabupaten di wilayah pesisir Riau. Dari jumlah itu, ada 12 titik panas yang dipastikan sebagai titik api atau indikasi kuat kebakaran lahan atau hutan dengan tingkat kepercayaan di atas 70 persen.

Mengutip ucapan Sukisno di ANTARA, beberapa titik api di antaranya berada di Rokan Hilir (lima), Rokan Hulu (tiga), Dumai (dua), Siak dan Kampar masing-masing satu titik.

Pada situs pemantauan kebakaran hutan dan lahan yang disediakan sipongi.menlhk.go.id, luas kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2018 (per 23 Juli 2018) seluas 4.666,4 ha. Sedangkan pada tahun 2017 hutan dan lahan yang terbakar mencapai 11.127,5 ha.

Kebakaran hutan dan lahan paling luas terjadi di provinsi Riau hingga mencapai 2.841 ha. Kemudian disusul tiga provinsi lainnya, yakni Kalimantan Barat 571,5 ha, Kalimantan Tengah 451,1 ha, dan Sulawesi Tenggara 254,2 ha.

Meski posisi titik panas Riau tak berdekatan dengan Palembang, Sumatra Selatan, namun dampak dari kabut asapnya membawa kekhawatiran jelang perhelatan olahraga internasional, Asian Games 2018, tiga pekan mendatang.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan, pegelaran Asian Games yang bertepatan dengan musim kemarau bisa memberi risiko pada terjadinya kebakaran hutan pun penyebaran asapnya.

“Ancaman dalam waktu dekat adalah seiring dengan masuknya musim kemarau. TNI-Polri mengupayakan supaya tidak menjadi kebakaran di Sumatra sehingga pelaksanaan Asian Games 2018 bisa berjalan lancar,” kata Hadi, mengutip Kumparan, Senin (23/7/2018).

Pernyataan Hadi senada dengan Kepala Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Bandara SMB II Palembang, Agus Santoso.

“Kondisi cuaca hampir sama dengan 2015. Suhu berkisar 34 derajat. Hanya saja di 2018 curah hujan masih ada, berkisar 20 milimeter. Untuk puncaknya, kami memprediksi akan terjadi pada Agustus sampai September,” kata Agus.

Dengan kondisi seperti ini, lahan-lahan seperti gambut menjadi lebih mudah terbakar dengan sendirinya. Apalagi, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) akan menjadi pelik sebab kemarau yang terjadi sejak awal Juli membuat pertumbuhan awan menjadi sedikit.

Kendati demikian, Agus memastikan BMKG tidak akan angkat tangan begitu saja. “Mungkin nanti kami akan banyak mengintip kondisi awan,” sambungnya.

Langkah antisipasi juga dilakukan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) untuk menghadapi ancaman karhutla. Sebagai bentuk pencegahan dan mitigasi, satgas ini akan dilengkapi alat pantau untuk memantau kondisi hutan dan titik-titik api.

"Jika ada titik api yang ditemukan, maka tim akan segera menuju lokasi untuk memadamkan titik api," sebut Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Syahar Diantono, dalam detikcom, Senin (23/7/2018).

Melihat antisipasi yang dilakukan banyak pihak, Ketua Panitia Penyelenggara Asian Games 2018 (INASGOC) Erick Thohir meyakini dampak karhutla tidak akan memengaruhi jalannya Asian Games. Oleh karenanya, dia meminta masyarakat untuk tidak khawatir atas ancaman tersebut.

"Panitia Asian Games 2018 ini cukup besar, meliputi pihak-pihak seperti BNPB, Basarnas, TNI, Polri dan lain-lain. Dan semuanya sudah turun untuk menanggulangi dan mengantisipasi asap ini," kata Erick dalam lansiran Warta Ekonomi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR