GEMPA DONGGALA

Mitigasi gempa dan tsunami ala Chili

Kapal nelayan tersangkut di bibir dermaga di Chili setelah tersapu tsunami pada 2015.
Kapal nelayan tersangkut di bibir dermaga di Chili setelah tersapu tsunami pada 2015. | Mario Ruiz /EPA

Waktu magrib di Sulawesi Tengah pada Jumat, 28 September 2018, ditandai guncangan berkekuatan 7,4 pada skala Richter yang berpusat di kota pelabuhan Donggala.

Dalam koridor senja pula tsunami melantak kawasan Pantai Talise, sekitar dua kilometer dari pusat Kota Palu bagian utara, dan lebih dari 30 kilometer dari Donggala.

Menyusul dua peristiwa tersebut, sejauh ini lebih dari 800 orang tewas. Sebagian besar karena tersapu air raya yang datang melalui Teluk Palu.

Masalahnya, gempa pada Palu-Koro--sesar kedua terpanjang di Indonesia--itu bersifat geser. Terjadi saat dua lempeng berdekatan bergerak mendatar satu sama lain. Sifat sedemikian membuat kecil kemungkinan tsunami.

Ia berbeda dari pergerakan sesar naik, yang sanggup merangsang gelombang laut hingga 30 meter. Pernah terjadi di Aceh pada 2004. Korbannya ratusan ribu. Lintas negara.

"Tsunami mungkin datang, tapi tak sebesar itu," ujar Jason Patton, seorang ahli geofisika di Humboldt State University, California, Amerika Serikat, dikutip The New York Times, menyatakan kekagetan atas tingkat kekuatan tsunami di Palu. "Tapi, saat peristiwa semacam ini terjadi, kita lebih cenderung menemui hal baru".

Selain tsunami mengejutkan itu--pelbagai video amatir mengenai hantaman gelombang di Palu beredar di berbagai platform media sosial--patut digarisbawahi adalah ketidaksiapan kawasan tersebut dalam menghadapi bencana.

Sutopo Purwo Nugroho, juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mengatakan daerah itu"sering terjadi gempa bumi dan beberapa kali diikuti tsunami yang menimbulkan korban. Lalu, wilayah ini menjadi kawasan perkotaan dengan permukiman padat. Namun,...kemampuan mitigasinya masih sangat minim."

Jumlah penduduk Palu lebih dari 300 ribu jiwa. Provinsi yang menaunginya, yakni Sulawesi Tengah, hanya menyiapkan dana mitigasi bencana hingga 0,1-0,3 persen dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBD).

Dana ideal mitigasi bencana mencapai 1 persen dari total APBD.

"Dana itu bisa dipakai untuk mitigasi struktural. Misalnya kalau ada potensi tsunami, pemerintah bisa membangun sea wall atau tembok pemecah ombak minimal. Tapi ini tidak ada," ujar Wahyu Novyan dari Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Menurut Badan Manajemen Masalah Darurat Amerika Serikat, FEMA, mitigasi merupakan upaya mengurangi jumlah korban jiwa dan bangunan. Caranya, sebisa mungkin meredam dampak bencana.

Mitigasi efektif berkenaan dengan tindakan yang diambil sekarang--sebelum bencana berikutnya melanda--demi mengurangi konsekuensinya di sisi keuangan dan kemanusiaan.

Karena itu, pengetahuan bahwa bencana dapat terjadi kapan saja dan di mana saja penting. Tanpa itu, akibatnya fatal.

Chili boleh ditengok jika bicara mengenai persiapan mengantisipasi bencana. Negara di Amerika Selatan itu dihadapkan dengan kondisi alam mirip Indonesia: rawan bencana.

Seperti Indonesia pula, Chili dilewati 'Cincin Api', jalur alami nyaris berbentuk tapal kuda, yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik sepanjang 40 ribu kilometer. Kawasan Cincin Api merupakan tempat tumbuh banyak gunung api aktif. Pun lokasi subur gempa bumi dunia.

Namun, berkat mitigasi terukur, negeri bekas koloni Spanyol itu kini lebih siap menghadapi gempa bumi.

Misal, pada 2014, goyangan 8,2 pada skala Richter menguji pantai utara Chili dan memicu tsunami serta gempa susulan berkekuatan besar.

Untungnya, mereka sudah menyiapkan diri. Adanya deteksi dini tsunami membuat sekitar sejuta orang dipindahkan ke lokasi aman. Deteksi dini dan persiapan bencana itu merupakan pelajaran yang dipetik dari gempa 2010 yang berkekuatan 8,8 skala Richter dan tsunami yang mengikutinya.

Pada tahun terakhir disebut, guncangan di bumi Chili itu tercatat sebagai terbesar kedua dalam sejarah domestik dan urutan enam secara mondial.

Kemudian, sistem mitigasi Chile kembali diuji pada 2015 ketika gempa berdaya 8,4 dalam skala Richter menggetarkan daerah Coquimbo yang berpenduduk sekitar 150 ribu. Gelombang tsunami setinggi 4,5 meter kemudian menyusul.

Sembilan tewas di daerah itu, dan empat lainnya di lokasi lain.

Bagaimana gempa dengan kekuatan sebegitu, tak memakan banyak korban meninggal?

Sebagian jawabannya, tulis media Inggris, The Guardian, terdapat pada bagaimana pihak berwenang menyiagakan diri.

Pada satu momen, tim penyelamatan dari Peru, El Savador, Amerika Serikat, dan Spanyol tergabung dalam simulasi bertajuk Simex 2015 di Santiago, ibu kota Chili.

Dalam latihan tersebut, digelar pula simulasi jika Chili diguncang gempa 9 skala Richter yang berepisentrum Santiago.

Dan itu bukan latihan sekali jalan. Dalam skala luas, warga dibiasakan melakukan dril evakuasi minimal enam atau tujuh kali setahun. Di seluruh kawasan.

Di luar itu, pemerintah sudah sedia sistem peringatan baru. Dalam kasus Coquimbo, beberapa menit setelah gempa, sirene mengirim raungan. Ambulans, pemadam kebakaran, dan polisi turun mengatur lalu lintas orang. Ada pula petugas yang khusus memaksa para penduduk yang masih bertahan di rumah untuk keluar dan berlari ke arah bukit.

Semua telepon genggam diberondong serangkaian pesan pendek berisi peringatan dini tsunami. Warga juga dianjurkan untuk menjauhi pantai.

Ihwal penting lain adalah membikin standar kekuatan bangunan. Pemerintah membuat aturan ketat yang mensyaratkan bangunan baru untuk bisa bertahan dari gempa berkekuatan 9 skala Richter.

Bangunan dimaksud boleh saja mengalami retak, miring, atau dianggap sudah tak layak huni setelah gempa. Tapi, ia tak boleh roboh.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR