MOBIL LISTRIK

Mobil Anak Bangsa juga garap angkot listrik

Pengendara salah satu mobil angkutan kota (Angkot) melintas di Terminal Bus Terpadu Pulogebang, Jakarta Timur, Jumat (2/8/2019).
Pengendara salah satu mobil angkutan kota (Angkot) melintas di Terminal Bus Terpadu Pulogebang, Jakarta Timur, Jumat (2/8/2019). | Aditya Pradana Putra /AntaraFoto

Laju PT Mobil Anak Bangsa (MAB) makin kencang pasca-penerbitan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Pengembangan Kendaraan Listrik.

Setelah berhasil mengembangkan bus listrik, perusahaan garapan Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn.) Moeldoko ini berambisi membuat angkot (angkutan kota) listrik.

Angkot listrik itu rencananya diberi nama Metropot. Bentuknya seperti mobil niaga ringan, satu ukuran lebih kecil di bawah metromini. Kata Moeldoko, Metropot bakal menggantikan kendaraan umum kota-kota besar yang sudah tua dan tak layak jalan.

“Nanti beberapa kota yang padat, seperti Bogor, Bekasi, Batu, dan Surabaya. Kita persiapkan mengganti angkotnya yang sudah tua,” kata Moeldoko usai salat Jumat di Gedung Krida Bhakti, Jl. Veteran III, Jakarta Pusat, Jumat (23/8/2019).

Moeldoko tak memerinci siapa pemesan berikut spesifikasi angkot listrik itu. Namun, produksinya dipastikan berbarengan dengan pesanan bus listrik, salah satunya dari Perusahaan Penumpang Djakarta (PPD) sebanyak 130 unit.

Dalam nota kesepahaman (MoU), PPD disebut telah memesan total 500 unit bus listrik secara bertahap setiap tahunnya. Bus-bus tersebut rencananya bakal dioperasikan sebagai pengganti armada di rute koridor TransJakarta maupun feeder bus TransJakarta.

Untuk pemesanan perdana, bus listrik diproyeksi bisa selesai produksi pada akhir 2020 sehingga bisa mulai beroperasi pada 2021. Sisa pesanan lainnya, akan melanjutkan dua tahun berikutnya.

Selain memasok bus listrik, MAB juga akan menyediakan suku cadang dan layanan purnajual yang berlaku selama satu tahun.

Adapun proyek perakitan bus dan angkot listrik bakal dipusatkan di pabrik--anak usaha MAB—PT Karoseri Anak Bangsa, di Demak, Jawa Tengah. Sementara, dua pabrik perakitan lainnya yang berada di Subang, Jawa Barat dan Magelang, Jawa Tengah, masih dikembangkan.

Sejauh ini kapasitas produksi di pabrik perakitan mencapai 25 unit per bulan. Tapi, Moeldoko menargetkan mulai tahun depan, produksinya naik menjadi 100 unit per bulan.

“Sekarang sudah mulai produksi, sambil membenahi sarana dan prasarana. tapi jalan terus kita,” kata Moeldoko.

Kendati sudah berhasil merakit sendiri, mantan Panglima TNI itu mengaku bahwa Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) bus dan mobil produksi MAB baru mencapai 40 persen. Sisanya, masih mengandalkan impor.

Ada dua komponen utama yang belum bisa diproduksi dalam negeri; yakni motor dan baterai. Tapi, Moeldoko menargetkan komponen baterai bisa dipasok dari dalam negeri saat pabrik di Morowali, Sulawesi Tengah, rampung pada 2021.

“Untuk motor, kita sedang kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi dalam negeri untuk mengembangkannya,” tukas Moeldoko.

Lantaran bahan bakunya belum 100 persen diproduksi sendiri, maka harga jual bus listrik produksi MAB menjadi tak murah. Rentang harga jual per bus diprediksi mencapai Rp4 miliar sampai Rp5 miliar. Sedang untuk angkot listrik belum diketahui estimasinya.

Pada kesempatan berbeda, Staf Manajemen PT MAB Kelik Irwantono, mengatakan Metropot bakal memiliki desain yang futuristik.

Sebagai tahap awal, angkot listrik ini tidak akan langsung digunakan untuk kebutuhan komersial, melainkan untuk memenuhi pesanan sebuah perusahaan.

“Sekarang ini baru prototipe, tapi bukan untuk dijadikan angkot dulu, nanti akan sebagai mobil komuter di Kebun Binatang untuk CSR (corporate social responsibility) perusahaan gitu,” kata Kelik.

Sejak dikenalkan pertama kali dalam acara Gaikindo Indonesia International Commercial Vehicle Expo (GIICOMVEC) di Jakarta Convention Center (JCC), Maret 2018, MAB mengklaim menerima banyak pesanan dari BUMN dan perusahaan swasta.

Juli 2019, MAB menandatangani Service Procurement Agreement dengan PT Paiton Energy, pemesan bus listrik lainnya.

Perjanjian antara MAB dan PT Paiton Energy menyepakati tiga hal. Pertama, MAB menjual bus listrik sepanjang 12 meter. Kedua, MAB menjual dan memasang pusat pengisian daya (charging station) berkapasitas 120 KW.

Ketiga, MAB akan menyediakan layanan purnajual (after sales service) selama lima tahun kepada konsumennya.

Pada tahap awal, bus listrik MAB akan dipasarkan di Jabodetabek. Sementara untuk kota besar lainnya masih dijajaki.

Moeldoko turut mengamini, untuk saat ini MAB hanya akan berkonsentrasi membuat angkutan umum berbasis listrik, belum merambah hingga kendaraan pribadi bermesin ramah lingkungan lainnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR