Modus eksploitasi anak jalanan di Jakarta terungkap

Anak jalanan dan pengamen bergerombol di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan, Oktober 2006. Polisi menangkap dua tersangka eksploitasi anak-anak di Jakarta Selatan
Anak jalanan dan pengamen bergerombol di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan, Oktober 2006. Polisi menangkap dua tersangka eksploitasi anak-anak di Jakarta Selatan | Gunawan Wicaksono /Tempo

Kepolisian Resor Jakarta Selatan menangkap dua anggota sindikat perdagangan dan eksploitasi anak di Jakarta, Kamis (24/3) petang. Tersangka berinisial NH (43) dan I (35) ditangkap karena terbukti mempekerjakan anak untuk mengemis, mengamen, berjualan koran, dan menjadi joki 3 in 1.

Menurut Kapolres Metro Jakarta Selatan Komisaris Besar Wahyu Hadiningrat mengungkapkan para tersangka beraksi di kawasan Blok M dan Kebayoran Baru. Anak-anak dieksploitasi dengan dipaksa bekerja tiap hari dari pagi hingga sore.

Saat ditangkap, polisi juga mengamankan 17 anak-anak berusia 5-6 tahun. Ditangkap pula delapan 'orang tua' mereka. Saat ini, baru dua orang tua yang telah terbukti melakukan eksploitasi. Sedang enam orang lainnya sampai masih disidik.

Menurut Wahyu, polisi menemukan tiga korban. Tersangka awalnya meminta korban mengaku sebagai anaknya. "Ternyata setelah digali bukan anaknya," ujar Wahyu, seperti dikutip Detik.com.

Kasat Reskrim Polres Jaksel AKBP Audie Latuheru menyatakan, anak-anak itu didoktrin tersangka bahwa mereka adalah anak kandung tersangka. Bahkan, lanjut Audie, ada satu anak yang hingga kini belum diketahui siapa orangtua kandungnya. "Setelah kami lakukan pendekatan-pendekatan, baru dia mulai terbuka bahwa tersangka bukan orang tuanya," ujar Audie seperti ditulis Detik.com.

Anak-anak itu ada yang berasal dari Jakarta dan luar Jakarta. Mereka dimanfaatkan jadi pengamen, pengemis dan joki 3 in 1. Anak-anak itu ditempatkan di beberapa titik di wilayah Jakarta Selatan, salah satunya kawasan Blok M.

Pengungkapan kasus ini berawal dari adanya laporan masyarakat. Polisi berhasil membekuk para tersangka setelah menyelidiki selama dua bulan. Sementara itu, para anak yang diamankan telah berada dalam perlindungan Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Jakarta Selatan.

Sehari-hari, anak-anak itu dipaksa bekerja dari pagi hingga sore. Jika tidak mau, mereka dihukum. Hukumannya mulai dari pukulan hingga tidak diberi makan. "Miris sekali," kata Wahyu. Ada 17 anak-anak dan delapan dewasa yang ditangkap jajaran Polres Metro Jakarta Selatan. "Salah satu pelaku merupakan ibu kandung korban," ucapnya seperti dikutip dari Liputan6.com.

Untuk enam orang ibu lagi, masih diperiksa polisi. Berdasarkan keterangan sementara dari tersangka, kata Wahyu, keuntungan yang didapat dari hasil eksploitasi para bocah itu sebesar Rp200 ribu. Oleh tersangka, duit itu digunakan buat keperluan sehari-hari seperti membeli kebutuhan pokok dan makan.

Atas perbuatannya, kedua pelaku dijerat pasal 2 UU No 21 tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), pasal 76b UU No 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak dengan ancaman kurungan maksimal 15 tahun penjara.

Kini, 17 anak itu baik kondisinya. Mereka akan mendapatkan perlindungan dan rehabilitasi dari unit PPA Polres Metro Jakarta Selatan. Polisi mengamankan sejumlah barang bukti. Di antaranya sebungkus plastik makanan ringan, uang tunai, dua unit ponsel genggam, foto, dan rekaman suara. Polisi masih mendalami kasus ini. Apakah ada anak-anak lain yang jadi korban, atau sindikat lain yang memakai modus serupa.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR