PENINDAKAN KORUPSI

Modus Lucas melarikan Eddy

Pengacara Lucas saat didakwa di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (7/11/2018). Lucas didakwa menghalangi proses penyidikan KPK atas Eddy Sindoro.
Pengacara Lucas saat didakwa di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (7/11/2018). Lucas didakwa menghalangi proses penyidikan KPK atas Eddy Sindoro. | Dhemas Reviyanto /Antara Foto

Pengacara Lucas didakwa menghalangi penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas terdakwa korupsi petinggi Lippo Eddy Sindoro. Dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi di Jakarta, Rabu (7/11/2018) jaksa Abdul Basir menilai Lucas telah melakukan atau turut serta melakukan dengan sengaja mencegah, merintangi, atau menggagalkan penyidikan terhadap tersangka korupsi.

Menurut Abdul, Lucas mengupayakan supaya Eddy masuk dan keluar dari wilayah Indonesia. Padahal, Eddy sudah menjadi tersangka suap panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Edy Nasution.

Abdul menjelaskan, awalnya Eddy menghubungi Lucas dan menyampaikan akan kembali ke Indonesia untuk menjalani proses hukum. Namun, Lucas justru menyarankan agar Eddy membuat paspor palsu negara lain agar terhindar dari proses hukum.

"Atas saran terdakwa, Eddy Sindoro membuat paspor palsu Republik Dominika atas nama Eddy Handoyo Sindoro," ujar jaksa Gina Saraswati saat sidang, seperti dikutip dari Kompas.com.

Dengan paspor palsu ini, pada 5 Agustus 2018 Eddy Sindoro hendak bertolak dari Malaysia ke Bangkok dengan pesawat Thai Airlines. Pihak Imigrasi Malaysia menangkapnya karena ketahuan menggunakan paspor palsu.

Eddy lalu diproses hukum di Malaysia. Pada 16 Agustus, Michael Sindoro, anak Eddy Sindoro memberi tahu Lucas jika ayahnya bersalah dan harus membayar denda 3 ribu ringgit atau penjara 3 bulan. Eddy kemudian membayar denda tersebut.

Eddy kemudian dideportasi oleh Malaysia ke Indonesia menggunakan maskapai Air Asia. Sebelum Eddy tiba di Jakarta, Lucas memerintahkan Dina Soraya, pihak swasta, mengurus kepulangan Eddy tanpa lewat pemeriksaan imigrasi.

Maka, Lucas meminta Dina berkoordinasi dengan petugas bandara. Pada 18 Agustus 2018 Dina meminta Dwi Hendra Wibowo alias Bowo menjemput Eddy, Michael, dan Chua Wee alias Jimmy dengan imbalan Rp250 juta. Ketiganya tiba di bandara Soekarno Hatta, Indonesia pada 29 Agustus 2018.

"(Mereka) langsung melanjutkan penerbangan ke luar negeri tanpa melalui proses imigrasi," ujar jaksa Abdul Basir seperti dipetik dari Liputan6.com. Mereka lalu hendak terbang menuju pesawat Garuda Indonesia tujuan Bangkok. Tapi KPK menangkap mereka pada 1 Oktober 2018.

Atas perbuatannya ini, jaksa menjerat Lucas dengan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nmor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Lucas menyatakan memahami dakwaan yang disodorkan jaksa. Tapi dia menyatakan keberatan dan akan mengajukan eksepsi (keberatan) atas dakwaan tersebut.

"Hasil konsultasi kami dengan penasihat hukum akan ajukan eksepsi terhadap dakwaan," ujar Lucas seperti dipetik dari detikcom. Dia ingin membacakan eksepsi itu dalam agenda sidang Rabu (14/11/2018) depan.

Lucas selama ini dikenal sebagai pengacara moncer dalam urusan pailit. Nahas, saat mengurus kepailitan untuk menghindari peringatan eksekusi (aanmaning), Eddy Sindoro menyuap Rp100 juta buat panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dua tahun lalu. Gara-gara kasus ini Eddy lari keluar negeri dan Lucas malah menyarankannya terus berlari.

BACA JUGA