GRATIFIKASI

Modus Wawan beri mobil dan duit untuk Kalapas Sukamiskin

Terpidana kasus korupsi pengadaan alat kesehatan Pemprov Banten, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, meninggalkan gedung KPK seusai menjalani pemeriksaan di Jakarta, Selasa (8/10/2019).
Terpidana kasus korupsi pengadaan alat kesehatan Pemprov Banten, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, meninggalkan gedung KPK seusai menjalani pemeriksaan di Jakarta, Selasa (8/10/2019). | Indrianto Eko Suwarso /ANTARA FOTO

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan terpidana korupsi penyuapan dan penanganan sengketa Pilkada Tubagus Chaeri "Wawan" Wardana sebagai tersangka gratifikasi perizinan keluar lembaga pemasyarakatan (lapas).

Wawan yang menjadi warga binaan sejak 17 Maret 2015 dengan pidana 7 tahun diduga memberikan satu unit mobil Kijang Toyota Innova Putih kepada eks Kalapas Sukamiskin, Deddy Handoko (DHA); dan uang sebesar Rp75 juta untuk eks Kalapas Sukamiskin periode selanjutnya, Wahid Hussein (WH).

"Pemberian memiliki maksud kemudahan keluar izin lapas dari DHA dan WH saat menjadi Kalapas Sukamiskin. Izin yang didapatkan adalah berobat ke luar lapas dan izin luar biasa," kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (16/10/2019) malam.

Wawan mendapat izin luar biasa pada 5 Juli 2018 dengan dalih menjenguk ibunya yang sakit di Serang, Banten. Pada 16 Juli 2018, Wawan izin berobat ke RS Rosela Karawang.

Wawan diduga tak benar-benar berobat. Merujuk kesaksian Wahid sebagai terdakwa untuk kasus pemberian gratifikasi dari terpidana lainnya, Wawan justru ke RS Hermina Arcamanik, Bandung.

Sesampainya di sana, Wawan berganti ke mobil pribadi dan pergi ke rumah kakaknya sekaligus mantan Gubernur Banten, Ratu Atut; di Suryalaya, Bandung. Kemudian, Wawan pergi ke Hotel Grand Mercure di Bandung untuk menginap bersama seorang teman perempuan.

Wawan pun dijerat Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 UU Tipikor juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Tiga tersangka lain

KPK juga menetapkan Wahid dan Deddy sebagai tersangka yang melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 UU Tipikor juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Selain menerima duit dari Wawan, Wahid diduga menerima satu unit mobil Mitsubishi Pajero Sport seharga Rp500 juta dari Direktur PT Glori Karsa Abadi, Rahadian Azhar (RAZ), seorang mitra koperasi lapas.

Mulanya, Wahid ingin tukar tambah mobil. Ia meminta Rahadian membeli satu unit mobil Toyota miliknya senilai Rp200 juta dan diganti dengan Pajero Sport. Rahadian menyanggupi dan menagih Wahid untuk membayar cicilan Rp14 juta per bulan tapi Wahid menolak dan akhirnya Rahadian yang menanggung beban tersebut.

Rahadian pun ikut dijerat Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 UU Tipikor.

Permainan Wahid tak berhenti sampai di situ. Ia juga diduga secara sepihak membalik nama kepemilikan mobil Toyota Land Cruiser hitam yang semula milik warga binaan menjadi nama pembantu di rumah mertuanya.

"Meski bukan atas nama WH, tapi masih dalam penguasaan WH. Ia tidak melaporkan gratifikasi dalam waktu 30 hari kerja ke KPK," kata Basaria.

Sementara itu, nama lain yang ikut terseret dalam penyidikan pemberian gratifikasi untuk Kalapas Sukamiskin adalah terpidana korupsi Fuad Amin. Namun, kasus ini tak diteruskan karena Fuad meninggal dunia saat penyidikan berlangsung.

"Sehingga KPK akan fokus ke perkara yang melibatkan empat tersangka lainnya," tutup Basaria.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR