Monolog Tan Malaka, dari penolakan ormas hingga jaminan Ridwan Kamil

Aktor Joind Bayuwinanda menampilkan satu adegan pementasan monolog teater Tan Malaka "Saya Rusa Berbulu Merah" pada acara konferensi pers di Aula IFI Bandung, Jawa Barat, Selasa (22/3).
Aktor Joind Bayuwinanda menampilkan satu adegan pementasan monolog teater Tan Malaka "Saya Rusa Berbulu Merah" pada acara konferensi pers di Aula IFI Bandung, Jawa Barat, Selasa (22/3). | Agus Bebeng /Antara Foto

Pementasan monolog Tan Malaka Saya Rusa Berbulu Merah di Bandung mendapat tekanan dari sejumlah organisasi masyarakat (ormas), yang tergabung dalam Forum Masyarakat Anti Komunis (FMAK). Front Pembela Islam (FPI) turut tergabung dalam aliansi itu.

Semula, pementasan akan berlangsung di pusat kebudayaan Prancis, Institut Francaise D'Indonesie (IFI), Bandung, Rabu malam (23/3/2016). Namun, pihak penyelenggara, IFI dan Mainteater --kelompok teater yang berbasis di Bandung-- membatalkan acara sekitar dua jam sebelum pementasan.

Pembatalan dilakukan menyusul tekanan dari FMAK. Namun lokasi acara telanjur didatangi penonton. Merujuk laporan Rappler , pengunjung yang telanjur datang spontan menggelar acara diskusi soal Tan Malaka.

Hal itu memicu kemarahan massa FMAK. Mereka membubarkan acara diskusi yang tengah berlangsung. Teriakan "Bunuh Komunis" dan "Ganyang PKI" terlontar dari massa FMAK. Tempo.co melaporkan, sempat terjadi perang mulut antara massa ormas dengan pihak penyelenggara dan peserta diskusi.

Polisi pun mengerahkan 250 orang personel guna mengamankan gedung IFI, di Jalan Purnawarman, Bandung. Kepolisian juga meminta agar pementasan tidak digelar, dengan alasan keamanan.

Kelompok Mainteater bersama staff IFI Bandung memberikan penjelasan terkait pembatalan pementasan Monolog Teater Tan Malaka "Rusa Berbulu Merah" di IFI Bandung, Jawa Barat, Rabu (23/3).
Kelompok Mainteater bersama staff IFI Bandung memberikan penjelasan terkait pembatalan pementasan Monolog Teater Tan Malaka "Rusa Berbulu Merah" di IFI Bandung, Jawa Barat, Rabu (23/3). | Agus Bebeng /Antara Foto

Silang argumen penyelenggara dan ormas

Anggota FMAK, Dedi Subu, menyebut alasan pembubaran acara itu karena posisi Tan Malaka yang dikenal sebagai tokoh kiri. "Karena komunis itu musuh, kita baca sejarah Tan Malaka itu dari haluan kiri. Jelas dilarang aliran komunis tersebut," kata Dedi, dikutip Merdeka.com . Dedi juga mengatakan 100 anggota FMAK siap membatalkan acara itu.

Di sisi lain, Koordinator Program Budaya IFI Bandung, Ricky Arnold, membenarkan bahwa mereka terpaksa membatalkan acara.

"Pembatalan itu dilakukan bukan karena kami takut atau membenarkan penindasan atas kebebasan berekspresi. Namun lebih karena, kami telah mengundang orang untuk datang dan kami tidak ingin salah satu dari mereka menjadi korban dari kelompok (yang menentang acara)," kata Ricky, kepada The Jakarta Post.

Adapun pihak Mainteater mengatakan bahwa pementasan itu dilakukan guna menghormati Tan Malaka. Menurut mereka, pemikiran Tan Malaka masih relevan dengan situasi Indonesia kekinian.

"Kita perlu meneladani (misalnya): Bagaimana Tan Malaka menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi dan partainya," kata penulis skrip monolog, Ahda Imran.

Di media sosial, netizen menunjukkan solidaritas dan dukungan mereka terhadap pementasan ini. Mereka juga mengutuk tekanan dan pembubaran diskusi yang dilakukan FMAK.

Solidaritas itu datang pula dari akun-akun berpengaruh (berpengikut ribuan), sebutlah @jokoanwar, @ulil, @negativisme, dan lain-lain. Tak heran bila, kata kunci Tan Malaka juga terkatrol di Tren Twitter Indonesia, Rabu malam (23/3).

Digelar dengan jaminan dari Ridwan Kamil

Kamis (24/3), akun Twitter @mainteater, membagikan kabar bahwa pementasan monolog Tan Malaka akan tetap digelar. Akan ada dua pementasan, yang digelar pada pukul 16.00 dan 20.00 WIB, Kamis (24/3).

Kepastian itu didapat setelah adanya jaminan dari Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil. Menurut @mainteater, Ridwan Kamil juga akan turut menyaksikan pementasan ini.

Sejumlah tweeps menyambut antusias kepastian ini.

Adapun Tan Malaka dikenal sebagai salah satu tokoh sayap kiri, yang punya jasa dalam usaha mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Tan Malaka bahkan sudah membuat karya intelektual bertajuk Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia ) pada 1925.

Ia tercatat sebagai salah satu tokoh sentral Partai Komunis Indonesia (PKI) pada era 1920-an. Namun, dirinya berbeda pandangan dengan tokoh-tokoh PKI lainnya, soal pemberontakan terhadap pemerintah kolonial Belanda (1926-1927). Perbedaan itu sekaligus membuatnya menyingkir dari PKI. Di fase selanjutnya, ia dikenal sebagai tokoh sentral Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak).

Kiprah dan jejak perjuangan Tan Malaka juga diakui oleh negara. Dia mendapat gelar Pahlawan Nasional sesuai dengan Keputusan Presiden RI No. 53 yang ditandatangani pada 28 Maret 1963.

Insiden pelarangan ketiga dalam kurun waktu sebulan

Dalam kurun waktu sebulan terakhir setidaknya ada tiga acara kesenian, yang mendapat tekanan dari kelompok-kelompok garis keras dengan alasan macam "menyebar ideologi kiri" dan semacamnya.

27 Februari 2016, hajatan BelokKiri.Fest yang sedianya digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta didemo sejumlah ormas. Karena tekanan itu, pihak penyelenggara akhirnya memindahkan acara dari TIM ke kantor LBH Jakarta.

16 Maret 2016, acara pemutaran perdana film Pulau Buru Tanah Air Beta juga bernasib sama. Semula acara akan diselenggarakan di Goethe Haus, Menteng, Jakarta Pusat. Namun harus dipindahkan ke kantor Komisi Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Pasalnya, kepolisian menolak memberikan izin, setelah hadirnya tekanan dari FPI.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR