Muasal saham perusahaan bir milik Pemprov DKI

Foto sekadar ilustrasi bir, minuman beralkohol yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Bir adalah minuman beralkohol yang diproduksi melalui proses fermentasi bahan berpati tanpa melalui proses penyulingan setelah fermentasi.
Foto sekadar ilustrasi bir, minuman beralkohol yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Bir adalah minuman beralkohol yang diproduksi melalui proses fermentasi bahan berpati tanpa melalui proses penyulingan setelah fermentasi. | Quinn Dombrowski/CC BY-SA 2.0 /Flickr

Pemenang Pilkada DKI 2017 (versi hitung cepat), Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, berjanji akan menjual saham Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta di PT. Delta Jakarta.

Pasalnya, kepemilikan saham di perusahaan produsen bir itu dianggap tak mewakili kepentingan orang banyak. "Banyak banget yang berminat karena perusahaannya untung dan bagus, tapi enggak cocok dimiliki oleh Pemprov. Karena itu bukan hajat hidup orang banyak," ujar Sandi, dilansir detikcom (23/4).

Rencana penjualan saham, kata Sandi, sesuai dengan janjinya semasa kampanye--sudah disampaikan sejak Maret-Juni 2016. Pun, semasa kampanye, Anies Baswedan pernah melontarkan dua alasan pokok di balik gagasan penjualan ini.

"Pertama karena memang konsumsi warga Jakarta terhadap bir juga rendah," kata Anies (24/1). "Kedua, kita ini memproduksi sesuatu yang kita ingin anak-anak kita minum. Ada orang tua ingin anak-anaknya minum bir, enggak ada pasti."

Lantas, dari mana muasal saham milik Pemprov DKI Jakarta di perusahaan bir itu?

Merujuk sejarahnya, Delta Jakarta sudah berdiri sejak 1932 dengan nama Archipel Brouwerij, NV, yang tercatat sebagai perusahaan milik Jerman. Sejak saat itu, Anker jadi salah satu jenama bir kesohor yang diproduksi.

Pada fase awal perang dunia kedua, kendali perusahaan diserahkan kepada Belanda. Pada 1942, beriring dengan pendudukan Jepang, kendali perusahaan berpindah ke negeri matahari terbit itu. Tiga tahun kemudian Belanda kembali menguasainya, beriring kekalahan Jepang dalam perang dunia.

Kondisi berubah pada 1967, ketika saham perusahaan diserahkan ke Pemerintah DKI Jakarta, sesuai dengan Undang-Undang penanaman modal asing No.1/1967.

Kemudian, pada 1970, perusahaan itu resmi menggunakan nama PT. Delta Jakarta. Cerita di balik perubahan nama ini pernah disampaikan Gubernur DKI Jakarta, Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama.

Menurut Ahok, keberadaan perusahaan bir itu merupakan buah kerja Ali Sadikin sebagai gubernur DKI Jakarta (1966-1977). Mulanya, Bang Ali memberi izin pembangunan kasino di kawasan Ancol. Guna menambah semarak, kasino itu menyediakan bir impor dari Filipina dan Belanda.

Belakangan, lahir ide membangun pabrik bir sendiri demi memaksimalkan keuntungan--tak perlu mengimpor. "Jadi Jakarta mengundang perusahaan dari Filipina untuk membangun pabrik bir di sini," kata Ahok, dikutip SindoNews (10 April 2015).

Ketika itulah terjadi perubahan nama perusahaan bir milik Pemprov DKI menjadi PT. Delta Jakarta (1970).

Adapun Bang Ali dikenal dengan ide-idenya mengisi pundi-pundi keuangan ibu kota melalui bisnis kontroversial, macam judi, bir, dan prostitusi. Namun, menurut Ahok, pengoperasian kasino dan pabrik bir itu juga beriring dengan pembangunan infrastruktur untuk kemaslahatan warga ibu kota.

Misalnya, seiring pembangunan kasino didirikan pula puskesmas dan sekolah di Cipinang. Sebelumnya, Bang Ali juga mendirikan Food Station Tjipinang sebagai gudang beras di Cipinang--guna menjaga ketahanan pangan. "Dia (Bang Ali) izinkan (membuat kasino) supaya bisa bangun puskesmas sama sekolah. Enggak ada yang protes," kata Ahok.

Sejak saat itu, bisnis Delta Jakarta moncer. Pada 1984, Delta Jakarta mencatatkan namanya di bursa efek, sekaligus menguatkan posisinya sebagai pemain utama produsen bir di tanah air.

Memasuki era 1990-an, kepemilikan saham mulai beralih ke San Miguel Corporation, perusahaan multinasional asal Filipina. Meski demikian, Pemprov DKI Jakarta tetap menjadi salah satu pemegang saham utama.

Pada 1997, Delta Jakarta memulai ekspansi dan memindahkan fasilitas produksi bir dari Jakarta Utara ke Bekasi, Jawa Barat, dengan fasilitas yang lebih modern dan lebih luas.

Sejauh ini, Delta Jakarta memproduksi pelbagai merek bir, macam Anker Bir, Anker Stout, Carlsberg, San Miguel Pale Pilsen, San Mig Light, San Miguel Cerveza Negra, dan Kuda Putih. Pun ada produksi bir untuk kebutuhan ekspor dengan jenama, Batavia. Tak hanya bir, mereka juga bikin minuman non-alkohol, seperti Sodaku dan Soda Ice.

Catatan dividen Delta Jakarta untuk Pemprov DKI terbilang bagus. Sumbangannya ke kas daerah mencapai puluhan miliar per tahun. Sepanjang 2010-2014 saja, total dividennya untuk Pemprov DKI mencapai Rp203,64 miliar.

Merujuk Laporan Tahunan Delta Jakarta (2015), Pemprov DKI punya saham 26,25 persen di produsen minuman fermentasi bahan berpati itu. Rinciannya, 23,34 persen milik Pemprov DKI, dan 2,92 persen milik Badan Pengelola Investasi dan Penyertaan Modal DKI Jakarta (BP IPM Jaya).

Adapun sisa saham Delta Jakarta dimiliki San Miguel Malaysia (L) Pte, Malaysia sebesar 58,33 persen, dan publik sebesar 15,41 persen.

Sepanjang Ahok menjabat gubernur, Pemprov DKI Jakarta berkomitmen tidak menjual saham Delta Jakarta, sebab performanya dinilai "sangat-sangat bagus".

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR