CUACA EKSTREM

Musim kemarau datang, kemungkinan lebih parah dari 2018

Seorang petani berdiri di tengah sawahnya yang mengalami kekeringan di Desa Kademangaran, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Senin (24/6/2019). Menurut petani setempat, puluhan hektar sawah di daerah itu mengalami puso dan gagal panen akibat kesulitan mendapat pasokan air irigasi sehingga petani mengalami kerugian yang tidak sedikit.
Seorang petani berdiri di tengah sawahnya yang mengalami kekeringan di Desa Kademangaran, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Senin (24/6/2019). Menurut petani setempat, puluhan hektar sawah di daerah itu mengalami puso dan gagal panen akibat kesulitan mendapat pasokan air irigasi sehingga petani mengalami kerugian yang tidak sedikit. | Oky Lukmansyah /Antara Foto

Musim kemarau telah tiba. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau 2019 bakal berlangsung pada periode Juli-Agustus di Pulau Jawa, sementara Sumatra, Sulawesi dan Nusa Tenggara akan terjadi Agustus-September.

Kepala Subbidang Analisis Informasi Iklim BMKG Pusat Adi Ripaldi mengingatkan agar daerah yang pada periode Juni-Agustus tahun lalu mengalami kekeringan untuk lebih waspada lagi pada tahun ini. Musim kemarau kali ini diprediksi lebih kering ketimbang tahun lalu.

Curah hujan, menurut Adi, diperkirakan bakal jauh lebih kecil dibandingkan 20 milimeter per bulan yang terjadi sepanjang kemarau 2018.

Untuk itu BMKG Pemerintah dan masyarakat diimbau segera bersiap dan meningkatkan kewaspadaan untuk menghadapi kemungkinan terjadinya kekeringan yang lebih parah ketimbang tahun lalu.

Peta prakiraan curah hujan Juli 2019.
Peta prakiraan curah hujan Juli 2019. | BMKG

Pada peta yang dirilis BMKG, tampak hampir seluruh daerah di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara bakal mengalami curah hujan rendah. Pun begitu bagian selatan Pulau Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Pusat Analisis Situasi Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan akan terjadi hari tanpa hujan yang ekstrem--lebih dari 60 hari--di kawasan Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Timur.

Sementara Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, dan Papua diprediksi akan mengalami hari tanpa hujan kategori sangat panjang, alias 30-60 hari.

Kemarau pada 2018, menurut data BNPB, menyebabkan kekeringan terjadi di 11 provinsi, 111 kabupaten atau kota, 888 kecamatan, dan 4.053 desa. Sebanyak 4,87 juta jiwa terdampak dan harus mengungsi dari tempat tinggal mereka.

Jawa Barat menjadi provinsi yang terdampak paling parah, dengan 2.292.754 juta jiwa terpaksa mengungsi karena kekurangan air, sementara sawah mengalami puso.

Kali ini, kekeringan di Jawa Barat bahkan telah terjadi sebelum BMKG mengeluarkan peringatan. PikiranRakyat.com (20/6) mengabarkan, sawah seluas 699 hektare yang tersebar di 11 kecamatan di Kabupaten Kuningan telah mengalami kekeringan ringan.

Dinas Pertanian Kabupaten Kuningan menyatakan telah menyiapkan langkah-langkah untuk mengatasi hal tersebut. Menurut Plt. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kuningan, Dodi Nurohmatudin, salah satu langkahnya adalah menyiapkan pompa air, kalau di sekitar daerah tersebut terdapat mata air.

Namun Dodi menyatakan akan sulit jika area yang terdampak kekeringan adalah sawah tadah hujan.

Tahun lalu, penduduk 16 dusun di Kuningan kesulitan air bersih sepanjang kemarau. Untuk mencegah terulangnya hal serupa, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kuningan dan PDAM mulai memonitor kawasan permukiman yang rawan kekeringan. Mereka juga bersiap mengirimkan air bersih secara terjadwal.

Di Kabupaten Blora, Jawa Timur, hingga Selasa (25/6), dari 14 kecamatan yang diketahui rawan kekurangan air, telah 10 kecamatan mengalami kekeringan. BPBD Blora pun telah memulai persiapan administrasi untuk pengiriman air bersih ke daerah tersebut.

Kepala seksi kedaruratan dan logistik pada BPBD Blora, Handoko Suseno, memaparkan mereka telah menyiapkan 1.100 tangki air bersih, atau sekitar 5,5 juta liter air, bertambah dari 500 tangki yang disediakan tahun lalu.

Musim kemarau lebih awal juga terjadi di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Sebanyak 7.000 warga dan 1.000 ternak di lima desa dikabarkan sudah kesulitan mendapatkan air bersih. Sementara 500 hektare lahan pertanian terancam gagal panen.

Selain itu, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat BNPB, Rita Rosita, mengumumkan 102.300 warga di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur telah terpapar dampak kekeringan.

Dikutip Antaranews (23/6), Rita memaparkan lebih dari 85.000 jiwa di 57 desa di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta; 14.523 jiwa di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah; dan 977 jiwa di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, menjadi korban kekeringan.

BPBD masing-masing daerah tersebut, menurut dia, telah mulai bergerak mengirimkan air bersih ke wilayah yang terdampak kekeringan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR