HARGA PANGAN

Musim kemarau picu kenaikan inflasi Agustus

Petani menyiram tanaman timun dengan air yang ditampung dari kubangan di Desa Seuneubok Nisam, Aceh Utara, Aceh, Rabu (10/7/2019).
Petani menyiram tanaman timun dengan air yang ditampung dari kubangan di Desa Seuneubok Nisam, Aceh Utara, Aceh, Rabu (10/7/2019). | Rahmad /Antara Foto

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan bahwa kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, emas perhiasan, uang sekolah, dan tarif sewa rumah menjadi pemicu inflasi pada Agustus 2019 sebesar 0,12 persen.

Ia mengatakan kenaikan harga berbagai komoditas tersebut disebabkan oleh musim kemarau yang berdampak pada berkurangnya luas lahan panen sehingga produksi tanaman pangan menurun. Kemarau panjang menyulitkan masyarakat mendapatkan air bersih di sejumlah wilayah dan minimnya pasokan air memicu gagal panen.

Suharyanto menjelaskan kenaikan harga cabai merah memberikan andil inflasi sebesar 0,1 persen dan harga cabai rawit memberikan andil inflasi sebesar 0,07 persen kepada kelompok bahan makanan pada Agustus 2019. Semuanya karena penurunan suplai di sentra produksi.

"Kenaikan harga cabai merah terjadi karena penurunan suplai di sentra produksi akibat musim kemarau dan menyebabkan kenaikan di 62 kota. Misalnya di Mamuju naik 54 persen dan Kupang naik 14 persen," kata Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/9/2019).

Selain itu, kenaikan harga emas di pasar internasional ikut memberikan andil inflasi sebesar 0,05 persen pada kelompok sandang, karena investasi emas yang relatif aman sedang diburu oleh investor seiring ketidakpastian perekonomian global.

Kemudian, kata Suhariyanto, kenaikan tarif uang sekolah untuk SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi karena tahun ajaran baru ikut memberikan andil terhadap inflasi untuk kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga masing-masing sebesar 0,04 persen, 0,02 persen dan 0,01 persen.

Ia menambahkan kenaikan tarif sewa rumah juga memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,02 persen kepada kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar yang disebabkan oleh kenaikan harga bahan bangunan untuk pemeliharaan rumah.

Meski demikian, terdapat beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga dan menekan laju inflasi pada Agustus 2019. Antara lain tarif angkutan udara karena adanya kebijakan tarif murah di rute dan jam tertentu serta bawang merah, bawang putih, dan tomat sayur karena usai masa panen.

"Penurunan tarif angkutan udara memberikan andil deflasi 0,11 persen di kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan karena kebijakan biaya murah di rute dan jam tertentu. Penurunan ini terjadi di 47 kota, misalnya di Kendari turun 22 persen, kemudian Solo, Maumere dan Mataram 21 persen," ujarnya.

Dengan tingkat inflasi pada Agustus 2019 tercatat sebesar 0,12 persen, maka laju inflasi tahun kalender Januari-Agustus 2019 tercatat sebesar 2,48 persen dan inflasi tahun ke tahun (yoy) sebesar 3,49 persen.

Dari 82 kota Indeks Harga Konsumen (IHK), BPS mencatat sebanyak 44 kota mengalami inflasi dan 38 kota menyumbang deflasi pada periode ini.

Inflasi tertinggi terjadi di Kudus sebesar 0,82 persen. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Tasikmalaya, Madiun, dan Pare-Pare --masing-masing sebesar 0,04 persen.

Sementara itu, menurut BPS, deflasi tertinggi terjadi di Bau-Bau sebesar 2,1 persen dan terendah terjadi di Tegal serta Palopo masing-masing sebesar 0,02 persen.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR