KECELAKAAN TRANSPORTASI

MV Nur Allya diduga tenggelam karena likuefaksi bijih nikel

Sekoci penyelamat milik MV Nur Allya ditemukan oleh tim SAR dari Basarnas di Pulau Obi, Maluku Utara, Jumat (30/8/2019).
Sekoci penyelamat milik MV Nur Allya ditemukan oleh tim SAR dari Basarnas di Pulau Obi, Maluku Utara, Jumat (30/8/2019). | Basarnas

Hari ini, Senin (2/9/2019), tepat 11 hari kapal kargo MV Nur Allya menghilang saat berlayar dari Sagea, Maluku Utara, menuju Morosi, Sulawesi Tenggara. Kapal yang membawa 25 anak buah kapal (ABK) tersebut dilaporkan hilang pada 20 Agustus dan dikhawatirkan telah tenggelam.

Badan SAR Nasional (Basarnas) pada Jumat (30/8) menemukan sekoci penyelamat di Pulau Obi, Maluku Utara, yang berjarak sekitar 200 km dari pelabuhan Weda. Sekoci itu kemudian diidentifikasi sebagai milik MV Nur Allya. Saat ini pencarian terhadap kapal dan para abk masih dilakukan oleh Basarnas dan pihak berwenang lainnya.

MV Nur Allya, yang dioperasikan PT Gurita Lintas Samudera, adalah kapal kargo raksasa dengan kapasitas 52.400 deadweight tonnes (dwt), artinya mampu mengangkut beban hingga 52.400 ton, tidak termasuk berat kapal itu sendiri yang mencapai 8.394 metrik ton.

Saat hilang, kapal buatan perusahaan Jepang Sanoyas Hishino Meiso Corp pada 2002 itu tengah mengangkut bijih nikel. Muatan tersebut memunculkan dugaan bahwa Nur Allya tenggelam karena bijih nikel yang dibawanya mengalami likuefaksi.

Intercargo, asosiasi pemilik kapal kargo kering (dry cargo) internasional, dalam rilis persnya menyatakan penyebab potensial menghilangnya kapal tersebut belum bisa ditentukan dan butuh penyelidikan mendalam dari otoritas Indonesia.

Namun, Intercargo meminta semua pemilik kapal, operator, dan pelaut agar berhati-hati saat menerima muatan berupa bijih nikel dan kargo lain yang berpotensi mengalami likuefaksi.

Karena potensi likuefaksi itulah bijih nikel masuk kategori kargo berisiko tinggi Grup A dalam International Maritime Solid Bulk Cargoes Code.

Likuefaksi--peristiwa yang menjadi populer setelah peristiwa gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah--adalah fenomena berubahnya secara mendadak material solid seperti tanah, contohnya bijih nikel, dari keadaan kering menjadi seperti cairan. Oleh karena itu likuefaksi kerap disebut pembuburan tanah (material).

Ketika benda yang padat tiba-tiba bertingkah seperti cairan, mereka akan bebas bergerak ke sana ke mari dan membahayakan kapal yang tengah berlayar di lautan berombak.

Keseimbangan kapal bisa terganggu dan, yang paling parah, bisa mengakibatkan kapal terguling, lantas tenggelam. Hal itulah yang dikhawatirkan terjadi pada MV Nur Allya.

Mengapa benda padat seperti bijih nikel bisa bertingkah seperti cairan?

Dalam studi yang dirilis pada 2017 (h/t Green Car Congress), Hio Liang Lee dari T&T Salvage Asia--perusahaan penyelamatan kecelakaan laut--memaparkan bahwa kumpulan bijih nikel yang tidak dipadatkan akan membuatnya bebas bergerak terutama jika tekanan air di antara pori-pori intergranular meningkat.

Bijih nikel, walau tampak solid, memang mengandung air. Menurut situs The Maritime Field, bijih nikel diperdagangkan dalam satuan wet metric tonne (wmt). Kandungan air pada setiap bijih nikel bisa mencapai sekitar 30 persen. Sehingga, dalam kargo bijih nikel seberat 55.000 wmt, sekitar 16.000 ton-nya adalah air.

Kandungan air bisa bertambah jika bijih tersebut terpapar hujan atau gelombang lautan. Untuk menghindari kemungkinan itulah bijih nikel biasanya dikapalkan pada musim panas.

Balik lagi ke teori Lee, tekanan air yang meningkat akan mengurangi friksi antara partikel. Melemahnya friksi membuat daya tekan materi itu berkurang, atau hilang, sehingga mereka bertingkah laku seperti cairan kental yang bebas bergerak.

"... Karena dinamika pergerakan di lautan, kargo yang terlikuefaksi itu akan bergerak dan mengalir menuju arah kemiringan kapal, tetapi tidak semuanya akan bergerak kembali ke arah semula (saat kapal berupaya kembali ke posisi semula)," jelasnya.

Akibatnya, muatan akan menumpuk di satu bagian kapal dan bisa membuatnya terbalik.

Ilustrasi apa yang terjadi jika materi muatan kapal kargo mengalami likuefaksi.
Ilustrasi apa yang terjadi jika materi muatan kapal kargo mengalami likuefaksi. | Japan P&I Club /The Maritime Field

Likuefaksi, menurut data The Shipyard, menjadi penyebab tenggelamnya 10 kapal kargo besar dalam satu dekade terakhir. Sementara khusus likuefaksi bijih nikel, menurut Skuld, perusahaan asuransi maritim, menyebabkan tujuh kapal tenggelam sejak 2010.

Peristiwa terbaru terjadi pada 2017, menimpa kapal MV Emerald Star di lautan sebelah utara Filipina, dekat lepas pantai Okinawa, Jepang.

Emerald Star saat itu tengah berlayar dari Buli, Halmahera Timur, Maluku Utara, menuju Lianyungang, Provinsi Jiansu, Tiongkok. Kapal berbendera Hong Kong itu membawa 55.000 ton bijih nikel. Muatan tersebut mengalami likuefaksi dan kapal pun tenggelam. Sebanyak 15 kru berhasil diselamatkan, sementara 11 lainnya dinyatakan hilang.

Hingga berita ini dirilis, belum diketahui apakah MV Nur Allya benar tenggelam karena likuefaksi bijih nikel atau sebab lain.

Beritagar.id telah menghubungi PT Gurita Lintas Samudera yang bermarkas di Jakarta, Senin (2/9) siang, tetapi seorang pegawai kantor hanya menyatakan akan meneruskan pertanyaan yang diajukan kepada pejabat berwenang.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR