INTERNASIONAL

Naik kereta api, Kim Jong-un tiba di Vietnam

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un tampak keluar dari kereta api yang membawanya dari Pyongyang ke Stasiun Dong Dang, Vietnam (25/2/2019). Kim akan bertemu Presiden AS Donald Trump di Hanoi (27-28/2/2019).
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un tampak keluar dari kereta api yang membawanya dari Pyongyang ke Stasiun Dong Dang, Vietnam (25/2/2019). Kim akan bertemu Presiden AS Donald Trump di Hanoi (27-28/2/2019). | STR /EPA-EFE

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden Amerika Serikat Donald akan kembali duduk semeja pada Rabu (27/2/2019). Setelah di Singapura, 12 Juni 2018, pemimpin dua negara tersebut memilih Hanoi, Vietnam, sebanyak tempat pertemuan berikutnya.

Fokus pembicaraan diperkirakan masih soal senjata nuklir Korut dan permintaan mereka agar AS dan sekutunya menghapus, atau setidaknya mengurangi, beragam sanksi yang dijatuhkan kepada mereka.

Namun, sebelum mencermati isi dan hasil pertemuan nanti, ada hal yang menarik perhatian masyarakat terkait pertemuan tersebut--keputusan Kim Jong-un untuk pergi ke Vietnam menggunakan kereta api.

Kim berangkat dari Pyongyang pada Sabtu (23/2) sore dan, dikabarkan The Washington Post, tiba di Stasiun Dong Dang, Lang Son, Vietnam, pada Senin (25/2) pagi.

Setelah itu, rombongan Korut tersebut pindah ke mobil untuk menuju Hanoi. Kim tampak ditemani Kim Yo-jong--adik perempuannya--dan Kim Yong-chol--negosiator utama Korut dalam perbincangan dengan AS.

Perjalanan tidak dilanjutkan ke Hanoi karena lebar rel kereta dari Dong Dang ke Hanoi, berbeda dengan lebar rel yang jadi standar di Korut dan Tiongkok. Cheng Xiaohe, ahli isu Korut dari Renmin University, Tiongkok, kepada The New York Times menjelaskan, pembedaan tersebut dilakukan Vietnam agar tak mudah diinvasi oleh Tiongkok.

Pemerintah Korut tidak menjelaskan mengapa sang pemimpin memilih untuk menggunakan kereta api untuk menempuh jarak lebih dari 4.000 km selama sekitar 65 jam untuk pertemuan penting tersebut. Padahal kalau naik pesawat hanya butuh waktu sekitar tiga jam.

Kim Jong-il, ayah Kim Jong-un, memang terkenal takut naik pesawat. Oleh karena itulah Korut memiliki kereta khusus berwarna hijau dengan garis kuning untuk mengangkut pemimpin mereka. Namun, Kim Jong-un kerap naik pesawat. Bahkan tahun lalu ia ke Singapura menggunakan pesawat maskapai Tiongkok, Air China.

Korut memiliki pesawat kenegaraan jenis Ilyushin Il-62 buatan Rusia. Namun pesawat tersebut telah berusia 38 tahun dan, mengutip The Telegraph, sudah tidak diproduksi lagi sehingga suku cadangnya sulit dicari. Oleh karena itu, keamanan dan kenyamanan bakal menjadi masalah.

Kereta yang ditumpangi Kim, tentu saja, telah dirancang dengan istimewa. Seluruh bodinya dilapisi baja anti-peluru dan banyak sarana hiburan yang tersedia di dalam gerbongnya.

Penggunaan baja anti-peluru tersebut membuat bobot kereta jadi lebih berat, sehingga kecepatan maksimalnya hanya mencapai 60 km/jam. Itulah mengapa butuh waktu lama untuk mencapai Vietnam.

Dipilihnya kereta, menurut para ahli hubungan internasional kepada The Straits Times, kemungkinan juga dikarenakan Kim ingin mengikuti jejak kakeknya, Kim Il-sung, yang pergi ke Hanoi menggunakan kereta api pada 1958 dan 1964.

Selain alasan patriotik itu, beberapa ahli Korea Utara, dalam Business Insider, menganalisis kemungkinan ada perasaan malu dalam diri Kim jika kembali meminjam pesawat dari Tiongkok.

Apapun alasannya, Kim telah tiba di Vietnam dengan selamat dan siap kembali berdialog dengan Trump, yang dijadwalkan mendarat di Hanoi pada Selasa (26/2) sore, langsung dari Washington DC. Trump, tentu saja, naik pesawat terbang Air Force One.

Apa yang akan mereka bicarakan?

Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un saat bertemu di Singapura (12/6/2018). Mereka akan kembali bertemu di Hanoi, Vietnam, pada 27-28 Februari 2019.
Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un saat bertemu di Singapura (12/6/2018). Mereka akan kembali bertemu di Hanoi, Vietnam, pada 27-28 Februari 2019. | Kevin Lim/The Straits Times /EPA-EFE

Isu soal senjata nuklir, menurut BBC, masih akan menjadi topik utama pembicaraan antara Kim dan Trump.

AS dan sekutunya meminta Korut untuk menghentikan program pengembangan senjata nuklir tersebut, sementara Kim sepertinya enggan karena masih merasa terancam oleh AS dan sekutunya.

Soal nuklir ini sebenarnya telah dibahas pada pertemuan di Singapura. Bahkan sebuah dokumen perjanjian soal denuklirisasi dan janji AS untuk melindungi Korut telah ditandatangani mereka. Namun di dalamnya tidak dijelaskan dengan tegas, kapan denuklirisasi akan dilakukan.

Bahkan pada Januari lalu, Direktur Intelijen Nasional AS, Dan Coats, saat berbicara di depan Komite Intelijen Senat AS, menyatakan bahwa meski telah menghentikan uji coba senjata nuklir selama setahun terakhir, Korut diperkirakan tak bakalan menyerahkan senjata tersebut.

Pernyataan Coats tersebut sempat membuat Trump berang. Ia menegaskan, Coats telah meremehkan otoritas presiden yang telah membuka dialog dengan Korut.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR